Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Priyo Suwarno
NEW YORK, SWARAJOMBANG.COM– Badai salju ganas melumpuhkan sebagian besar AS sejak akhir pekan lalu, menewaskan sedikitnya 30 orang, membatalkan ribuan penerbangan, dan memicu pemadaman listrik massal akibat suhu ekstrem hingga -31°C di wilayah utara seperti sekitar Pittsburgh.
Wilayah Timur Laut, termasuk New York, Pennsylvania, dan Massachusetts, dilanda suhu di bawah nol derajat Celsius dengan angin dingin mencapai -31°C pada 26-27 Januari 2026.
Sementara itu, Minneapolis dan Chicago mencatat suhu efektif -27°C serta -14°C karena hembusan angin kencang, dengan gelombang udara dingin Arktik yang diprediksi bertahan hingga akhir minggu.
Presiden Donald Trump menyatakan badai ini sebagai peristiwa “bersejarah” dan menyetujui status darurat federal untuk 12 negara bagian, seperti Carolina Selatan, Virginia, Tennessee, dan Georgia, sejak 24 Januari 2026.
Dalam unggahannya di Truth Social, ia menjanjikan, “Kami akan terus memantau dan berkoordinasi dengan negara bagian yang terdampak. Tetap aman dan hangat.”
Badai ini telah merenggut nyawa setidaknya 29 orang, dengan salju menumpuk hingga 50 cm di utara Pittsburgh.
Lebih dari 10.000 penerbangan dibatalkan di bandara utama seperti New York, Dallas, dan Atlanta, sementara jutaan rumah di Georgia, Texas, serta Tennessee kehilangan listrik.
Cuaca ekstrem membentang 2.100 km dari Arkansas hingga New England, mengganggu lalu lintas, sekolah, dan kegiatan ekonomi.
Prediksi menunjukkan potensi badai tambahan di Pantai Timur akhir pekan ini, meski peristiwa ini belum disebut sebagai yang terburuk dalam 60 tahun oleh sumber terpercaya—klaim semacam itu lebih sering muncul terkait badai Rusia baru-baru ini.
Insiden sebelumnya, seperti badai Buffalo 2022 (34 korban) atau 2016 (salju >60 cm), menunjukkan pola mirip tanpa label ekstrem serupa.
Gangguan Massal
Badai salju ini paling parah mengacaukan rute udara domestik dan internasional, dengan total lebih dari 14.000 penerbangan dibatalkan dalam dua hari (25-26 Januari 2026).
Pada 25-26 Januari saja, sekitar 11.000 penerbangan gagal beroperasi, mendekati rekor masa pandemi Covid-19.
Bandara seperti LaGuardia (New York), Ronald Reagan (Washington DC), dan JFK mengalami penutupan sementara, dengan tingkat pembatalan 80-94%.
Fasilitas di Pantai Timur—Boston, New York, Philadelphia—terpukul hardest akibat salju 50 cm dan angin ribut.
Charlotte Douglas (Carolina Utara) membatalkan 554 penerbangan, sementara Newark Liberty hingga 83%.
American Airlines membebaskan biaya perubahan tiket dan menyediakan penerbangan pengganti, dengan Departemen Perhubungan AS menargetkan pemulihan pada 28 Januari meski tantangan de-icing dan landasan licin masih berlanjut.
Meski data pasti jumlah penumpang terdampak belum dirilis, estimasi menunjukkan jutaan orang terganggu.
Setiap penerbangan komersial rata-rata angkut 100-200 penumpang, sehingga 11.000+ pembatalan harian berpotensi menyulitkan 1-2 juta orang, ditambah ribuan penundaan.
Gangguan juga merembet ke kereta api, bus, dan jalan tol, meski angka penumpang darat belum tersedia.
American Airlines sendiri membatalkan 1.489 penerbangan sambil menawarkan kemudahan rescheduling bagi korban badai.**











