Menu ✖

Mode Gelap

Hukum

Kasus Perkosaan oleh dr. Priguna Tak Bisa Diselesaikan Damai, Ini Alasannya

badge-check


					Kasus Perkosaan oleh dr. Priguna Tak Bisa Diselesaikan Damai, Ini Alasannya Perbesar

Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga

BANDUNG, SWARAJOMBANG.COM- Priguna Anugerah Pratama, dokter peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di RSHS Bandung yang menjadi tersangka pemerkosaan terhadap FH (21), disebut telah berdamai dengan korban.

Menurut kuasa hukumnya, Fredy Rizky Adilya, pihak keluarga korban menerima permintaan maaf dari kliennya. “Klien kami melalui perwakilan keluarga telah bertemu dan menyampaikan secara langsung permintaan maaf kepada korban dan keluarga korban,” kata Fredy kepada tvOnenews, Sabtu (12/4/2025).

Ia menambahkan, telah tercapai kesepakatan damai secara kekeluargaan. Meski demikian, Fredy menyebut kliennya tetap siap menjalani proses hukum. “Termasuk konsekuensi terburuk di dalam hubungan rumah tangganya,” ujarnya.

Baca juga: Ijazah Ditahan Perusahaan, Cak Sholeh Sebut Ada Celah Hukum dan Solusi

Baca juga: Korban Nafsu Priguna Bertambah Dua, Ada yang Masih Muda

Penyelesaian Damai Tak Berlaku dalam Kasus Kekerasan Seksual

Namun, kuasa hukum korban dari Jabar Bantuan Hukum, Debi Agusfriansa, mengkritik langkah publikasi surat damai tanpa menyamarkan identitas FH, yang justru memperburuk kondisi psikologis korban.

Debi menegaskan bahwa penyelesaian damai dalam kasus kekerasan seksual tidak memiliki dasar hukum. “Perdamaian bukan alasan hukum yang bisa membatalkan proses pidana dalam kasus kekerasan seksual. Ini kejahatan luar biasa yang tidak bisa diselesaikan di luar jalur hukum,” tegasnya dalam konferensi pers di Bandung, Sabtu (12/4/2025).

Kasus Berulang, Restoratif Justice Tak Berlaku

Polda Jabar membantah kabar pencabutan laporan oleh korban. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jabar, Kombes Pol Surawan, menegaskan bahwa laporan korban masih diproses dan tidak ada upaya damai.

“Nggak ada. Jadi nggak ada pencabutan laporan korban yang kami proses hukumnya. Damainya juga nggak ada upaya, karena ini perbuatan berulang,” ujar Surawan.

Ia juga mengungkapkan bahwa restorative justice tidak bisa diterapkan dalam kasus ini karena pelaku diduga melakukan tindakan serupa terhadap korban lain. Saat ini, sudah ada tiga laporan tambahan yang masuk terkait dugaan serupa.

“Salah satu perbuatan yang tidak bisa restorative ialah perbuatan berulang,” tegasnya.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Polrestabes Surabaya Tangkap Tiga Anggota DPRD karena Narkoba

30 September 2026 - 19:24 WIB

Ratusan Sopir dan Truk Ancam Menginap di Kantor Gubernur dan Pertamina Surabaya, Belum ada Respon dari Pejabat

30 September 2026 - 19:17 WIB

Usai Putusan MK, YLKI Dorong Label Peringatan Gula, Garam, Lemak

30 September 2026 - 19:03 WIB

Strategi Hub-to-Network: Bagaimana Jet Kecil Scoot Mengubah Peta Ekonomi Bilateral RI-Singapura

30 September 2026 - 18:44 WIB

Mengapa Kompas Buatan Bangsa Tiongkok 241 SM, Menunjuk ke Arah Selatan?

30 September 2026 - 18:28 WIB

Tiga Petugas Damkar Pangkep Gugur dan Empat Luka Berat, Laka Tunggal Saat Berangkat ke Lokasi Karhutla

30 September 2026 - 16:57 WIB

Gempa Magnetudo 4.5 Guncang Aceh Barat Daya, tidak Terjadi Tsunami

30 September 2026 - 16:11 WIB

SAR Temukan Jasad Surono Korban Virgo 8, Dimakamkan di Diwek Jombang

30 September 2026 - 15:45 WIB

Aksi Demo Ratusan Sopir Truk Jalur Frontage Yani Surabaya Lumpuh Total, Tuntut Hapus Barcode Solar

30 September 2026 - 14:46 WIB

Trending di Nasional