Menu ✖

Mode Gelap

Nasional

20 Hari Sebelumnya Karhutla Gambut Bisa Diprediksi

badge-check


					Ilustrasi Perbesar

Ilustrasi

Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya

JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM-Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia, khususnya pada ekosistem gambut, kembali menjadi sorotan tajam. Assistant Professor of Engineering dari University of Nottingham, Prof. Bagus Muljadi, menyatakan secara blak-blakan bahwa karhutla di lahan gambut bukanlah bencana yang datang tiba-tiba, melainkan fenomena alam yang sangat bisa diprediksi secara fisis dan saintifik.

Prof. Bagus menyayangkan sikap regulator yang kerap menganggap karhutla sebagai rutinitas musiman tanpa adanya tindakan mitigasi yang berbasis data.

Kelompok risetnya bahkan telah berhasil merancang program komputer canggih yang mampu memetakan probabilitas risiko kebakaran di Kalimantan.

“Jika Anda melihat ke Instagram saya, hari ini saya mengunggah program komputer yang digunakan oleh grup kami untuk memprediksi di mana kebakaran gambut di Kalimantan akan terjadi, bahkan 20 hari sebelum kebakarannya terjadi,” ungkap Prof. Bagus dalam berbagai kesempatan wawancara juga di akun sosial medianya.

Menurutnya, penanganan karhutla harus bergeser dari sekadar merespons api yang sudah membesar—yang memakan biaya ratusan juta per jam untuk pemadaman—menjadi pencegahan presisi berbasis data teknologi.

Prof. Bagus menilai bahwa metode pengeboman air (water bombing) yang sering diandalkan pemerintah itu memakan biaya sangat mahal, tetapi tingkat keberhasilannya kecil untuk memadamkan bara api di bawah permukaan tanah gambut (smoldering). Oleh karena itu, penggunaan data citra satelit dan pemodelan waktu nyata (real-time) sangat penting untuk mencegat pergerakan api sebelum menyebar.

Bahkan, pengembangan teknologi prediksi kebakaran lahan gambut berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan pembelajaran mesin (Machine Learning) saat ini sedang menjadi tren global di dunia sains internasional.Sebagai catatan, riset yang dipimpin oleh Prof. Bagus Muljadi sendiri sebenarnya merupakan kolaborasi internasional bertajuk PEATFR, yang melibatkan gabungan akademisi dari University of Nottingham (Inggris) bersama kampus top nasional seperti ITB dan IPB.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Jatim Siapkan Peluncuran Trans Jatim Koridor-2 Akhir Oktober 2026

19 Oktober 2026 - 19:15 WIB

Perpres Baru Jamin Ojol Kerja di Banyak Aplikator

19 Oktober 2026 - 19:02 WIB

Ketua Bapemperda Jombang, Kartiyono: Siapkan Roadmap Wisata, Jangan Disimpan di Rak Buku Saja!

19 Oktober 2026 - 18:03 WIB

Warga Banjaragung Ringkus Seorang Pengamen Diduga Bakar Lahan, Kobaran Api Hingga 800 M2

19 Oktober 2026 - 17:04 WIB

Menelisik Akar Terorisme (70): KKK Punya 4 Juta Anggota

19 Oktober 2026 - 16:23 WIB

Peringati Hari Santri, Pemkab Jombang Imbau Kenakan Sarung dan Busana Muslim Empat Hari

19 Oktober 2026 - 11:32 WIB

Minibus Angkut 14 Suporter PSS Sleman Laka di Tol Saradan, 4 Orang Tewas

19 Oktober 2026 - 07:55 WIB

Arab Saudi Umumkan Perpanjangan Masa Penutupan Bandara King Khalid

19 Oktober 2026 - 00:25 WIB

Mundur Dua Tahun, Sertifikasi Halal Oktober 2028

18 Oktober 2026 - 19:57 WIB

Trending di Nasional