Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
SWARAJOMBANG.COM— Pemerintah Cina yang tersentral di ibukota dimulai pada masa pemerintahan Dinasti Han, 200 tahun sebelum kelahiran Yesus Kristus. Kaisarnya berkuasa absolut.
Sebagai Putra Surgawi, ia bertugas memerintah rakyatnya secara adil. Jika dia gagal, maka ada hak suci rakyat untuk melakukan perlawanan.
Sebuah masyarakat bandit rahasia, yang dikenal dari topengnya sebagai Alis Mata Merah berperan menyingkirkan sang raja, ketika perebut kekuasaan Wang Mang mengambil alih tahta kerajaan pada tahun 9 sesudah Masehi.
Mereka menjadi pelopor kelompok perusuh bernuansa mistik lainnya yang terkenal dengan nama Kuda Tembaga dan Shin Besi yang mempercayai pemikiran Taoisme yang berbeda dari agama resmi Konfusianisme. Sama halnya seperti Gnostisiasme merupakan antagonism, perlawanan dari keadaan Kristianisme di bawah penguasa Byzantium.
Taosime merupakan doktrin subversi suci paling awal yang muncul ke permukaan. Manifesto fatalisme ini bersaing dengan keyakinan-keyakinan ekstrem para pemberontak Islam.
“Jangan lakukan apapun” merupakan dalih, “karena surga melakukan semuanya itu.”
Jadi menjadi pasif itu diizinkan. Tetapi yang juga diizinkan adalah perlawanan penuh terhadap tirani. Tidak ada hukum alam menguasai perilaku manusia, karena Jalan Surga tidak tertarik pada apa yang terjadi di bumi.
Sikap itu nampaknya ditegaskan seorang cendekiawan Cina, Lin Tung-chi, “Seorang penganut Tao murni yang khas menjadikan sikap revolusioner sebagai aturannya. Dia tidak bergaul dengan masyarakat. Karena kebanggaannya sebagai seniman, dia berdiri sendiri tanpa sahabat.”
“Dia ditakdirkan untuk menerawang adamua perang dari satu pihak melawan semua pihak dan melawan apa saja. Kerangka pemikiran yang jauh lebih agung itu mungkin tidak terbayangkan.”
Berpatokan pada filsafat yang sangat radikal ini, Kaisar terakhir Dinasti Lao mengasingkan diri dan para selirnya, hamba-hamba beserta karya-karya seninya ke dalam kapal Viking sembari memaklumkan, ‘Biarlah semua benda ini menderita bersama saya, penguasa terakhir dinasti saya.’
Kutukan Allah (Gotterdammerung) penuh mitos ini merupakan produk filosofi suci yang menolak aturan hukum manusia. Prinsip-prinsipnya bakal berperan dalam bunker terakhir Adolf Hitler.
Masyarakat rahasia lainnya bernama Sorban Kuning (Yellow Turban) muncul memecah belah kekaisaran Han di Cina. Para pemberontakan ini memiliki pemimpin kharismatis, Chang Chueh, yang menaklukkan banyak kawasan Cina utara.
Dia diikuti tiga pemimpin bandit yang menjadi Robin Hood yang abadi menjadi pujaan rakyat. Mereka adalah Kwan Yu, Liu Pei serta Chang Fei, yang ditakdirkan untuk melakukan sumpah darah perlawanan dalam sebuah kebun persik.
Upacara inisiasi ini kemudian menjadi basis legendaris masyarakat rahasia Cina masa datang.
Seiring kemunduran kekaisaran Han, agama Budha justru berkembang pesat pada masa pemerintahan berbagai kerajaan penggantinya.
Karena dieksekusi mati, agama justru mengembangkan masyarakat rahasianya sendiri, khususnya Teratai Putih (White Lotus), yang menentang invasi Mongol dari dinasti Yuan.
Pada abad keempat belas, para pemimpin Teratai Putih (White Lotus) berhasil mengambil alih Cina atas nama dinasti Ming, dalam sebuah kampanye dari desa ke kota. Dinasti ini terus bertahan hidup hingga direbut kembali oleh para penerus Manchu dan Chi’ing. (Bersambung)











