Penulis: Yusran Hakim | Editor: Priyo Suwarno
JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM — Kisah Purbaya Yudha Sadewa menjabat sebagai menteri keuanfan, selama 10 bulan 25 hari, berakhir secara tragis.
“Saya putus dulu, katanya ada telepon dari Mensesneg. Tolong dilihat dulu.”
Begitulah kalimat terakhir yang terdengar dari pimpinan rapat sebelum sejarah berubah secara drastis.
Konfirmasi dari lingkungan DPD RI — 14 September 2026 pukul 23.45 WIB
Di ruang rapat Komite IV DPD RI di kompleks parlemen, Senin siang itu, Purbaya Yudhi Sadewa sedang duduk di antara para anggota, tengah mengikuti pembahasan rutin.
Tiba-tiba rapat diinterupsi. Sebuah telepon masuk — dari Sekretaris Kabinet, Prasetyo Hadi. Purbaya diminta mengangkatnya.
Ia berdiri, melangkah keluar ruangan, dan tidak pernah kembali. Pada saat yang hampir bersamaan, di Istana Negara, Suahasil Nazara, wakil Menkeu, dilantik menggantikannya sebagai Menteri Keuangan.
Suasana Horor Pencopotan
Itulah momen viral dan membuat membelalakkan banyak orang. Tidak ada peringatan sebelumnya, tidak ada pertemuan sebelumnya, tidak ada kesempatan untuk berpisah.
Hanya sebuah telepon di tengah rapat, lalu sebuah jabatan selesai.
Netizen menyebutnya momen yang mengerikan sekaligus menggambarkan betapa cepat dan tegasnya keputusan Presiden kali ini.
“Bayangkan, sedang duduk tenang, tiba-tiba dunia berubah dalam satu dering telepon. Tidak ada pamit, tidak ada penjelasan. Itulah kekuasaan,” tulis salah satu warganet yang menyebarkan cerita tersebut.
Cerita ini melengkapi gambaran reshuffle yang terjadi siang tadi.
Presiden Prabowo Subianto memang telah menandatangani Keputusan Presiden, namun Purbaya sama sekali belum mengetahuinya hingga telepon dari Mensesneg meneleponnya di tengah rapat.
Saat ia meninggalkan ruangan, tak lama kemudian berita pelantikan Suahasil Nazara sudah beredar luas.
Tidak ada pernyataan perpisahan dari Purbaya. Tidak ada konferensi pers. Tidak ada penjelasan resmi alasan pencopotannya. Ia begitu saja berhenti seketika, di tengah pekerjaannya.
Sementara itu, di Istana Negara, Suahasil Nazara sudah mengambil sumpah jabatan.
Transisi terjadi begitu cepat, seolah-olah dua realitas berbeda berjalan bersamaan: satu orang masih menjalankan tugas, sementara di tempat lain, orang yang menggantikannya sudah resmi berdiri di posisinya.
Kejadian ini menimbulkan banyak pertanyaan: mengapa begitu mendadak? Mengapa tidak ada pemberitahuan sebelumnya?
Apakah memang itu cara kerja pemerintahan kita sekarang — satu telepon, selesai?
Hingga kini, Istana Negara belum memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai alasan spesifik pergantian ini.
Namun satu hal yang pasti: cerita telepon di tengah rapat itu akan menjadi salah satu kisah paling diingat dari reshuffle kabinet kali ini.
Sebuah pengingat bahwa di dunia kekuasaan, tidak ada yang abadi, dan satu dering telepon pun bisa mengubah segalanya.**











