Menu

Mode Gelap

Nasional

Menelisik Akar Terorisme (55): Kisah Pembantaian 100 Pria dan 5 Wanita Pelancong

badge-check


					Ilustrasi. Foto: ist Perbesar

Ilustrasi. Foto: ist

Penulis: Jacobus E. Lato  |  Editor: Hadi S. Purwanto

SWARAJOMBANG.COM- Kaum Thugs didedikasikan untuk membunuh demi Dewi Kali, namun di luar profesi itu, mereka adalah pilar moralitas keluarga.

Seorang asisten Sleeman benar-benar memberikan penghargaan kepada anggota kultus itu, Makeen Lodhi, karena menjadi orang terbaik yang pernah dikenalnya yang dipercaya “terkait aksi penyelamatan hidup yang terjadi antara seorang anggota Thug yang memberikan tanda dan seorang pelancong dengan barang-barang bawaan yang pantas diambil darinya.

Mereka semua melihat pelancong seperti olahragawan melihat kelinci dan burung dara. Mereka mengenangkan kembali semua tempat olahraga terbaik mereka kemudian mengisahkannya, ketika mereka bisa mengisahkannya, dengan kegembiraan yang sama.”

Intelijen Sleeman dari kalangan informan Thug, disebut dengan “ para pemberi pengesahan” sangat baik, sehingga mampu meramalkan gerakan kelompok-kelompok Thug selama waktu pembunuhan musim dingin.

Pemerintah Inggeris di India menerbitkan tabel-tabel genealogis kultus dan peta-peta kejahatannya.

Sementara itu, para asistennya yang berkebangsaan Eropa, orang-orang sepoy, polisi peronda dan pasukan tidak tetap yang bersenjata mengepung kelompok-kelompok Thug, yang bangga dengan keberhasilan masa lalu mereka mulai bekerja melawan mereka.

Mereka selalu bangga karena menjadi penipu sempurna, yang mampu mengelabui semua pelancong tentang identitas mereka sebenarnya, namun kini merasa seperti burung dara dalam jaringan Sleeman.

Begitu lama mereka menjadi orang-orang yang yakin bisa bersahabat dengan korban-korban prospektif sehingga akhirnya menjadi korban keyakinan diri mereka yang berlebihan.

Kelompok Thug berkembang pesat pada masa Sleeman, khususnya di utara India. Kini mereka bergerak keliling dalam kelompok dua puluh atau tiga puluh orang sehingga mudah menyatu menjadi kelompok-kelompok yang cukup besar untuk membunuh hingga tiga puluh pelancong seketika.

Sikap rakus membawa semakin banyak kaum Thug ke jalan-jalan. Mereka mulai membunuh tanpa membeda-bedakan korban demi keuntungan.

Mereka menjual anak-anak gadis menjadi pelacur dan meninggalkan terlampau banyak saksi hidup dan jenasah-jenasah yang tidak terkubur.

Ketika Feringheea sendiri tertangkap tahun 1813, dia baru saja kembali dari suatu ekspedisi, tempat dia menghadiri pembantaian seratus pria dan lima wanita pelancong.

Namun, Sleeman memang cukup mendukung Feringheea dengan mengajukan pemberian grasi baginya, meski adminstrasi Inggeris enggan mengecualikan pembunuh kenamaan ini.

Dan, Feringheea menukarnya dengan memberikan informasi penting.
Dalam upaya pembasmian kaum Thgus, Sleeman dibantu oleh pengadilan ala Kanguru, yang digunakannya untuk mengadili mereka.

Meski banyak dari mereka dihukum mati atau dipenjara, mereka yang menjadi informannya diberi pengampunan.

Sleeman pun akhirnya mendirikan sekolah-sekolah guna mengajarkan anak-anak mereka ketrampilan tangan yang lain.

Para orangtua melihat pemikiran ini sebagai suatu tindakan yang memalukan, tetapi akhirnya, mereka sendiri bergabung dalam sekolah-sekolah untuk belajar mengenai pembuatan batubata, membangun gedung dan menenun.

Karpet-karpet mereka menjadi begitu terkenal sehingga Ratu Victoria pun membeli satu karpet untuk Puri Windsor, walaupun para agennya telah melenyapkan kaum Thug sebagai ancaman terhadap Pax Britanica,
Thuggee memang kultus pemujaan yang keras pada masa-masa awal sebelum kedatangan Inggris.

Namun ketika diungkapkan kepada publik, dia menjadi sebuah bentuk masyarakat rahasia yang sudah merosot. Mereka yang merampok dan membunuh hanya demi kepentingan agama nyaris tidak dapat dibedakan dari kejahatan umum.

Kepercayaan mereka memang penting bagi mereka, tetapi bisa juga menyimpang. Sepanjang perang suci antara kaum Hindu dan Muslim di India terjadi toleransi agama yang lengkap di antara kaum Thug sendiri. Kaum Muslim yang taat mengadopsi keyakinan Hindu.

Para penganut Thug pun tidak menghina Qur’an atau pemikiran tentang surga. Yang paling menarik, mereka tidak pernah berperan dalam gerakan perlawanan terhadap Inggeris.

Kompromi mereka terhadap perbedaan Hindu dan Muslim memungkinkan mereka menerima bentuk otoritas politis apapun sejauh mereka dapat membunuh demi kepercayaan mereka. (Bersambung)

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

SAR Kerahksn 24 Kapal dan Heli Mencari 5 Jurnalis dan 2 Kru yang Hilang Saat Liputan Erupsi Anak Krakatau

9 September 2026 - 19:33 WIB

Jalan Tol Probowangi Beroperasi Awal 2027

9 September 2026 - 19:25 WIB

Ini Daftar Harga Pangan Nasional, Cabai Rawit Merah Melejit

9 September 2026 - 19:01 WIB

Operasional Tidak Terganggu, Kebakaran Dapur dan Gizi di RSUD Saiful Anwar Malang

9 September 2026 - 17:52 WIB

BMKG Imbau Masyarakat Tenang: Air Pantai Surut dan Gempa Mag 3,8 Terjadi di Sekitar Gunung Anak Krakatau

9 September 2026 - 17:21 WIB

300 Siswa SMP dan MTs di Pati Alami Keracunan MBG

9 September 2026 - 16:34 WIB

Terbongkar di Semarang, 1.5 Juta Batang Rokok Putih Diangkut Truk Tangki Air

9 September 2026 - 11:32 WIB

Rahmat Muhajirin: Elektabilitas Gerindra Naik 14,4 Persen, Bukti Program Presiden Prabowo Diterima Masyarakat

9 September 2026 - 09:39 WIB

Wabup Blora Usulkan SPPG Sumberejo 2 Ditutup Permanen, Tiga Kali Keracunan di SMAN 1 Tunjungan

9 September 2026 - 08:40 WIB

Trending di Nasional