Penulis: Sri Muryanto | Editor: Priyo Suwarno
PATI, SWARAJOMBANG.COM— Setelah Blora, insiden keracunan MBG terjadi di dua sekolah di
Masing masing MTs Negeri 3 Pati dan SMP Negeri 1 Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
Jumlah korban Lebih dari 300 siswa — sekitar 180 siswa MTsN 3 Pati dan 120+ siswa SMPN 1 Gembong.
Gejala sakit perut hebat, mual, muntah berulang, diare, pusing, lemas — beberapa siswa mengalami keringat dingin dan pucat
Evakuasi Puluhan ambulans dari berbagai puskesmas dan RSUD dikerahkan. Siswa dibawa ke Puskesmas Gembong, Puskesmas Jaken, dan RSUD RAA Tjokroaminoto Pati
Penyedia makanan SPPG Gembong — mitra penyalur MBG yang melayani kedua sekolah tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Pati: Luky Pratugas Narimo — membenarkan kejadian, menyatakan pendataan dan penanganan masih berlangsung
Status penyebab Sampel makanan diambil untuk pemeriksaan laboratorium.
Ratusan siswa dari dua sekolah di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, mengalami keracunan massal pada Rabu, 9 September 2026, setelah mengonsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis.
Puluhan ambulans dikerahkan untuk mengevakuasi para siswa ke puskesmas dan rumah sakit terdekat.
Kejadian ini memicu kepanikan luas di kalangan orang tua maupun warga.
Kejadian
Pada Rabu siang sekitar pukul 11.30 WIB, siswa MTs Negeri 3 Pati dan SMP Negeri 1 Gembong menerima dan menyantap makan siang dari SPPG Gembong. Kurang dari dua jam kemudian, tepatnya sekitar pukul 13.00 WIB, siswa mulai mengeluhkan sakit perut secara beruntun.
Dalam waktu singkat, ratusan siswa jatuh sakit bersamaan — muntah, diare, mual, dan lemas.
Situasi di kedua sekolah berubah menjadi panik. Guru langsung menghubungi orang tua dan meminta bantuan medis segera.
Puluhan ambulans dikirim ke lokasi. Siswa dievakuasi secara bertahap ke Puskesmas Gembong, Puskesmas Jaken, dan RSUD RAA Tjokroaminoto Pati.
Video yang beredar di media sosial memperlihatkan barisan siswa berbaris menuju kendaraan kesehatan dalam kondisi lemah, orang tua yang berlari panik menjemput anak-anak mereka, serta kerumunan warga yang berdesakan di depan gerbang sekolah.
Pernyataan Resmi
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, Luky Pratugas Narimo, membenarkan kejadian tersebut dalam keterangannya pada Rabu sore.
“Benar terjadi. Siswa dari dua sekolah mengalami keluhan serupa setelah makan siang.” Kata dia.
“Tim medis sudah di lokasi, pendataan terus dilakukan, dan penanganan kesehatan diberikan kepada semua siswa yang mengalami gejala. Sampel makanan sisa sudah diambil untuk pemeriksaan lebih lanjut.”
Meskipun penyebab pasti belum diketahui, pola gejala yang serentak dan identik pada ratusan siswa yangbersumber dari penyedia yang sama mengarah kuat pada dugaan keracunan makanan.
SPPG Gembong yang menyalurkan makanan ke kedua sekolah tersebut telah diinstruksikan berhenti beroperasi sementara waktu hingga hasil investigasi keluar.
Kesamaan dengan Blora
Hampir berbarengan dengan kasus di Blora yang menimpa SMAN 1 Tunjungan pada awal September, kejadian di Pati menambah daftar panjang insiden keracunan yang dikaitkan dengan program MBG.
Yang paling mengkhawatirkan: kali ini melibatkan dua sekolah sekaligus dari penyedia yang sama, menunjukkan masalah kemungkinan bersifat sistemik pada proses pengolahan maupun penyaluran makanan.
Orang tua meminta agar tidak hanya penyedia yang ditindaklanjuti, tetapi seluruh rantai pengawasan dari pusat ke daerah dievaluasi menyeluruh.
“Anak-anak kami bukan kelinci percobaan. Setiap kali ada yang sakit, barulah ditindak. Harusnya pencegahan yang didahulukan,” tegas salah satu orang tua yang menunggu anaknya di depan RSUD Pati.
Dua sekolah, satu penyedia, ratusan korban. Kejadian di Pati adalah peringatan keras: ketika keamanan pangan dipertaruhkan demi ketepatan waktu penyaluran, yang paling mahal harganya adalah kesehatan anak-anak bangsa.
Program yang bermaksud memberi kehidupan justru berulang kali mencelakakan penerimanya — ini bukan sekadar kebetulan, ini adalah pola yang harus diputus sekarang juga.**











