Menu ✖

Mode Gelap

Nasional

Beginilah Adab Presiden Prabowo saat Menyalami KH Nurul Huda Djazuli Pimpinan Ponpes Ploso Kediri

badge-check


					Beginilaj adab Presiden Prabowo Subianto saat menyapa dan menyalami kiai sepuh KH Nurul Huda Djazuli, pengasuh Pionpes Al-Falah Ploso Kediri, di Muktamar ke 35 NU, Jombang. Foto: ist Perbesar

Beginilaj adab Presiden Prabowo Subianto saat menyapa dan menyalami kiai sepuh KH Nurul Huda Djazuli, pengasuh Pionpes Al-Falah Ploso Kediri, di Muktamar ke 35 NU, Jombang. Foto: ist

Penulis: Arief H. Soesatyo  |  Editor: Priyo Suwarno

JOMBANG, SWARAJOMBANG.COM— Tumpah ruah ribuan muktamirin dan warga yabv hadir di pelataran Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, tempat di mana Nahdlatul Ulama tumbuh dan berakar, adab lebih tinggi daripada jabatan.

Kesan itu begitu kental dan terjaga secara kuat, saat pembukaan Muktamar ke-35 NU digelar Kamis pagi itu, 27 Agustus 2026.

Mata ribuan hadirin tertuju bukan pada lambang kepresidenan di dada, melainkan pada sikap seorang pemimpin negara yang justru bersikap adab, dengan cara hormat merendahkan dirinya di hadapan para kiai sepuh.

Perilaku itu pula yang diperlihatkan oleh Presiden Prabowo Subianto saat hadir lengkap dengan pakaian kebesaran dan peci hitam.

Begitu melihat KH Nurul Huda Djazuli, Pengasuh Ponpes Al-Falah Ploso Kediri, ia langsung menghampiri  kiai sepuh duduk di kursi roda.

Presiden langsung menghentikan langkahnya tak berhenti di jarak hormat. Lalu merendahkan tubuhnya hingga bersimpuh di lantai, sejajar tinggi duduk sang kiai sepuh.

Bahu membungkuk dalam, jemari saling bertaut, lalu diiringi pelukan hangat hingga ciuman di pipi kanan dan kiri — penuh tulus, tanpa ragu, tanpa peduli sorotan kamera.

Bukan satu kiai saja yang disambut demikian. Presiden berkeliling sendiri mendatangi para ulama dan tetua NU di area acara, mendekat ke kursi mereka, menunduk saat berbicara, seakan-akan tak ada jarak antara Istana dan pesantren.

Kepala negara melayang turun, menyatu dengan adat santri: ilmu lebih tinggi dari pangkat, guru lebih mulia dari jabatan. Aksi spontan itu bukan sekadar seremonial.

Di pidato resminya, Presiden menegaskan: pemerintah bertekad dekat, membesarkan, dan memberdayakan pesantren serta organisasi keagamaan seperti NU maupun Muhammadiyah. Dan ia membuktikan kata-katanya saat itu juga.

Sikap bersimpuhnya menjadi pelajaran hidup: seberapa pun tinggi seseorang mendaki tangga dunia, ia tetap harus tahu tempat berlututnya di hadapan sumber ilmu.

Di tengah zaman yang kerap memuja kemegahan, momen sederhana di Tambakberas ini justru bersinar paling terang.

Sebuah pesan tak bersuara namun didengar seantero negeri: negara besar tak ditandai betapa tingginya pemimpin berdiri, melainkan betapa dalam ia tahu cara merendah demi menghormati akarnya.**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Perlu Langkah Konkret, Ancaman Karhutla hingga 2027

20 Oktober 2026 - 18:05 WIB

Kunjungi Tiga Rumah Manik di Plumbon Gambang, Arumi Bachin Ajak Ibu ibu Jalan Kaki 1,5 Km di Terik Matahari

20 Oktober 2026 - 16:53 WIB

Hari Purnomo: Jumlah UMK Jombang Naik Jadi 18.850 Unit, Koperasi Aktif 1.020 Unit

20 Oktober 2026 - 11:22 WIB

Rakyat Kalteng Menyegel Kantor Gubernur, Agustiar Sabran Pamit Pergi dan Tidak Kembali

19 Oktober 2026 - 21:45 WIB

20 Hari Sebelumnya Karhutla Gambut Bisa Diprediksi

19 Oktober 2026 - 19:32 WIB

Jatim Siapkan Peluncuran Trans Jatim Koridor-2 Akhir Oktober 2026

19 Oktober 2026 - 19:15 WIB

Perpres Baru Jamin Ojol Kerja di Banyak Aplikator

19 Oktober 2026 - 19:02 WIB

Ketua Bapemperda Jombang, Kartiyono: Siapkan Roadmap Wisata, Jangan Disimpan di Rak Buku Saja!

19 Oktober 2026 - 18:03 WIB

Warga Banjaragung Ringkus Seorang Pengamen Diduga Bakar Lahan, Kobaran Api Hingga 800 M2

19 Oktober 2026 - 17:04 WIB

Trending di Nasional