Penukis: Jacobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
SWARAJOMBANG.COM— Peristiwa itu menjadi permainan berdarah. Namun dalam perang republic ini, para narapidana diperlakukan secara wajar dan dipulangkan ke rumah setelah konvensi damai ditandatangani.
Bagaimanapun, dalam revolusi Prancis, prajurit yang dikumpulkan melakukan pemberontakan kejam yang mengerikan dan memperlakukan para penyerang asing mereka dengan perilaku biadab yang sama.
Meski berupaya menjadi prajurit masyarakat dengan disiplin yang longgar dengan para perwira terpilih, mereka tetap dikerahkan untuk menjadi pasukan profesional oleh Napoleon dan para jenderalnya yang memperlakukan pesaing mereka yang kalah dengan cukup hormat.
Bagaimanapun, semuanya peristiwa ini meledak dalam penarikan diri pasukan yang mengerikan dari Moskow pada tahun 1812, ketika pasukan Prancis dibiarkan kelaparan dan praktek kanibalisme merajalela.
Sementara kaum Cossak semakin memperhebat perlawanan balas dendam dari kavaleri gunung yang menakutkan atas para penyerangnya.
Ketika itu, Wakil Laksamana Horatio Nelson memenangkan Perang Trafalgar berkat dukungan pasukan berseragam biri pemaksa pekerja yang melakukan aksi teror.
Arthur Wesley, Duke dari Wellington pun meraih kemenangan gemilang dalam Pertempuran Waterloo dengan banyak kelompok penjahat yang setingkat pangkatnya dengan dia, yang takut kepadanya nyaris sama seperti dia takut kepada mereka.
Bagaimanapun, dalam perang-perang kekaiseran masa Victoria, disiplin besi yang menyatukan simbol alur-alur tipis berwarna merah dan segi empat pasukan memang kadangkala diganti dengan rasa takut terhadap kematian yang mengerikan jika kalah.
Jika desersi dan pemberontakan hampir selalu berakhir dengan kegagalan dan hukuman, maka praktek penyiksaan dengan cara mengeluarkan semua isi perut dan dikuliti tuntas oleh tangan musuh Afghanistan atau Ashanti atau pun Bini menjadi kemungkinan yang paling menakutkan.
Satu-satunya hal yang menyelamatkan hidup prajurut adalah tetap bersatu dengan rekan-rekan dan perwiranya kala bertempur melawan musuh suku.
Langkah agar bisa bertahan hidup ini menjadi dorongan terbaik pembangkit semangat para tentara.
Keyakinian ini memastikan semangat perlawanan habis-habisan dari pasukan Inggis berseragam merah ketika mereka dikalahkan oleh bangsa Zulu tahun 1879 di Isandlwana, termasuk pertahanan mereka yang luar biasa atas Rorke’s Driff.
Inilah pertempuran hingga orang terakhir karena setiap bentuk kematian merupakan aksi pembersihan bukan siksaan setelah pertempuran.
Ada dua ketakutan ganda dalam pasukan bersenjata. Pertama, ketakutan terhadap disiplin mulai dari hukuman cambuk dan diremukkan di atas roda hingga regu tembak. Kedua, ketakutan terhadap pasukan-pasukan musuh.
Sebelum memasuki Isandlwana, para prajurit yang tidak terlatih melawan bangsa Zulu di Fort Newdigate dilanda ketakutan luar biasa terjebak dalam tembak-menembak dalam desiran angin malam.
Insiden itu melukai tiga orang mereka sendiri. Tempat pertahanan terdepan ini kemudian disebut “Benteng Mengerikan” (Fort Funk).
Kematian yang pasti mendorong para tentara baru mengandalkan keberanian individual dalam jajarannya pantas dihormati seperti para pahlawan Nor dan perang salib.
Inilah pradoks perang, penakut ditaklukan oleh persahabatan tetapi memberikan jalan bagi sikap buas sementara rejim yang kejam menciptakan pasukan tempur yang mampu menghadapi musuh-musuh yang buas. (Bersambung)











