Penulis: Gandhi Wasono | Editor: Priyo Suwarno
LABUHAN BAJO, SWARAJOMBANG.COM — Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA), dikenal sebagai Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga (RSKKA), telah merapat di Labuan Bajo, untuk memberikan bantuan kesehatan bagi ribuan warga korban gempa Flores, berkekuatan mag 7.7.
Kepala atau Direktur Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA), dokter Agus Harianto, Sp.B (K), Rabu, 19 Agustus 2026, sebelumnya kapal berangkat dari Tanjung Perak, 12 Agustus 2026.
Menggalang donasi bantuan korban bencana gempa Flores. Donasi bida disalurkan kepada RS Ksatria Medika Airlangga:
CMIB: 730 849 215 300
Mandiri: 0411 0100 0525 306
BNI: 5088008886
Contact Person: 0838 3182 0333
Saat ini, RSTKA melakulan layanan kesehatan pulau terluar di Jatim dan Indonesia bagian tinur, namun dalam perjalaban muncul bencana gempa bumi di Flores, sehingga kapal langsung putar haluan ke lokadi bencana, menuju Labuhan Bajo.
Kini, pasca gempa dahsyat yang mengguncang Flores, kapal ini bersiaga di Labuhan Bajo untuk membantu pemulihan kesehatan korban bencana.
Namun kebutuhan terus bertambah. Peralatan medis perlu diperbarui, persediaan obat harus ditambah, dan bahan bakar untuk berlayar ke wilayah yang lebih luas semakin besar.
Oleh karena itu, tim pengelola menggelar kampanye penggalangan dana agar kapal ini dapat terus berlayar dan menolong lebih banyak lagi orang yang membutuhkan.

Sebanyak 12 dokter alumnus berbagai universitas bergabung dalam relawan misi kesehatan pulau terpencil menuju ke pulau Mandangin, wilayah Sampang, Madura, yang diselenggarakan oleh Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA). Foto: RSTKA
Merapat di Labuhan Bajo
RSTKA bukan sekadar kapal. Ia adalah bukti bahwa pengobatan tidak boleh teralang oleh air.
Di tengah gempa yang meruntuhkan rumah dan harapan, kapal ini tetap berdiri tegak di atas air — membawa harapan kesembuhan bagi mereka yang terisolasi.
Kapal ini dilengkapi pula kamar operasi modern, bisa melakulan tindakan opetasi di atas kapal.
Dokter Agus Harianto menyatakan saat ini persediaan obat obatan di atas kapal menipis, juga alat dan pendukung medis.
Agar bisa memberikan layanan lebih optimal kepada korban bencana gempa Flores, ia mengetuk hati para dermawan Indonesian untuk memberikan donasi Bencana Gempa Flores, melalui No.:
Setiap sumbangan yang terkumpul bukan sekadar bahan bakar atau obat — ia adalah nyawa yang terselamatkan, anak yang kembali sehat, dan keluarga yang utuh kembali.
Dengan dukungan masyarakat luas, Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga berjanji akan terus berlayar.
Kapal ini menjangkau pulau-pulau terluar, menyapa pesisir yang terlupakan, dan memastikan bahwa di Indonesia, tidak ada satu pun warga yang ditinggalkan tanpa pertolongan medis.
Rangkaian Kegiatan (Juli 2026)
– 14–15 Juli: Pantai Matahari, Lubuk, Kecamatan Bluto, Sumenep — pelayanan spesialistik, peningkatan kapasitas kader & tenaga kesehatan, pentahelix.
– 16–18 Juli: Raas, Sumenep — pelayanan spesialistik, peningkatan kapasitas bidan & tenaga kesehatan, rehabilitasi neonatal, diskusi kesehatan.
– 20–21 Juli: Karamian, Sumenep — pelayanan spesialistik, penyuluhan NAPZA, peningkatan kapasitas kader & tenaga kesehatan, diskusi kesehatan.
– 22–24 Juli: Masalembu, Sumenep — pelayanan spesialistik, penanganan gawat darurat obstetri & neonatus, diskusi kesehatan.
Data & Fakta
Nama Resmi Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) / Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga (RSKKA)
Bentuk Sarana Kapal Phinisi yang dimodifikasi menjadi rumah sakit lengkap dengan ruang periksa, ruang tindakan, dan kamar rawat
Lokasi Saat Ini Labuhan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT — bersiaga pasca-gempa Flores.
Pendiri Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya
Tahun Berdiri 2017
Layanan Pemeriksaan kesehatan, pengobatan dasar, tindakan medis sederhana, rujukan — semua GRATIS
Target Sasaran Warga pulau terpencil, daerah pesisir pantai, dan wilayah perbatasan yang jauh dari rumah sakit daratan
Peran & Tujuan
Sejak didirikan pada tahun 2017, RSTKA telah berlayar ke berbagai pelosok Nusantara. Berbeda dengan kapal bantu medis milik negara, kapal phinisi ini lahir dari inisiatif dan semangat sosial para dokter muda lulusan Universitas Airlangga yang ingin menjangkau mereka yang terpinggirkan oleh jarak dan ombak.
Setiap berlabuh di sebuah pulau, antrean warga sudah menunggu — ada yang berjalan kaki berjam-jam, ada yang mendayung perahu kecil, hanya untuk mendapatkan pertolongan medis yang layak.
Kini, pasca gempa dahsyat yang mengguncang Flores, kapal ini bersiaga di Labuhan Bajo untuk membantu pemulihan kesehatan korban bencana.
Namun kebutuhan terus bertambah. Peralatan medis perlu diperbarui, persediaan obat harus ditambah, dan bahan bakar untuk berlayar ke wilayah yang lebih luas semakin besar.
Oleh karena itu, tim pengelola menggelar kampanye penggalangan dana agar kapal ini dapat terus berlayar dan menolong lebih banyak lagi orang yang membutuhkan.
Merapat di Labuhan Bajo
RSTKA bukan sekadar kapal. Ia adalah bukti bahwa pengobatan tidak boleh terhalang oleh air.
Di tengah gempa yang meruntuhkan rumah dan harapan, kapal ini tetap berdiri tegak di atas air — membawa harapan kesembuhan bagi mereka yang terisolasi.
Setiap sumbangan yang terkumpul bukan sekadar bahan bakar atau obat — ia adalah nyawa yang terselamatkan, anak yang kembali sehat, dan keluarga yang utuh kembali.
Dengan dukungan masyarakat luas, Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga berjanji akan terus berlayar.
Kapal ini menjangkau pulau-pulau terluar, menyapa pesisir yang terlupakan, dan memastikan bahwa di Indonesia, tidak ada satu pun warga yang ditinggalkan tanpa pertolongan medis.**











