Menu

Mode Gelap

Nasional

Menelisik Akar Terorisme (27): Kaum Illuminati dan Revolusi Prancis

badge-check


					Ilustrasi. Foto: ist Perbesar

Ilustrasi. Foto: ist

Penulis: Jacobus E. Lato   |  Editor: Priyo Suwarno

SWARAJOMBANG.COM— Bonnet terus mengklaim bahwa Dewan Konstituante pada awal Revolusi Perancis memiliki 30 anggota Masonik dan bahwa Pernyataan Hak-hak Asasi Manusia merupakan karya pahlawan Revolusi Amerika, de Lafayette, yang menyerahkan kunci Penjara Bastille kepada Presiden Amerika, George Washington.

Sebetulnya, Hak-hak Asasi Manusia juga bersumber dari para penyumbang pemikiran penting lain kaum aristokrat yang juga bekerja untuk pembuatan Ensyclopedia, yaitu Condorcet.

Ia seorang utopis dan pionir bidang moral yang berbagai pandangannya tentang sejarah berhasil meningkatkan banyak masyarakat melalui perubahan berkelanjutan yang bakal mempengaruhi positivisme Auguste Comte dan dialektika Hegel dan Marx.

Usai Revolusi, Condorcet tidak berhasil. Tidak seperti Mirabeau dan Lafayette, dia terlambat bergabung dengan kaum Jacobin yang menang.

Dia bekerja sama dengan Thomas Paine, yang menulis The Rights of Man (Hak Asasi Manusia). Namun, sebaliknya, karyanya “Plan for a Constitution” dihancurkan. Ketika mengajukan protes, dia justru malah dikecam. Dalam persembunyiannya, dia menulis gambaran historis tentang perkembangan roh (spirit) manusia.

Dia menegaskan lagi hukum alam dan moralitas. Dia tetap percaya pada kemajuan sosial bahkan selama apa yang bakal disebut sebagai “Teror” sekalipun.

“Betapa sambutan terhadap para filsuf merupakan gambaran kemanusiaan ini, bebas dari semua rantainya, bebas dari dominasi kesempatan juga dari musuh-musuh kemajuannya, maju dengan langkah kokoh dan yakin dalam jalan kebenaran, kebajikan dan kebahagiaan.”

Apapun harapannya, Condorcet melarikan diri dari Paris dengan mengenakan pakaian wanita. Dia kemudian bahkan ditolak untuk diberi perlindungan oleh para sahabatnya, sebelum meninggal dunia di penjara karena hal-hal yang tidak dapat dijelaskan.

Mungkin saja karena racun. Pelindungnya yang terakhir, Madame de Verret, konon mengatakan kepadanya. “Tuan, Konvensi mungkin saja mengatakan anda berada di luar hukum, tetapi bukan di luar kemanusiaan.”

Bagaimanapun, Mirabeau merupakan pemain kunci dalam Dewan Konstituante. Dalam berbagai makalahnya, dia mengaku menjadi anggota Freemason, yang dipengaruhi para pengikut Rosicrucia yang misterius dan Kaum Illuminati (Kaum Yang Tercerahkan) yang diagung-agungkanya dalam bukunya History of Prussian Monarchy (Sejarah Monarki Prusia).

Bagaimanapun, Mirabeau merupakan pemain kunci dalam Dewan Konstituante. Dalam berbagai makalahnya, dia mengaku menjadi anggota Freemason, yang dipengaruhi para pengikut Rosicrucia yang misterius dan Kaum Illuminati (Kaum Yang Tercerahkan) yang diagung-agungkanya dalam bukunya History of Prussian Monarchy (Sejarah Monarki Prusia).

Dikatakannya bahwa Kaum Illmuninati mengikuti teladan Yesus dengan logika rahasia dan berstandar ganda mereka, sembari menentang iman kepada Allah karena percaya kepada akal budi manusia.

Mereka ingin menghapus kaum bangsawan, sikap ingat diri dan pajak yang tidak adil serta takhayul, sambil mengajukan kemerdekaan bagi pers dan toleransi universal bagi semua agama.

Dua pemikir sosialis terakhir, Louis Blanc dan George Sand, membuktikan keberhasilan konspirasi Eropa terhadap Kaum Illmuninati yang mistik dari Jerman, khususnya pada organisasinya yang mengagumkan.

Pendirinya, pembuat intrik brilian, Adam Weishaupt, membuat diagram kuno rahasia masyarakat rahasia yang diorganisasi dalam sel-sel itu.

Sistem hirarkisnya mengarah ke puncak kepada guru besar, yang memiliki niat luhur. Namun tidak ada letnan atau sel yang bisa berkomunikasi satu sama lain. Seperti yang dituliskan seorang komentator tentang Weishaupt;

Dia tahu bagaimana mengambil dari setiap asosiasi, dari masa lalu dan masa kini, bagian-bagian yang dibutuhkannya dan memaksapadukan mereka semua dalam sebuah sistem yang sangat efisien – doktrin-doktrin kaum Gnostik dan Manichea yang tidak padu, juga dari para filsuf modern dan para ahli ensiklopedia, metode-metode dari kaum Ismailiah dan Kaum Assasin, disiplin kaum Yesuit dan para Templar, organisasi dan kerahasian para angora Freemason, filsafat Machiavelli, misteri kaum Rosicrucia.

Dan lebih jauh lagi, dia mengetahui bagaimana menyusun unsur-unsur yang tepat dalam semua asosiasi yang ada serta memisahkan orang-orang sembari mengubah mereka sesuai tujuannya.

Pengaruh Kaum Illuminati sangat kuat, sehingga para jenius sastra Jerman, Goethe dan Lessing, menjadi anggotanya.

Percy Bysshe Shelley bahkan menulis sebuah novel jelek berjudul St. Irvyne or the Rosicrucian, (Santa Irvine atau Kaum Rosicrucia) seputar Persaudaraan Protestan dari kaum Salib Merah yang menentang Kaisar Habsburg.

Elizabeth Barret Browning bahkan menyebutnya sebagai “tololnya sekolah berasrama.” Shelley bahkan juga menganggap bahwa kaum Assasin (Pembunuh) dan visi mereka tentang surga telah menginspirasi Kaum Illuminati, ketika dia justru tengah membangun rumah bagi Victor Frankenstein di Ingoldstadt, sebuah pusat spiritual untuk pemujaan.

Putusnya hubungan oleh monster buatan manusia, berarti menjadi cantik merupakan komentar atas strategi Kaum Illuminati yang bertujuan menghancurkan institusi sosial dan politik serta relijius, yang membelenggu individu dalam rantai-rantai yang ingin diretas Rousseau dalam bukunya Social Contract (Kontrak Sosial).

Setelah 1789. ada 2.000 pusat pembinaan di Perancis berafiliasi dengan Grand Orient, bersama dengan kira-kira 100.000 anggotanya. Hampir semua anggota radikal kenamaan Dewan Konstituante diajarkan dengan keyakinan Kaum Illuminati dalam suatu revolusi sosial.

Termasuk para bangsawan seperti d’Orleans, Condorcet dan Lafayette, Mirabeau dan juga para musuh mereka yang belakangan, Danton dan Desmoulis, Marat dan Robespiere sendiri.

Mereka menggunakan teknik konspirasi, sel dan pusat pembinaan serta pertimbangan sumir untuk menggulingkan pemerintah dan memerintah rakyat dengan serangkaian kelompok revolusioner, seperti Kelompok Enambelas di Paris selama perang-perang agama.

Kelompok-kelompok pemberontak ini menjalankan praktek mengadu domba satu sama lain dengan perang guna mendapatkan daya pengungkit bagi tersembunyi mereka.

Sehingga, pertumpahan darah yang dilancarkan oleh kaum Jacobin yang berakhir dalam rejim ketakutan itu sekedar menjadi demonstrasi lain dari masalah: “Seusai Revolusi, siapakah yang bakal memenangkannya.?” (Bersambung)

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Pemilik Percetakan Merantai 3 Karyawan, Dituduh Mencuri dan Dimintai Tebusan Rp50 Juta/Orang

27 Juni 2026 - 16:30 WIB

Suhu Naik Hingga 39°C, Belanda Terancam Dehidrasi Masal dan Gangguan Kesehatan

27 Juni 2026 - 15:51 WIB

Presiden Prabowo Minta Wartawan Keluar, karena Ingin Bicara dari Hati ke Hati dengan Akademisi

27 Juni 2026 - 15:06 WIB

Pria Ini Diduga Sengaja Tinggalkan Jasad ASN Bangkalan di Area Parkir Bandara Juanda

27 Juni 2026 - 10:21 WIB

Kemenhan Evaluasi Latsarmil bagi Calon Manajet KDMP, Korban Meninggal 4 Orang

27 Juni 2026 - 10:12 WIB

Demo `Warga Surabaya Turun ke Jalan Berujung Ricuh di Grahadi

26 Juni 2026 - 20:12 WIB

Menelisik Akar Terorisme (26): Rahasia Kaum Freemanson

26 Juni 2026 - 12:34 WIB

Usia 98 Tahun Kiai Tar Tausyiah 2,5 Jam Pengajian Taubat Bersama di Ponpes Shiddiqiyyah Ploso

26 Juni 2026 - 12:11 WIB

Kemenperin Klarifikasi Soal Kabar PHK 2500 Pekerja di PT Pakerin Mojokerto

25 Juni 2026 - 20:34 WIB

Trending di Nasional