Penulis: Sri Muryanto | Editor: Priyo Suwarno
BEKASI, SWARAJOMBANG.COM– Selama tiga hari berturut-turut, suasana di Desa Sumbersari, Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi, berubah kelam dan mencekam. Mulai pukul 22.00 WIB hingga menjelang dini hari, ketakutan menyelimuti warga.
Lingkungan yang biasanya tenang mendadak berganti suasana mencekam karena kemunculan sosok berbalut kain putih panjang yang bergerak melompat-lompat di pekarangan rumah warga, disertai suara ketukan keras bertubi-tubi di pintu dan jendela.
Akibatnya, banyak warga tidak berani melangkah keluar rumah, pintu dan jendela dikunci berlapis-lapis, sementara anak-anak dilarang bermain atau bergerak jauh dari orang tua saat malam tiba.
Namun, segala misteri yang sempat membuat bulu kuduk merinding itu akhirnya terkuak dan menemukan titik terang, bukan lewat campur tangan makhluk lain, melainkan berkat kewaspadaan warga sendiri pada Rabu malam, 13 Mei 2026.
Pasukan ronda desa yang sudah bersiaga diam-diam sejak sore hari dan memperketat penjagaan, akhirnya berhasil mengepung lokasi dan menangkap dua sosok yang diduga menjadi biang kerok segala kegaduhan itu.
Apa yang terungkap sesaat setelah penangkapan sontak membuat semua orang ternganga.
Sosok seram yang selama tiga malam membuat warga gemetar ketakutan itu ternyata bukan makhluk halus atau arwah penasaran, melainkan dua pemuda manusia biasa, warga desa setempat sendiri.
Kedua pelaku tersebut bernama lengkap Rizky Andika Saputra (19 tahun) dan Aditya Firmansyah (21 tahun). Keduanya berdomisili di Dusun Krajan, Desa Sumbersari, Kabupaten Bekasi.
Berdasarkan keterangan di lapangan, saat beraksi Rizky lah yang menyamar menjadi pocong dengan membungkus tubuhnya menggunakan kain sprei putih yang diikat menyerupai jenazah.
Sementara rekannya, Aditya, bertugas mendampingi dan bertanggung jawab mengetuk pintu-pintu rumah, membuat kegaduhan, serta menampakkan diri untuk menakut-nakuti warga yang sedang beristirahat.
Saat penyergapan dilakukan sekitar pukul 23.15 WIB, kedua pemuda itu sempat berusaha melarikan diri. Namun niat itu gagal karena jalan keluar sudah tertutup rapat oleh warga yang sudah berkumpul dengan perasaan marah dan geram.
Akhirnya, keduanya diamankan, tangan dan kaki diikat, lalu didudukkan di pinggir jalan guna diberi pelajaran oleh massa sebelum kemudian diserahkan ke pihak kepolisian untuk proses lebih lanjut.
Rekaman video saat kedua pemuda terikat dan pasrah itulah yang kemudian tersebar luas dan menjadi viral di media sosial, persis sama dengan cuplikan yang diterima.
Kepala Desa Sumbersari, Sukirman, membenarkan peristiwa unik sekaligus memalukan tersebut.
Ia mengaku tak habis pikir dan hanya bisa geleng-geleng kepala mengetahui pelakunya adalah warga desanya sendiri.
“Sudah tiga hari warga resah dan ketakutan, banyak yang melaporkan ada ketukan di pintu malam-malam serta melihat sosok putih melintas. Kami langsung perintahkan ronda diperketat, dan malam itu akhirnya dapat pelakunya,” tegasnya.
“Ternyata cuma manusia biasa yang iseng saja. Warga tentu lega, tapi di sisi lain juga marah karena sudah dibuat cemas berhari-hari sia-sia,” ungkap Sukirman.
Saat diperiksa oleh warga maupun petugas kepolisian, kedua remaja itu mengaku jujur bahwa perbuatan mereka semata-mata hanya didorong rasa iseng.
Mereka mengaku hanya ingin mencari sensasi dan sekadar ingin melihat reaksi warga yang ketakutan melihat sosok menyerupai pocong.
Tidak ada niat untuk mencuri, merampok, atau melakukan kejahatan berat lainnya; tujuan utamanya hanya menciptakan kegaduhan dan keributan di lingkungan tempat tinggalnya.
Padahal akibat ulah keduanya, dampak yang ditimbulkan cukup besar. Satu lingkungan hampir saja mengalami kepanikan massal.
Bahkan ada ibu hamil yang kaget hebat hingga jatuh sakit, serta banyak anak-anak yang kini mengalami trauma berat karena ketakutan berlebihan.
Kapolsek Pebayuran yang turun langsung memimpin penanganan kasus ini, Kompol Bambang Triatmojo, S.H., M.H., juga membenarkan proses pengamanan terhadap Rizky dan Aditya.
“Kami menerima laporan kejadian, langsung bergerak turun ke lokasi, dan menemukan kedua pemuda tersebut sudah diamankan warga. Saat diperiksa, keduanya mengakui segala perbuatannya dengan jujur,” ujar Kompol Bambang.
Ia menambahkan, berdasarkan hasil penyelidikan timnya, tidak ditemukan unsur tindak pidana berat atau niat jahat lainnya di balik peristiwa itu.
Perbuatan mereka lebih condong pada tindakan yang meresahkan masyarakat, mengganggu ketertiban umum, serta menimbulkan keresahan di lingkungan warga.
Kini, kedua remaja tersebut sudah dikembalikan kepada orang tua masing-masing. Namun, pembebasan itu dilakukan setelah mereka mendapatkan pembinaan tegas, penyuluhan hukum, serta didamaikan dengan warga sekitar agar tidak ada dendam atau perselisihan yang berkepanjangan.
Rizky dan Aditya pun telah berjanji dengan sungguh-sungguh tidak akan mengulangi perbuatan iseng dan meresahkan warga lagi.
Kisah unik ini pun menjadi pembicaraan hangat yang mengundang tawa sekaligus geleng kepala. Rasa takut yang sempat membayangi kini berganti dengan rasa lega dan geli.
Sejak malam itu, suasana di Desa Sumbersari kembali tenang seperti sedia kala. Tidak ada lagi ketukan misterius, dan tidak ada lagi sosok putih yang melompat-lompat di malam hari.
Teror pocong pun tamat sudah, dan meninggalkan satu pelajaran berharga yang tak terlupakan: di zaman sekarang ini, sering kali ‘hantu’ yang meneror dan membuat kita takut ternyata hanyalah manusia biasa yang kurang berpikir panjang.
Ternyata ‘hantu’-nya pun bisa ditangkap, diikat, dan asal-usulnya bisa dijelaskan dengan akal sehat.**











