Menu

Mode Gelap

Ekonomi

Pemerintah Impor 100.000 Tabung Gas CNG dari China untuk Gantikan Elpiji 3 Kg

badge-check


					Ilustrasi ganti tabung elpiji dengan CNG. Foto: ist Perbesar

Ilustrasi ganti tabung elpiji dengan CNG. Foto: ist

Penulis: Yusran Hakim  | Editor: Priyo Suwarno

 JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM – Siap siap ganti tabung baru untyk masak dan kebutuhan di warung, kementrian m Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi mengumumkan langkah strategis baru dalam menjaga pasokan energi rumah tangga.

Sebagai solusi dan alternatif pengganti LPG 3 kilogram yang selama ini digunakan masyarakat, pemerintah berencana mendatangkan dan mengimpor sebanyak 100.000 tabung gas CNG (Compressed Natural Gas) berukuran setara 3 kilogram dari negara Tiongkok (China).

Langkah ini dilakukan mengingat teknologi pembuatan tabung khusus jenis ini belum diproduksi secara massal di dalam negeri.

Kepastian ini disampaikan sebagai jawaban atas kebutuhan energi yang lebih aman, efisien, dan berkelanjutan bagi masyarakat luas.

Berikut rincian lengkap mengenai harga, manfaat, serta perbandingan mendalam mengenai karakteristik dan teknologi yang dibawa oleh gas baru ini dibandingkan dengan LPG konvensional.

Harga
Dalam rencana pengadaannya, harga beli pemerintah untuk setiap tabung kosong hasil impor diperkirakan berkisar antara Rp185.000 hingga Rp210.000 per tabung.

Namun, bagi masyarakat pengguna, pemerintah menjamin harga jual isi ulang akan tetap sama bahkan lebih murah dibandingkan harga LPG 3 kg bersubsidi saat ini, yaitu berada di kisaran Rp16.000 hingga Rp18.000 sekali isi.

Keunggulan harga ini akan semakin terasa di masa depan. Berbeda dengan LPG yang bahan bakunya sebagian besar masih bergantung pada impor dan mengikuti fluktuasi harga minyak dunia.

CNG menggunakan bahan baku gas alam yang melimpah di Indonesia. Hal ini membuat harga jual ke masyarakat bisa dijaga stabil dan tidak mudah bergejolak. Nantinya, jika produksi tabung sudah bisa dilakukan di dalam negeri, harga diprediksi akan jauh lebih ekonomis lagi.

Pergeseran penggunaan energi ini membawa dampak positif yang sangat besar bagi warga yang membutuhkan, antara lain:

1. Harga Stabil & Terjangkau: Harga dikendalikan pemerintah dan tidak terpengaruh harga minyak dunia, sehingga daya beli masyarakat terjaga.

2. Pasokan Terjamin: Menggunakan sumber daya alam gas alam milik Indonesia sendiri, sehingga risiko kelangkaan seperti yang kadang terjadi pada LPG bisa dihilangkan sepenuhnya.

3. Pembakaran Lebih Bersih: Menghasilkan api berwarna biru sempurna, tidak mengotori peralatan masak, tidak berbau, dan lebih ramah lingkungan serta kesehatan.

4. Lebih Hemat & Awet: Tenaga api lebih stabil dan efisien, sehingga satu kali pengisian daya tahan lebih lama pemakaiannya dibandingkan gas biasa.

5. Keamanan Tinggi: Ini merupakan poin terbesar, di mana risiko bahaya kebakaran dan ledakan dapat ditekan hampir mendekati nol.**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Menelisik Akar Terorisme (39): Frankenstein dari Gunung Liar Swiss

23 Juli 2026 - 05:48 WIB

Pendapatan Turun Drastis, Sopir Angkot Minta Halte Medaeng Ditutup

22 Juli 2026 - 18:23 WIB

Uji Coba PNS Kerja Dekat Rumah

22 Juli 2026 - 18:09 WIB

Fokus Berobat Jantung ke Luar Negeri, Nanik S. Deyang Mundur dari Jabatan Kepala BGN

22 Juli 2026 - 09:37 WIB

Menelisik Akar Terorisme (38): Kasus Pemimpin Teroris Mati Saat Mandi

21 Juli 2026 - 21:07 WIB

PUPR Jombang Kebut Perbaikan Jalan dan Prasarana Sambut Muktamar ke-35 NU di Tambakberas

21 Juli 2026 - 20:35 WIB

Terbongkar Sindikat Pencurian Modul BTS, Bareskrim Tangkap 12 Tersangka Kerugian Rp60 Miliar

21 Juli 2026 - 19:49 WIB

Masih Uji Coba di China, CNG Merah Putih 3 Kg Bakal Digarap Bersama Pindad

21 Juli 2026 - 18:57 WIB

Polres Bangkalan Amankan Tiga Tersangka Kekerasan Seksual Anak

21 Juli 2026 - 18:47 WIB

Trending di Nasional