Penulis: Sri Muryanto | Editor: Priyo Suwarno
SLEMAN, SWARAJOMBANG.COM— Aktivitas Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah itu terus mengeluarkan guguran lava pijar, disertai gempa vulkanik dan pertumbuhan kubah lava, sementara status Siaga Level III masih diberlakukan.
Menurut laporan pengamatan BPPTKG, aktivitas guguran dan luncuran lava masih dominan, dengan sebaran material mengarah ke sektor selatan-barat daya dan tenggara.
Dalam pemantauan terbaru, kubah lava juga masih menunjukkan pertumbuhan, sehingga potensi guguran dan awan panas guguran tetap perlu diwaspadai.
Kronologi peristiwa
1. 6 April 2026
BPPTKG mencatat aktivitas Merapi masih tinggi, dengan 149 kali gempa guguran dan 103 gempa hybrid/fase banyak dalam satu hari pengamatan. Status gunung tetap Level III atau Siaga.
2. 10–16 April 2026
Dalam periode pengamatan sepekan, BPPTKG melaporkan 7 kali awan panas guguran. Aktivitas vulkanik tetap intens dan ancaman erupsi efusif masih berlanjut.
3. 21 April 2026
BPPTKG mencatat 13 kali guguran lava mengarah ke barat daya meliputi Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, Kali Krasak, dan Kali Boyong, dengan jarak luncur maksimum 1.800 meter. Dalam enam jam terakhir hari itu juga tercatat 18 kali guguran lava menuju Kali Krasak.
4. 22 April 2026
Tercatat 9 kali semburan lava pijar mengarah ke Sungai Sat dan Sungai Putih dengan jarak luncur sekitar 1,8 km.
5. 23 April 2026
Aktivitas meningkat lagi dengan 16 kali semburan lava pijar ke arah Sungai Sat dan Sungai Putih, serta gempa guguran dan gempa hybrid yang masih tinggi.
6. 25 April 2026
Pada pagi hari, dilaporkan 16 kali semburan lava pijar ke arah Sungai Krasak dengan jarak luncur maksimum 2 km, disertai 33 kali gempa guguran dan 12 kali gempa hybrid. [1]
7. 25 April 2026,
Dalam laporan lain, Merapi juga tercatat menyemburkan lava pijar 4 kali dengan jarak luncur hingga 2 km ke arah Sungai Sat dan Sungai Putih, disertai 44 kali gempa guguran, 18 kali gempa hybrid, dan 1 kali gempa vulkanik dangkal.
Pertumbuhan kubah lava
Hasil survei drone pada 27 Maret 2026 menunjukkan Kubah Barat Daya masih bertambah, dengan penambahan volume sekitar 34.600 meter kubik hingga mencapai 4.055.300 meter kubik.
Sementara itu, Kubah Tengah dilaporkan stabil di angka 2.368.800 meter kubik.
Pertumbuhan kubah lava ini menjadi salah satu indikator utama bahwa aktivitas Merapi belum mereda.
Dalam situasi seperti ini, guguran material dari kubah bisa terus terjadi sewaktu-waktu, terutama jika dipicu kondisi cuaca, kemiringan tubuh kubah, dan aktivitas kegempaan. [1][10]
Status dan potensi bahaya
Status Siaga Level III masih berlaku untuk Merapi sejak 5 November 2020. BPPTKG menetapkan zona bahaya di sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong hingga 5 km serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 km, sedangkan di sektor tenggara meliputi Sungai Woro hingga 3 km.
Masyarakat diminta tidak beraktivitas di area bahaya dan tetap mewaspadai lahar hujan, terutama saat turun hujan di kawasan puncak atau daerah aliran sungai berhulu Merapi. Aktivitas wisata, pendakian, maupun kegiatan di bantaran sungai yang masuk zona rawan tetap berisiko tinggi.
Inti peristiwa
– Aktivitas Merapi masih tinggi sepanjang pekan ini.
– Guguran lava pijar dan gempa vulkanik masih dominan.
– Kubah lava barat daya masih tumbuh dan menjadi sumber utama guguran.
– Status gunung tetap Siaga Level III dengan radius bahaya yang belum berubah.**










