Menu

Mode Gelap

Headline

Trauma 9/11 Terulang di Gedung Putih, Saat Evakuasi Ledakan Trump Jatuh: Damn Carpet! Melania Merangkak

badge-check


					Trump terjatuh, kakinya tersandung karpet. Melania istri presiden kenakan gaun pesta putih mutiara terpaksa merangkak saat evakuasi pasca ledakan acara dinner di Gedung Putih, Sabtu malam 25 April 2026.Foto: ist Perbesar

Trump terjatuh, kakinya tersandung karpet. Melania istri presiden kenakan gaun pesta putih mutiara terpaksa merangkak saat evakuasi pasca ledakan acara dinner di Gedung Putih, Sabtu malam 25 April 2026.Foto: ist

Penulis: Jacobus E. Lato  |  Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, WASHINGTON D.C.- Trauma tragedi 9/11 Menara New York terulang di Gedung Putih, istanan Presiden Donald Trump, Sabtu malam, 25 April 2926.

Terdengar jrritan histeris, asap pekat, dan derap kaki panik memenuhi koridor Gedung Putih saat ledakan mengguncang resepsi kenegaraan.

Di pusat kekacauan itu, Presiden Donald Trump—simbol kekuatan Amerika—terjerembab jatuh, tersandung karpet merah mewah yang menjadi saksi bisu kegagalan keamanan terburuk sejak 9/11.

Pukul 20.45 waktu AS, bom C-4 milik tamu VIP Ahmed Khalil meledak di ruang tamu utama. Pecahan kaca beterbangan, lampu darurat berkedip merah, dan agen Secret Service berteriak, “Code Red! Evacuate POTUS!” .

Saar itu Trump, 79 tahun, sedang berjabat tangan dengan tamu asing ketika gelombang kejut menghantam. “Get down! Move!” Teriak agen utama, Mark Reilly, sambil menarik lengan presiden.

Evakuasi darurat menuju halaman selatan berubah jadi mimpi buruk. Koridor sempit dipenuhi staf panik yang berlarian, mendorong troli medis dan dokumen rahasia.

Trump, didorong maju oleh dua agen berbadan besar, berlari tertatih. Tiba-tiba, kakinya tersangkut karpet Persia antik yang tergeser akibat desakan massa.

Melania, ibu negara yang mengenakan gaun putih mutiara, merangkak di karpet, saat evakuasi terjadi.

“Whoa—damn carpet!” Teriaknya Trump, tubuhnya terhuyung ke depan. Ia jatuh telentang, lutut membentur lantai marmer keras. Darah tipis mengalir dari goresan, wajahnya memerah campur marah dan sakit.

Video amatir dari staf Gedung Putih, yang bocor ke X (Twitter), menangkap detik itu: Trump bangkit dengan bantuan agen, mengibaskan tangan, “I’m fine! This is sabotage!” Napasnya tersengal, tapi matanya menyala—campuran adrenalin dan kemarahan.

Helikopter Marine One mendarat 90 detik kemudian, mengangkutnya ke bunker aman di Andrews AFB.

Saksi mata, pelayan Gedung Putih Maria Gonzalez, cerita ke CNN: “Semua berlari seperti neraka. Karpet itu licin karena debu ledakan. Presiden hampir terlindas kerumunan.”

Analis militer Col. Ret. Jack Jacobs sebut, “Panik manusiawi ciptakan celah; pelatihan evakuasi gagal total.”

Kondisi Trump stabil, tapi insiden ini picu reformasi Secret Service. Di era ancaman hybrid, satu karpet sederhana jadi metafor kerapuhan kekuasaan.

Insiden mengerikan mengguncang Gedung Putih pada Sabtu malam ­26 April 2016, waktu setempat, ketika seorang tamu palsu bersenjata  berhasil menyusup ke area resepsi kenegaraan.

Ledakan kecil di ruang tamu utama memaksa evakuasi darurat Presiden Donald Trump, yang terjerembab saat tersandung karpet tebal saat panik dilakukan evakuasi pelarian.

Petugas keamanan meringkus seorang pria, diduga Ahned Khalil  setelah terjadi suara letusan senjata api pada acara jamuan makam di Gedung Putih, Sabtu malam 25 April 2026 waktu setempat (Minggu pagi WIB). Foto: News

Ahmed Khalil

Kejadian ini mengejutkan dunia, mempertanyakan celah fatal dalam sistem keamanan Secret Service.

Kronologi dimulai pukul 19.30 waktu AS. Acara jamuan makan malam dengan delegasi asing berlangsung lancar.

Pelaku, diduga Ahmed Khalil, 42 tahun, warga AS keturunan Timur Tengah, lolos verifikasi identitas dengan undangan palsu sebagai “investor strategis”.

Ia berhasil menerobos benteng keamanan Ring 1 Gedung Putih, menyamar sebagai tamu VIP, membawa tas diplomatik berisi bahan peledak C-4 seberat 500 gram, disembunyikan di balik pakaian formal.

Rekaman CCTV menunjukkan Khalil melewati dua pos pemeriksaan magnetometer tanpa alarm—diduga karena korupsi petugas atau kegagalan teknologi deteksi.

Ledakan terjadi pukul 20.45, merusak dinding marmer dan melukai tiga agen Secret Service ringan. Trump, yang sedang berpidato, langsung dievakuasi melalui terowongan bawah tanah. Saat tim SWAT mengawalnya ke helikopter Marine One di halaman selatan, presiden tersandung karpet merah yang tergeser akibat kepanikan.

Video amatir yang viral menunjukkan Trump jatuh, bangkit dengan bantuan agen, sambil berteriak, “Fake security! Kita harus bersihkan ini!” Cedera ringan di lutut dilaporkan, tapi Trump tetap stabil.

Investigasi FBI mengungkap motif politik: Khalil terkait kelompok radikal anti-Trump, merekrut melalui dark web. Analis keamanan seperti mantan direktur Secret Service Randolph Alles menyebut, “Ini kegagalan multilayer: verifikasi tamu lemah, sensor peledak usang.”

Pemerintah AS langsung audit ulang protokol, termasuk AI deteksi ancaman. Trump, via Truth Social, menyalahkan “deep state” dan menjanjikan balasan keras.

Insiden ini mengingatkan tragedi serupa era Reagan 1981, tapi kali ini soroti kerentanan era digital. Dengan pemilu AS mendekat, kejadian ini bisa jadi bom politik bagi Trump.**

 

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Pasca Penggerebegan Little Aresha, Walikota Yogya akan Sweeping Jasa Penitipan Anak dan PAUD

26 April 2026 - 12:52 WIB

Pakar Estetik Bedah Plastik, Dr Sophia Heng: Penyempurnaan, Bukan Perubahan Total

26 April 2026 - 10:48 WIB

Jamuan Makan Malam Buyar, Trump dan Istri Dievakuasi saat Terdengar Letusan Senjata Api

26 April 2026 - 09:49 WIB

Polisi Yogya Gerebek Daycare Little Aresha Tangkap 30 Orang, Diduga Siksa Bocah Titipan

26 April 2026 - 01:37 WIB

Pintu DPRD Jombang Telah Dibuka: Bahas Kelahiran Bung Karno di Ploso Bersama TACB dan Pemerhati Sejarah

25 April 2026 - 11:51 WIB

Keracunan MBG di SDN 7 Rumbia Jeneponto, 23 Siswa Dirawat

25 April 2026 - 10:53 WIB

Aksi Demo Besar Ojol Jatim, Surabaya-Sidoarjo Diprediksi Macet Total pada 28 April

25 April 2026 - 09:32 WIB

Dokumen foto aksi unjuk rasa massa driver ojol di Surabaya. Foto: iNews

Polisi Bidik Bea Cukai Jatim, Diduga Terlibat Penyelundupan 76.000 Ponsel China Ilegal Masuk Sidoarjo

25 April 2026 - 00:04 WIB

Rudy Mas’ud Angkat Adik Jadi Tim Ahli: Apa Bedanya dengan Presiden Prabowo Angkat Hashim

24 April 2026 - 23:02 WIB

Trending di Ekonomi