Menu

Mode Gelap

Ekonomi

Nasim Khan: Impor Gula Rafinasi Ancam Petani Tebu Lokal

badge-check


					Nasim Khan: Impor Gula Rafinasi Ancam Petani Tebu Lokal Perbesar

Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya

JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM-Kebijakan impor gula rafinasi kembali menuai kritik. Nasim Khan anggota Komisi VI DPR RI menilai praktik impor yang tidak terkendali telah menekan petani tebu lokal sekaligus mengganggu keseimbangan industri gula nasional.

Dalam Rapat Kerja bersama sejumlah kementerian dan BUMN pangan di Gedung Nusantara, Senayan, Rabu (8/4/2026), Nasim menegaskan bahwa persoalan gula rafinasi sudah berlangsung lama tanpa solusi yang jelas.

“Kalau impor dibiarkan tanpa kontrol, sama saja dengan mematikan petani tebu secara perlahan. Keuntungan impor memang cepat, tapi dampaknya fatal bagi industri nasional,” ujarnya.

Ia juga mendesak pemerintah agar konsisten menjalankan aturan, termasuk kewajiban bagi importir untuk memiliki kebun tebu sendiri guna mendukung produksi dalam negeri.

Tak hanya soal impor, Nasim turut menyoroti buruknya distribusi gula nasional. Ia menyebut adanya penumpukan stok di gudang BUMN seperti PTPN dan SugarCo sebagai bukti lemahnya manajemen distribusi.

“Banyak pabrik dalam negeri tidak berjalan optimal, bahkan tidak bisa menggiling tebu karena kalah bersaing dengan produk impor yang tarifnya nol persen. Ini fakta yang harus segera dibenahi,” tegasnya.

Selain itu, ia mengkritik kebijakan tarif nol persen untuk produk turunan seperti etanol yang dinilai semakin melemahkan daya saing industri lokal.

Nasim berharap pemerintahan Prabowo Subianto mampu memperkuat koordinasi lintas sektor demi mewujudkan swasembada gula. Ia menekankan bahwa penegakan aturan di lapangan harus menjadi prioritas, bukan sekadar regulasi di atas kertas.

“Pemerintah harus berani menindak pelanggaran. Jangan hanya membuat aturan tanpa pengawasan yang tegas,” katanya.

Lebih lanjut, Nasim juga menyinggung persoalan internal di tubuh PTPN, mulai dari skema kerja sama operasi hingga konflik agraria yang belum terselesaikan.

Ia mencontohkan insiden pembakaran gedung PTPN di Ijen, Bondowoso sebagai bukti adanya ketegangan antara perusahaan dan masyarakat.

“Penyelesaian konflik harus mengacu pada regulasi yang berlaku. Jangan sampai masyarakat atau pemerintah daerah terus disudutkan,” tambahnya.

Di sisi lain, ia mengaku akan mendorong pembentukan Panitia Khusus (Pansus) Agraria untuk menyelesaikan berbagai persoalan lahan, termasuk ratusan ribu hektare perkebunan yang belum memiliki HGU.

Menurutnya, sektor perkebunan masih memiliki potensi besar yang belum tergarap maksimal.

“Kalau dikelola dengan baik, sektor ini bisa menghasilkan puluhan triliun rupiah. Tapi saat ini masih jauh dari potensi tersebut,” pungkasnya.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Harga Produksi Naik, Peternak Ayam Rugi Besar

14 Juni 2026 - 19:51 WIB

BI Rate Naik ke 5,5%, Industri Properti Terancam Makin Lesu

12 Juni 2026 - 19:25 WIB

Harga Beras, Minyak dan Bawang Kompak Naik

11 Juni 2026 - 19:51 WIB

Wow..Harga Pertamax Naik Hampir Rp 4.000 per Liter

10 Juni 2026 - 15:24 WIB

MBG Wajib Sajikan Telur Tiga Kali Seminggu, Peternak Jatim Diharapkan Tertolong

9 Juni 2026 - 19:09 WIB

Restrukturisasi Besar, Telkom Pangkas Belasan Anak Perusahaan

9 Juni 2026 - 18:52 WIB

BI: Cadangan Devisa RI Turun Rp23,61 Triliun, Ini Penyebabnya

8 Juni 2026 - 19:10 WIB

Pertamina Umumkan Penurunan Harga BBM Solar Nonsubsidi

1 Juni 2026 - 19:58 WIB

Iduladha 2026: Perputaran Ekonomi Kurban Tembus Rp26,89 Triliun

29 Mei 2026 - 21:48 WIB

Trending di Ekonomi