Menu

Mode Gelap

Ekonomi

Pendapatan Driver Ojol Bisa Turun 20 Persen, Jika WFH Sehari Seminggu

badge-check


					Pendapatan Driver Ojol Bisa Turun 20 Persen, Jika WFH Sehari Seminggu Perbesar

Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya

JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM-Pengemudi ojek daring/online (ojol) menilai rencana kebijakan Work From Home (WFH)/Work From Anywhere (WFA) satu hari selama sepekan untuk aparatur sipil negara (ASN) dan karyawan swasta berpotensi menurunkan jumlah order (pesanan) yang berdampak langsung pada penurunan pendapatan.

Asal tahu saja, kebijakan WFH/WFA pasca libur Lebaran ini disebut sebagai upaya pemerintah untuk melakukan efisiensi bahan bakar minyak (BBM). Langkah ini diambil imbas kenaikan harga minyak dunia yang disebabkan konflik di Timur Tengah.

Presiden Federasi Serikat Pengemudi Daring Indonesia (FSpeed), Budiman Sudardi mengatakan, pengemudi ojol memahami wacana kebijakan ini memiliki tujuan baik untuk efisiensi dan pengurangan kemacetan. “Namun, kebijakan ini dapat menekan jumlah pesanan ojol, khususnya pada hari kerja yang biasanya menjadi puncak mobilitas masyarakat,” jelasnya kepada Kontan, Selasa (24/3/2026).

Budiman bilang, biasanya setelah libur Lebaran langsung terjadi penyesuaian aktivitas pesanan. Namun, setidaknya hingga hari ini, peningkatan jumlah pesanan belum terlihat. Penurunan pendapatan, lanjutnya, akan makin terasa jika rencana kebijakan WFH/WFA ini direalisasikan.

Budiman mencontohkan, pengalaman kebijakan WFH sebelumnya saat pandemi membuat penurunan pesanan pengemudi ojol berada di kisaran 10%–30% di hari penerapan WFH, meski tetap tergantung wilayahnya.

Dus, FSpeed melihat jika kebijakan WFH/WFA ini diterapkan secara konsisten satu hari tiap minggu, penurunan pendapatan pengemudi ojol bisa sebesar 5%-15%, bahkan dapat menyentuh 20% di area bisnis/perkantoran.

“Wilayah perkantoran penurunannya sangat terasa, sedangkan di pemukiman relatif stabil. Kota besar lebih terasa dibanding daerah,” ungkap Budiman.

Ia memproyeksikan, ke depan kemungkinan terjadi perubahan pola permintaan layanan, seperti pergeseran dari layanan antar-jemput penumpang ke pesan-antar makanan. Namun, pergeseran ke pesan-antar makanan dinilai tetap tidak menutup penurunan dari layanan antar-jemput penumpang.

FSpeed berharap, seiring dengan kebijakan ini, platform aplikasi dapat mempertimbangkan adanya insentif harian, misalnya berupa pemangkasan potongan untuk mitra pengemudi agar pendapatan harian pengemudi tetap terjaga.

Budiman menambahkan bahwa pihaknya berharap, dalam menerapkan kebijakan ini, pemerintah telah memperhitungkan dampaknya untuk sektor informal seperti para pekerja ojek online.

“Libatkan kami dalam mitigasi tersebut, agar bisa lebih tepat dalam memberikan solusi bagi yang terdampak. Beri stimulus atau program kompensasi bagi kami pekerja platform,” tandasnya. ***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Telkomsel-XL-Isat Terapkan Skema Ini, Kuota Internet Tak Bakal Hangus,

23 Juni 2026 - 19:21 WIB

Pemerintah Siapkan Stimulus untuk Angkat Ekonomi

22 Juni 2026 - 22:07 WIB

Harga Produksi Naik, Peternak Ayam Rugi Besar

14 Juni 2026 - 19:51 WIB

BI Rate Naik ke 5,5%, Industri Properti Terancam Makin Lesu

12 Juni 2026 - 19:25 WIB

Harga Beras, Minyak dan Bawang Kompak Naik

11 Juni 2026 - 19:51 WIB

Wow..Harga Pertamax Naik Hampir Rp 4.000 per Liter

10 Juni 2026 - 15:24 WIB

MBG Wajib Sajikan Telur Tiga Kali Seminggu, Peternak Jatim Diharapkan Tertolong

9 Juni 2026 - 19:09 WIB

Restrukturisasi Besar, Telkom Pangkas Belasan Anak Perusahaan

9 Juni 2026 - 18:52 WIB

BI: Cadangan Devisa RI Turun Rp23,61 Triliun, Ini Penyebabnya

8 Juni 2026 - 19:10 WIB

Trending di Ekonomi