Penulis: Yusran Hakim | Editor: Priyo Suwarno
JAKARTA, SWARAJOMBANH.COM – Video viral Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak yang menyindir ulama senior KH Anwar Abbas sebagai “cangkem” memicu badai kecaman.
Pernyataan kasar itu merespons kritik MUI agar layanan haji 2026 diperluas dari dua menjadi 10-20 perusahaan syarikah Saudi, demi transparansi bagi 221.000 jemaah Indonesia.
Kronologi Polemik
* 4 November 2025: Anwar Abbas, Wakil Ketua Umum MUI sekaligus Ketua PP Muhammadiyah, mengritik penunjukan hanya dua syarikah oleh Kementerian Haji Saudi (Rakeen Mashariq Al Mutamayizah dan Albait Guest). Ia khawatir hal ini picu kecemburuan sosial dan kurangi kepercayaan publik.
* Akhir November 2025: Respons Dahnil viral di media sosial. Ia sebut kritik Anwar sebagai “cangkem” dan sindir kurang paham soal haji serta distribusi bisnis.
* Januari-Februari 2026: Polemik memanas. Dahnil tuduh ada “kartel” di pengelolaan haji.
Aktivis Muhammadiyah desak Presiden Prabowo copot Dahnil karena dianggap tidak hormat ulama senior.
Netizen ramai imbau Dahnil hormati tokoh Muhammadiyah.
Kebijakan Dua Syarikah
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI ikuti saran Saudi batasi maksimal dua syarikah untuk haji 2026.
Ini evaluasi dari kekacauan haji 2025 dengan delapan syarikah: bus telat, jemaah jalan kaki, dan keluarga terpisah hotel.
Proses lelang libatkan 66 syarikah. Terpilih Rakeen dan Albait karena performa terbaik sebelumnya.
Kebijakan ini tekan biaya BPIH Rp2 juta per jemaah, mudahkan pengawasan, dan hindari intervensi politik.
Disepakati DPR serta pemerintah Saudi untuk kualitas optimal. Dampak dan Respons TerkiniKontroversi soroti dilema efisiensi vs keadilan.
Dahnil bela kebijakan Saudi demi biaya murah. Hingga Maret 2026, desakan pencopotan Dahnil masih riuh di media sosial. Belum ada respons resmi pemerintah.**











