Menu ✖

Mode Gelap

Nasional

10 dari 12 Kecamatan Pacitan Terdampak Gempa Mag 6.2, Tidak Ada Korban Jiwa

badge-check


					Aparatur BPBD Pacitan melakukan pendataan dan memberikan bantuan kepada korban, pasca terjadi gmepa 6.2 magnetudo, Jumat 6 Febrauri 2026. Foto: swarajombang.com/ bambang tjuk winarno Perbesar

Aparatur BPBD Pacitan melakukan pendataan dan memberikan bantuan kepada korban, pasca terjadi gmepa 6.2 magnetudo, Jumat 6 Febrauri 2026. Foto: swarajombang.com/ bambang tjuk winarno

Penulis: Bambang Tjuk Winarno  |  Editor: Priyo Suwarno

PACITAN, SWARAJOMBANG.COM – Gempa tektonik M 6,2 yang melanda wilayah Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, pada tengah malam, Jumat (06/02/2026) pukul 01.06, menjadi yang terbesar pertama, setelah meletusnya tsunami dalam kurun ratusan tahun sebelumnya.

Bahkan peristiwa seismik kali ini ‘memakan’ lebih dari 80 persen wilayah kecamatan yang tersebar di tanah kelahiran Presiden ke 6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Sebelumnya, menurut sejumlah literasi, lebih dari seratus tahun yang lalu disebutkan wilayah Kabupaten Pacitan pernah dua kali tergulung tsnunami.

Kedua peristiwa itu terjadi di zaman kolonial, yakni pada 4 Januari 1840 dan 20 Oktober 1859. Dan ratusan tahun setelahnya belum pernah terjadi gempa besar, kecuali yang baru berlangsung Jumat tengah malam lalu.

Mengutip penjelasan Operator Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BPBD Kabupaten Pacitan, B. Antoro, Minggu (08/02/2025), energi gempa dua hari lalu itu merambah hingga 10 dari total jumlah kecamatan di kabupaten itu, yakni 12 wilayah kecamatan.

Pusat guncangan keras itu berada di laut sejauh 89 kilometer arah Tenggara Kota Pacitan, dengan kedalaman 58 kilometer.

Sepuluh wilayah kecamatan yang terimbas guncangan hingga mengakibatkan rusaknya puluhan rumah warga dan fasilitas umum itu masing-masing Kecamatan Pringkuku, Punung, Pacitan, Nawangan, Arjosari, Kebonagung, Bandar, Tulakan, Ngadirojo dan Kecamatan Sudimoro.

Sedangkan dua wilayah yang aman dari kerusakan namun tetap merasakan guncangan yang sama, masing-masing Kecamatan Tegalombo dan Donorojo.

Meski aman, namun otoritas kebencanaan setempat meminta seluruh masyarakat tetap menaruh perhatian ekstra, menyangkut kewaspadaan dan kehati-hatiannya mengingat munculnya gempa bumi sulit diprediksi sebelumnya.

“Dalam kurun beberapa tahun sebelumnya, belum pernah ada gempa bumi besar di Pacitan. Mudah-mudahan gempa 6,2 SR kemarin menjadi yang paling besar, yang terjadi di Pacitan di masa-masa ini, dan tidak ada lagi. Bahkan mencatat adanya seorang korban jiwa,” ujar Antoro kepada koresponden, Minggu (08/02/2026).

Dikatakan Antoro, BPBD Pacitan mendata, lindu yang menyerang mengakibatkan rusaknya 43 bangunan tempat tinggal warga, termasuk 5 unit diantaranya berupa fasilitas umum. Tingkat kerusakan bangunan yang umumnya pada atap, dinding, plafon, tiang dan sisi bangunan lainnya berkategori ringan sebanyak 39 unit, serta kategori sedang sebanyak 4 unit.

Wilayah yang paling banyak menanggung kerusakan bangunan terdapat di Kecamatan Arjosari dengan 11 bangunan rumah, termasuk di dalamnya terdapat 2 unit fasilitas umum.

Sedangkan fasilitas umum yang mengalami kerusakan diantaranya Kantor PKK, gedung Madrasah Ibtidaiyah GUPPI Borang (keduanya berada di Desa Mlati dan Borang, Kecamatan Arjosari), SDN 3 Tamanasri (Desa Tamanasri, Kecamatan Pringkuku) dan SMPN 4 Sudimoro (Desa Sembowo, Kecamatan Sudimoro).

Sedangkan korban meninggal dunia dampak bencana itu adalah Joko Santoso, 53 tahun, warga Desa Tanjungpuro, Kecamatan Ngadirojo. Tewasnyanya korban bukan sebab tertimpa reruntuhan bangunan, melainkan diduga kondisi kejut menyadari adanya bencana gempa bumi.

“Sebelum meninggal dunia, korban masih sempat keluar rumah berusaha menyelamatkan diri saat terjadi gempa. Sempat ngobrol dengan tetangganya tentang peristiwa itu. Namun korban terjatuh saat hendak kembali masuk rumahnya. Korban dibawa ke rumah sakit, tapi tidak tertolong. Tidak ada korban luka dalam peristiwa ini,” terang Antoro.

Antoro mengatakan, pasca gempa tengah malam itu BPBD setempat mencatat terjadinya gempa susulan sebanyak 16 kali. Kegempaan ‘peranakan’ itu berkekuatan rendah, dengan interval waktu beruntun tidak terlalu jauh dan tidak menimbulkan efek kerusakan. Sedangkan potensi gempa yang terjadi hingga detik ini masih dalam proses penginputan.

Menyangkut penanganan pasca gempa, otoritas pemerintah daerah setempat, menurut Antoro, langsung melakukan langkah kemanusiaan.

BPBD dan unsur terkait lainnya menyalurkan bantuan logistik kepada seluruh korban terdampak gempa, berupa makanan siap saji, family kid, terpal dan lainnya termasuk turut memperbaiki rumah warga yang rusak.

Sebagai antisipasi, BPBD setempat mengimbau, khususnya seluruh masyarakat Kabupaten Pacitan, agar tetap meningkatkan kewaspadaannya terkait situasi lingkungan. Mengingat, terjadinya gempa bumi tidak bisa diprediksi sebelumnya. **

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Kapolres Jombang Buka Kejurprov Bola Voli U-19 Antar Klub se-Jawa Timur

23 Oktober 2026 - 14:28 WIB

Mengikis Pengangguran, Kadisnaker Isawan: Serap 6.718 Naker 2026 Lewat Talenta dan Jemput Kerja

23 Oktober 2026 - 08:45 WIB

Kebakaran Hebat Timpa Pengolahan dan Gudang Ban Bekas di Trowulan, Damkar Butuh 10 Jam untuk Padamkan

23 Oktober 2026 - 07:25 WIB

Aksi Unjuk Rasa Turunkan Menteri Kehutanan, Doni Angun Tanda Tangani Surat Aspirasi Mahasiswa

22 Oktober 2026 - 19:12 WIB

Tebu Bukan Hanya untuk Gula, Bisa Jadi Minuman dan Alat Makan

22 Oktober 2026 - 18:50 WIB

Anggota Parlemen Malaysia Kalam Salan Gunakan Bahasa Jawa Desak Presiden Prabowo Hentikan Karhutla

22 Oktober 2026 - 17:26 WIB

Peringati Hari Jadi ke 116, Bupati Warsubi Ziarah di Makam Pendiri Jombang

22 Oktober 2026 - 13:04 WIB

Prajurit TMMD 130 Jombang Melalui Komsos Membangun Desa Klitih Plandaan

22 Oktober 2026 - 09:48 WIB

Pasar Cukir Jombang Terbakar, Sebanyak 54 Kios Pakaian Ludes

22 Oktober 2026 - 07:39 WIB

Trending di Nasional