Menu

Mode Gelap

Ekonomi

Empat Wilayah segera Peletakkan Batu Pertama Proyek PSEL Anggaran Rp 2-3 Triliun

badge-check


					Menteri LHK Hanif Faisol Nurofiq. Foto: ist Perbesar

Menteri LHK Hanif Faisol Nurofiq. Foto: ist

Penulis: Yusran Hakim | Editor: Priyo Suwarno

JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM — Empat kawasan aglomerasi utama di Indonesia, yakni Bogor Raya, Yogyakarta Raya, Bekasi, serta Denpasar Raya, berencana memulai peletakan batu pertama proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) atau konversi sampah menjadi listrik pada Maret 2026.

Pernyataan itu disampaikan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Hanif Faisol Nurofiq saat rapat kerja dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta, pada Senin (26/1/2026).

Biaya pengembangan satu unit PSEL bervariasi berdasarkan ukuran, berkisar Rp2-3 triliun. Untuk 34 inisiatif PSEL di seluruh negeri yang dikoordinasikan Danantara, totalnya mencapai Rp600 triliun. Sementara mencapai target 452,7 MW hingga 2034 membutuhkan dana Rp45,4 triliun.

Contohnya, proyek di Legok Nangka, Jawa Barat, ditaksir Rp4 triliun. Keempat situs siap groundbreaking (Bogor Raya, Yogyakarta Raya, Bekasi, Denpasar Raya) punya nilai investasi sekitar Rp2,5-3,2 triliun masing-masing.

Dasar hukumnya adalah Perpres Nomor 109 Tahun 2025 tentang penanganan sampah kota untuk energi terbarukan, dengan Danantara sebagai pemilik saham dominan.

Lelang untuk empat lokasi itu sudah rampung, menarik lebih dari 200 peserta dari perusahaan dalam negeri maupun mancanegara.

Pembangunannya diproyeksikan berlangsung 1,5-2 tahun, membantu mengurai sebagian dari 14.000 ton sampah harian di 10 kawasan prioritas seperti Tangerang, Semarang, dan Medan.

Walaupun hanya berkontribusi 13% pada pengurangan sampah nasional, inisiatif ini mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, ciptaan lapangan kerja, serta pasokan energi ramah lingkungan.

Menteri LHK Hanif Faisol Nurofiq jadi pembicara kunci soal kesiapan groundbreaking PSEL di empat wilayah tersebut. CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, berbagi perkembangan lelang kilat dan antusiasme investor terhadap skema waste-to-energy.

Direktur Jenderal EBTKE Eniya Listiani Dewi pula menyentuh peluang produksi 452 MW dari sampah sesuai RUPTL 2025-2034. Paparan mereka disuarakan lewat konferensi pers, forum investasi, serta diskusi publik akhir Januari 2026, yang semuanya menggarisbawahi penguatan regulasi Perpres 109/2025. **

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Harga Produksi Naik, Peternak Ayam Rugi Besar

14 Juni 2026 - 19:51 WIB

BI Rate Naik ke 5,5%, Industri Properti Terancam Makin Lesu

12 Juni 2026 - 19:25 WIB

Harga Beras, Minyak dan Bawang Kompak Naik

11 Juni 2026 - 19:51 WIB

Wow..Harga Pertamax Naik Hampir Rp 4.000 per Liter

10 Juni 2026 - 15:24 WIB

Polresta Sidoarjo Diancam Didemo Lantara Dinilai Lamban Tangani Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Terhadap Anak Dibawah Umur

9 Juni 2026 - 19:16 WIB

MBG Wajib Sajikan Telur Tiga Kali Seminggu, Peternak Jatim Diharapkan Tertolong

9 Juni 2026 - 19:09 WIB

Restrukturisasi Besar, Telkom Pangkas Belasan Anak Perusahaan

9 Juni 2026 - 18:52 WIB

BI: Cadangan Devisa RI Turun Rp23,61 Triliun, Ini Penyebabnya

8 Juni 2026 - 19:10 WIB

Pertamina Umumkan Penurunan Harga BBM Solar Nonsubsidi

1 Juni 2026 - 19:58 WIB

Trending di Ekonomi