Menu

Mode Gelap

Nasional

Viral, Romo Bayu Ungkap Sejarah Santa Claus, yang Asli Berbaju Hijau, Bukan Merk Cola

badge-check


					Viral, Romo Bayu Ungkap Sejarah Santa Claus, yang Asli Berbaju Hijau, Bukan Merk Cola Perbesar

Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga

SURABAYA, SWARAJOMBANG.COM
Dalam sebuah video di saluran Katkit Brevis pada 21 Desember 2025, Romo Bayu mengulas sejarah Santa Claus yang selama ini dikenal masyarakat. Ia menyoroti kesalahpahaman tentang sosok pria gemuk berbaju merah yang populer di budaya modern.

“Santa Claus yang dikenal sekarang yang hoho itu loh ya. Nah, ini sekarang saya mau buka rahasianya nih. Ini ada rahasia penting yang orang banyak enggak tahu,” ungkapnya.

Menurut Romo Bayu, visual Santa Claus modern tidak lepas dari pengaruh industri minuman. “Itu iklannya Coca-Cola. itu Santa Claus-nya Coca-Cola. Itulah kenapa warnanya merah. Warna produknya Coca-Cola warnanya apa? Merah,” tegasnya.

Padahal, sosok historis di balik legenda adalah Santo Nicholas, seorang uskup abad keempat yang dikenal dermawan. “Santa Claus yang asli bukan begitu. Santa Claus yang asli itu bukan yang jenggot panjang merah. Ho ho ho. Bukan begitu. Santa Claus yang asli berpakaian uskup, bajunya hijau, biasanya pakaian hijau,” jelas Romo Bayu.

Ia juga menyinggung evolusi nama tokoh tersebut. “Aslinya bernama Nikolas. Santo Nicholas, San Nicholas, Sanlas, San Class, sinterclass, Santa Claus itu perubahan nama. Itu artinya namanya fonetic koresponden biasa begitu. Jadi Santa Claus yang asli seorang bernama Santo Nicholas dari kota Mira,” katanya.

Perubahan citra dari uskup berbaju hijau menjadi figur komersial berbaju merah terjadi karena kepentingan pemasaran. “Suatu kali tahun mungkin 60-an, 70-an persisnya saya lupa, ide mengenai Santo Nicholas atau Sinterclass atau Santa Claus ini dibajak oleh Coca-Cola,” paparnya.

Strategi tersebut, lanjutnya, dilakukan untuk mengatasi penurunan penjualan minuman dingin saat musim salju. “Kenapa Coca-Cola begitu? Karena Desember musim dingin. Coca-Cola kalau dinikmati dingin sulit. Jadi penjualan Desember merosot tajam dengan iklan komersialisasi begitu meningkat tajam,” ujarnya.

Fenomena ini kemudian berkembang menjadi budaya populer global, hingga menenggelamkan sejarah aslinya. “Sayangnya orang Katolik mempopulerkan barang palsu ini ketimbang mempopulerkan barang aslinya,” ucap Romo Bayu prihatin.

Meski begitu, ia menegaskan tidak bermaksud melarang perayaan atau ornamen Santa Claus. Tujuannya adalah meluruskan pemahaman sejarah agar akar tradisi tidak dilupakan. “Apakah berarti Rama Bayu melarang hoho itu tampil? Tidak. Hanya mari berpikir ada sesuatu yang dibelokkan dari kebenaran-kebenaran aslinya,” pungkasnya.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Nona Empat Cewek Indonesia yang Sukses Menembus Blantika Musik Dunia

2 Juli 2026 - 15:34 WIB

Warga Plemahan Desak PT SGP Berhenti Operasi Selama Instalasi Limbah Belum Diperbaiki Sesuai Standar

2 Juli 2026 - 14:45 WIB

DPRD Bontang Berencana Anggarkan Rp24 Juta/ Tahun untuk Beli Kopi Jadi Pergunjingan Warga

2 Juli 2026 - 13:27 WIB

Kunjungan Kerja ke PT Java Fortis, Komisi B DPRD Jombang Cek Manfaat bagi Pembangunan

2 Juli 2026 - 12:48 WIB

Dr. Wong Chung Chek, The Most Wanted Doctor, Ahli Bedah Tulang Belakang Terkemuka di Asia-Pasifik

2 Juli 2026 - 10:51 WIB

Bahan Kimia Obat Ditemukan pada 12 Obat Bahan Alami

1 Juli 2026 - 20:10 WIB

Menelisik Akar Terorisme (30): Pasukan Celana Pendek dalam Kerusuhan Suci

1 Juli 2026 - 19:04 WIB

Eddy Triono: APBN Utang Rp600 Triliun, Pemerintah Kenakan Pajak Jaminan Hari Tua

1 Juli 2026 - 18:44 WIB

Mochtar Riyadi Bangga kepada Anaknya: James Hibahkan Lahan ke Negara Senilai Ro1,2 Triliun

1 Juli 2026 - 14:31 WIB

Trending di Nasional