Menu

Mode Gelap

Nasional

Hari Tanpa Bayangan Terjadi Pekan Ini, Simak Juga Mitosnya

badge-check


					Menegakkan telur saat Hari Tanpa Bayangan Perbesar

Menegakkan telur saat Hari Tanpa Bayangan

Penulis: Satwiko Rumekso | Editor: Yobie Hadiwijaya

SURABAYA, SWARAJOMBANG.COM-Hari tanpa bayangan atau kulminasi adalah fenomena ketika Matahari tepat berada di posisi tertinggi di langit. Uniknya, fenomena hari tanpa bayangan ini bisa diamati di berbagai wilayah Indonesia pada pekan ini 7-15 Oktober 2025.

Mengutip laman BMKG, momen ketika deklinasi Matahari sama dengan lintang pengamat, fenomenanya disebut sebagai ‘Kulminasi Utama’. Saat Matahari tepat berada di atas kepala pengamat, bayangan benda tegak akan tampak ‘menghilang’.

Hal Ini karenakan bayangan bertumpuk dengan benda itu sendiri. Maka itu, kulminasi utama akhirnya dikenal sebagai hari tanpa bayangan.

Fenomena ini terjadi karena bidang ekuator Bumi/bidang rotasi Bumi tidak tepat berimpit dengan bidang ekliptika. Demikian mengutip Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Mengingat posisi Indonesia yang berada di sekitar ekuator. Kulminasi utama di wilayah Indonesia akan terjadi dua kali dalam setahun dan waktunya tidak jauh dari saat Matahari berada di khatulistiwa.

Pada 2025, Matahari tepat berada di atas Kota Pontianak pada 20 Maret 2025 pukul 11.50 WIB. Dan 23 September 2025 pukul 11.35 WIB.

Sementara pada 21 Juni 2025 pukul 09.40 WIB Matahari berada di titik balik Utara. Dan pada 21 Desember 2025 pukul 22.02 WIB Matahari berada di titik balik Selatan.

Mitos Beredar

Banyak mitos-mitos di balik hari tanpa bayangan ini, yang sebenarnya tidaklah tepat.

1. Suhu permukaan bumi naik
Pada saat fenomena hari tanpa bayangan terjadi, tidak serta memengaruhi kenaikan suhu di permukaan Bumi saat tengah hari bagi wilayah mengalami hari tanpa bayangan.

Hal ini dikarenakan kenaikan suhu tidak hanya dipengaruhi oleh sudut penyinaran, melainkan juga dipengaruhi oleh tutupan awan, kadar kelembaban dan jumlah bibit awan hujan. Semakin kecil tutupan awan, kadar kelembaban dan bibit awan hujan di wilayah tersebut, maka suhu permukaan Bumi akan maksimum saat tengah hari. Selain itu, jarak Bumi-Matahari juga sedikit berperan dalam kenaikan dan penurunan suhu rata-rata permukaan Bumi meskipun hanya 2,4°C.

2. Menegakkan telur saat ekuinoks dan hari tanpa bayangan
Selain salah kaprah meningkatnya suhu saat hari tanpa bayangan, ada juga salah kaprah mengenai menegakkan telur baik saat ekuinoks maupun hari tanpa bayangan Matahari.

Secara fisis, gaya pasang surut/kuncian yang diakibatkan oleh Matahari memang bernilai maksimum saat sinar Matahari tegak lurus permukaan Bumi yang mengalami hari tanpa bayangan Matahari. Sementara itu, bagian di dalam cangkang telur seperti kuning telur dan putir telur tersusun dari larutan suspensi yang merupakan campuran antara air dan protein.

Akan tetapi, gaya pasang surut hanya memengaruhi secara signifikan terhadap zat cair yang bermassa cukup besar seperti samudera di permukaan Bumi (massa samudera Bumi sekitar 1,35 kuintiliun (1018) ton). Hal ini dikarenakan besarnya gaya pasang surut dari Matahari terhadap Bumi yang dialami benda bermassa 1 kg hanya sekitar seperduapuluh juta gaya gravitasi yang dialami benda yang bermassa sama.

Sedangkan massa satu butir telur (termasuk cangkang) sekitar seperenambelas kg (62,5 gram). Jika massa cangkang telur sekitar 10% dari keseluruhan massa telur, maka massa telur tanpa cangkang sekitar 56,2 gram. Sehingga, gaya pasang surut yang dialami telur tidak dialami secara signifikan.

Menegakkan telur sebenarnya dapat dilakukan kapan saja tanpa harus menunggu ekuinoks (bagi pengamat di ekuator) maupun hari tanpa bayangan Matahari, selama permukaan yang digunakan untuk menegakkan terus terdapat sedikit cekungan kecil sehingga dapat menopang ujung telur yang bulat.

Daftar Wilayah yang Bisa Mengamati Hari Tanpa Bayangan Oktober 2025

Bandar Lampung: 7 Oktober 2025 pukul 11.46.49 WIB

Kepulauan Seribu: 7 Oktober 2025 pukul 11.41.24 WIB

Serang: 8 Oktober 2025 pukul 11.42.56 WIB

Jakarta Utara: 8 Oktober 2025 pukul 11.39.54 WIB

Jakarta Pusat: 9 Oktober 2025 pukul 11.39.58 WIB

Jakarta Barat: 9 Oktober 2025 pukul 11.40.20 WIB

Jakarta Selatan: 9 Oktober 2025 pukul 11.40.05 WIB

Jakarta Timur: 9 Oktober 2025 pukul 11.39.45 WIB

Sofifi: 9 Oktober 2025 pukul 12.22.53 WIT

Bandung: 11 Oktober 2025 pukul 11.36.20 WIB

Semarang: 11 Oktober 2025 pukul 11.24.58 WIB

Surabaya: 12 Oktober 2025 pukul 11.15.39 WIB

Yogyakarta: 13 Oktober 2025 pukul 11.24.47 WIB

Denpasar: 15 Oktober 2025 pukul 12.04.57 WITA

Mataram: 15 Oktober 2025 pukul 12.01.24 WITA

Merauke: 15 Oktober 2025 pukul 11.51.16 WIT.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Musim Liburan, Antrean Panjang di Pelabuhan Ketapang

23 Juni 2026 - 19:08 WIB

Polisi Ringkus Taufik Hidayat di Cibiru setelah 23 Hari Buron, Sekap dan Siksa Yuvita Lestari 1.095 Hari di Bandung

23 Juni 2026 - 14:52 WIB

Tanah Hibah 880 m² Dikuasai Orang, Waki’ah Minta Polisi Usut

23 Juni 2026 - 14:48 WIB

Kerja Cepat TPPA Batam Selamatkan Bocah 9 Tahun dari Penganiayaan Ibu Tiri

23 Juni 2026 - 12:18 WIB

Rapat Paripurna DPRD Jombang Mendengar Jawaban Bupati atas Masukan Dewan terhadap APBD 2025

23 Juni 2026 - 11:01 WIB

Roy Suryo Terima Kasih kepada Presiden Prabowo atas Status Tahanan Luar Bersama Dokter Tifa

23 Juni 2026 - 10:25 WIB

Jual Beli Titik Semakin Nyata, Diduga Ada 100 SPPG Fiktif di Cilacap

23 Juni 2026 - 09:24 WIB

Menelisik Akar Terorisme (24): Kata Sandi ‘Saya Mengenalmu!’

22 Juni 2026 - 23:43 WIB

Pemulihan Pasien Skizofrenia Berbasis Komunitas, Unusa Libatkan Yayasan Al Hafish Sidoarjo

22 Juni 2026 - 22:18 WIB

Trending di Nasional