Penulis: Arief Hendro Soesatyo | Editor: Priyo Suwarno
JOMBANG, SWARAJOMBANG.COM – Perkumpulan seni ludruk Budhi Wijaya akan menggelar rangkaian pertunjukan selama sebulan penuh pada September 2025. Mereka menghibur masyarakat di daerah Gresik, Lamongan, Sidoarjo, dan Surabaya.
Acara ini merupakan pertunjukan rutin keliling yang dipimpin Didik Purwanto, owner sekaligus CEO Grup Ludruk Budhi Wijaya, yang berasal dari Ngusikan, Jombang, Jawa Timur. Saat ini, sekitar 25 grup ludruk aktif di Kabupaten Jombang, menandakan bahwa kesenian tradisional ini masih hidup dan terus berkembang meskipun menghadapi tantangan zaman.
Beberapa grup ludruk secara rutin menggelar pertunjukan dalam berbagai acara budaya dan festival di tingkat lokal maupun provinsi Jawa Timur. Bahkan menurut pimpinan ludruk Budhi Wijaya, Didik Purwanto, mengatakan setelah selesai keliling Jatim sampai akhir tahun 2025, telah mendapat undangan untuk manggung di Australia pertengah 2026.
Ludruk Budhi Wijaya didirikan pada tahun 1984 oleh Sahid Pribadi, ayah dari Didik Purwanto. Kini, Didik sebagai generasi kedua memimpin grup yang berbasis di Dusun Simowau, Desa Ketapang Kuning, Kecamatan Ngusikan, Jombang. Grup ini beranggotakan sekitar 80 seniman yang tidak hanya berasal dari Jombang, tetapi juga dari Mojokerto dan Nganjuk.
Didik Purwanto, lahir 11 Desember 1979, memegang peranan penting dalam mengembangkan dan melestarikan seni ludruk di daerahnya. Di bawah kepemimpinannya, Ludruk Budhi Wijaya dikenal luas dan secara rutin menggelar pertunjukan di berbagai wilayah Jawa Timur seperti Mojokerto, Pasuruan, dan Gresik. Mereka juga memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan pertunjukan.
Didik Purwanto, owner sekaligus CEO Ludruk Budhi Wijaya, Jombang. Foto: Dok/ Ludruk
Budhi Wijaya
Untuk mengundang Ludruk Budhi Wijaya, biasanya dapat langsung menghubungi Didik Purwanto. Biaya pentas lengkap di wilayah Jombang dan Mojokerto sekitar Rp 20 juta, tergantung permintaan, apakah menggunakan panggung besi (ridging) atau panggung terbuka. Grup ini juga memiliki perlengkapan panel elektronik sebagai latar belakang.
Pertunjukan biasanya dimulai pukul 21.00 WIB hingga dini hari, namun bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Setiap pentas diawali dengan menyalakan dupa sebagai simbol keselamatan dan kelancaran acara.
Tidak hanya tampil tradisional, Ludruk Budhi Wijaya juga sudah merambah dunia digital dengan Studio TV, kanal YouTube, media sosial, serta menggabungkan alat musik pelog dan slendro, lengkap dengan alat musik band.
Didik menjelaskan, “Kami sudah melakukan metamorfosis, mengikuti selera zaman. Kami tampil beda dengan jurus menghibur masyarakat sesuai selera masa kini.” Oleh karena itu, Budhi Wijaya tetap eksis hingga kini, berusia 45 tahun.
Karena keunikan dan eksistensinya, Ludruk Budhi Wijaya diundang tampil di Bentara Budaya Jakarta dalam pameran seni rupa tunggal berjudul Moelyono dan Seni Rupa Ludrukan Desa yang berlangsung dari 10 hingga 19 Juli 2025. Pada pembukaan, mereka membawakan lakon Geger Pabrik Gula Gempol Kerep, yang disambut hangat dan mengundang tawa penonton.
Seniman ludruk Budhi Wijaya bersama budayawan Sujiwo Tejo, di Benatar Budaya
Kompas, Jakarta, Juli 2025. Foto: Dok/ Ludruk Budhi Wijaya
Pertunjukan ini menjadi bagian dari pameran yang memadukan seni rupa kontemporer dan kesenian ludruk tradisional dengan fokus pada akar budaya rakyat serta perjuangan buruh tani di perkebunan tebu. Didik Purwanto juga menjadi narasumber dalam diskusi seni budaya di acara tersebut.
Pameran menampilkan karya seniman Moelyono yang berkolaborasi dengan Ludruk Budhi Wijaya, menjadikan ludruk sebagai medium kritik sosial dan perlawanan budaya rakyat kecil. Kehadiran Ludruk Budhi Wijaya di Bentara Budaya semakin memperkuat makna dan semangat pameran.
Didik berencana memperluas pertunjukan tidak hanya di Jombang dan Jawa Timur, tetapi juga ke daerah lain. “Akhir tahun kami akan tampil di Banyuwangi, dan tahun depan sudah mendapat undangan dari Australia,” ujarnya menjawab Swarajombang.com.
Sejarah Ludruk Budhi Wijaya bermula pada tahun 1985 saat Sahid Pribadi mendirikan kelompok ini di Dusun Simowau, Desa Ketapang Kuning, Kecamatan Ngusikan, Jombang. Sebelumnya, Sahid aktif di Ludruk Warna Jaya, namun karena konflik internal terkait pembayaran pemain, ia memilih mendirikan grup sendiri yang awalnya bernama Budhi Jaya, kemudian diganti menjadi Budhi Wijaya agar lebih eksis dan berjaya.
Grup ini memulai dari nol dengan menggelar pertunjukan dari kecamatan ke kecamatan melalui hajatan masyarakat. Pada 1990-an, mereka mulai terkenal dan rutin tampil tidak hanya di Jombang tapi juga di Mojokerto, Pasuruan, Gresik, Probolinggo, dan Lamongan. Pada puncaknya di tahun 2005, grup ini menerima ratusan job pertunjukan dalam setahun.
Didik Purwanto membawa inovasi dengan menambahkan alat musik modern seperti gitar, keyboard, dan drum tanpa merusak pakem tradisional ludruk, serta menambahkan atraksi tari ular dan campursari guna menarik penonton. Ludruk Budhi Wijaya adalah salah satu grup yang paling aktif dan kreatif di Jombang, menjaga minat masyarakat terhadap seni ludruk hingga sekarang. **














