Penulis: Sri Muryanto | Editor: Priyo Suwarno
BANTUL, SWARAJOMBANG.COM – Komunikasi publik Banser (Barisan Ansor Serbaguna) tak boleh sekadar kata-kata manis, tapi harus melahirkan semangat cinta NKRI, pegangan teguh Pancasila, harmoni antarwarga, penghargaan pada keragaman, serta kiprah nyata dalam atasi persoalan sosial hingga bencana alam.
Itulah inti pembekalan komunikasi publik bertema “Bijak, Mawas, dan Wajib” untuk seluruh kader Banser. Acara ini digelar dalam Latihan Instruktur & Kursus Pelatih II Gerakan Pemuda Ansor di SPN Polda DIY, Imogiri, Bantul, Yogyakarta.
Pelatihan dibuka secara khidmat oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam upacara dihadiri 6.000 anggota Banser pada Sabtu (14/2/2026).
Pembekalan ini diikuti 200 instruktur dan pelatih Banser dari seluruh Indonesia, dengan dua narasumber utama:
- Konsultan Komunikasi Publik AM Putut Prabantoro, Pendiri sekaligus Penasihat Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI);
- Peraih GP Ansor “Riyanto Award” AKP Yulianto, SH, MH, Kapolsek Gedong Tengen, Yogyakarta.
- Moderator Hermawanto, tokoh GP Ansor asal Wilayah Malang.
AKP Yulianto adalah menerima penghargaan tersebut pada 23 Desember 2025 saat masih menjabat Kapolsek Ngaglik, Sleman, Yogyakarta.
Ketua Umum GP Ansor Addin Jauharudin memuji Yulianto sebagai teladan sukses komunikasi tingkat desa. Ia berhasil menyatukan warga lintas agama dan kelompok dalam sinergi kuat.
Riyanto Award merupakan penghargaan kemanusiaan dari GP Ansor untuk individu atau kelompok berprestasi menjaga toleransi, keragaman, dan keamanan antarumat beragama.
Penghargaan ini memperingati Riyanto, anggota Banser yang tewas malam Natal 24 Desember 2000. Ia mengorbankan diri dengan memeluk bom saat amankan Misa Natal di Gereja Eben Haezer, Mojokerto, Jawa Timur, demi lindungi ratusan jemaat.
BMW: Kunci Komunikasi Bijak
AM Putut Prabantoro menekankan, komunikasi publik era kini penuh tantangan. Ia ajak peserta terapkan BMW: Bijak, Mawas, Wajib.
“Bijak” artinya hati-hati pilih kata saat bicara atau unggah di medsos. “Mawas” berarti waspada terhadap risiko, baik dari ucapan lisan maupun jari di dunia digital. Sementara “Wajib” adalah patuhi norma tertulis maupun tak tertulis.
Putut peringatkan, salah komunikasi bisa picu konflik hukum, dipicu oleh komunikator, saluran, lingkungan buruk, atau isi pesan. Ukuran sukses: kader Banser paham instruksi, patuh pada pemimpin, dan loyal organisasi.
Sementara AKP Yulianto bagikan pengalaman bangun harmoni di kecamatan kerjanya. Sinergi warga jadi pondasi utama komunikasi akar rumput, didasari cinta tanah air, hormat keragaman agama-suku, hidupkan budaya lokal, dan gotong royong. “Semakin sering bertemu dan dialog, semakin pudar kecurigaan,” ujarnya.
Proses ini butuh energi, waktu, dan ketulusan. Ngaglik, dengan warga beragam suku, ekonomi, dan rumah ibadah, jadi contoh Indonesia mini berbasis Pancasila. Sinergi dimulai dari pemuda lintas latar, termasuk kolaborasi polisi-Banser untuk cipta wilayah aman dan damai. “Ngaglik harus jadi rumah bersama,” tegas Yulianto. **











