Penulis: Bambang Tjuk Winarno | Editor: Priyo Suwarno
PACITAN, SWARAJOMBANG.COM- Gempa berkekuatan mangentudo 6.4 di Pacitan Jawa Timur, Jumat 01.06 WIB dinihari, 6 Februari 2026, menimbulkan gempa susulan sebanyak 16 kali, efeknya terasa sampai di wilayah sebagaian Jogja, Jateng dan Jatim.
Update laporan BPBD Pacitan mencatat 15 bangunan rusak, termasuk rumah warga dan sekolah seperti SMPN 4 Sembowo di Kecamatan Sudimoro.
Kerusakan teras rumah Sumarno di Kelurahan Ploso ambruk, tapi keluarga sempat evakuasi. Atap dapur Juminto di Ploso juga roboh.
Getaran gempa ini terasa keras di Bantul, Yogyakarta. Tercatat ada 13 titik kerusakan (8 rumah, 2 tempat ibadah, 2 fasilitas pendidikan, 1 fasilitas pemerintah, 1 fasilitas kesehatan) dengan 15 korban luka ringan hingga patah tulang.
Di wilayah Jawa Timur, kerugian materi di wilayah terdampak seperti Blitar dan Pacitan ditaksir hingga Rp 70 juta, tapi tidak ada korban jiwa.
Kerusakan bangunan terdampak gempa tersebar di sejumlah desa yang tersebar di tiga kecamatan, Kecamatan Pacitan, Pringkuku dan Arjosari. Sedangkan kerusakan menjangkau beberapa sisi bangunan rumah dan sekolahan, meliputi atap, plafon, dinding, teras dan bagian lainnya.
Para korban yang umumnya tengah beristirahat saat bencana tiba dan mengakibatkan tempat tinggalnya berantakan masing-masing:
- Agus, warga Lingkungan Gantung, Kelurahan/Kecamatan Pacitan, Marno, warga Lingkungan Kebon, Kelurahan Ploso, Kecamatan Pacitan, Juminto, warga Lingkungan Temon, Kelurahan Ploso, Kecamatan Pacitan.
- Lilik, warga Desa Menadi, Kecamatan Pacitan, Suwito, warga Desa Taman Asri, Kecamatan Pringkuku
- Sebuah gedung Madrasah Ibtidaiyah yang berada di Desa Weru, Kecamatan Arjosari. Kondisi bangunan terdampak pada umumnya memiliki tingkat kerusakan ringan hingga sedang.
Meski tempat tinggalnya mengalami kerusakan, menurut salah seorang relawan setempat, Didin, para penghuni tidak diungsikan petugas atau berinisiatif mengungsi.
“Sejauh ini tidak ada korban yang diungsikan atau mengungsi sendiri, Mas,” kata Didin kepada koresponden, Jumat (06/02/2026).
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pacitan, Erwin Andriatmoko, S.STP., MM., menyebutkan bencana alam gempa bumi merupakan peristiwa alam yang hingga kini sulit diprediksi.
Guncangan gempa Pacitan saat ini, menurutnya, sangat terasa karena berada di dasar laut yang dangkal.
Dia merinci, pergerakan atau pergeseran lempengan bumi berada di laut dengan jarak 89 kilometer arah tenggara Kota Pacitan.
Sedangkan titik episentrumnya berada pada kedalaman 58 kilometer. Meski begitu, jelasnya, gempa itu tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
“Gempa bumi ini berada pada jarak 89 kilometer arah tenggara Kota Pacitan. Dengan kedalam 58 kilometer. Gempa itu sangat dangkal makanya guncangannya sangat bisa dirasakan. Dimungkinkan adanya gempa susulan sebanyak enam belas kali. Meski begitu peristiwa ini tidak menimbulkan tsunami,” terang Erwin Andriatmoko dalam video siaran pers.
Karena gempa merupakan bencana yang sulit diprediksi sebelumnya, pinta Erwin, para korban terdampak diminta segera berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait. Hal itu, sambungnya, guna mempercepat dan memperlancar penanganan para korban yang dilakukan para petugas.
Dia menghimbau, agar untuk sementara waktu masyarakat luas menjauh dan tidak melakukan aktivitas di pinggir pantai di seluruh area Pacitan.
Seluruh masyarakat, menurutnya, akan lebih baik meningkatkan kewaspadaan pribadi, keluarga dan warga sekitarnya guna meminimalisir kerugian.
Sementara, terkait itu, Koordinator Pos Basarnas Trenggalek, Bayu Prasetyo, mengaku sewaktu-waktu siap bergerak ke lokasi untuk melakukan pertolongan dan penyelamatan manakala diperlukan.
“Karena tidak ada korban jiwa, untuk sementara kami standby di pos, Mas. Tapi sewaktu-waktu kami siap bergerak kesana manakala diperlukan. Sementara penanganan dihandle BPBD setempat,” ujarnya. **











