Penulis: Yusran Hakim | Editor: Priyo Suwarno
RIO DE JANEIRO, SWARAJOMBANG.COM– Polisi Brasil di Rio de Janeiro mengerahkan sebanyak 2.500 personel bersama militer untuk melakukan operasi besar-besaran melawan geng narkoba. Operasi ini menewaskan 132 orang dalam insiden tersebut.
Operasi berlangsung di kawasan permukiman dan favela di Rio de Janeiro, dengan sasaran utama geng narkoba, khususnya kelompok “Comando Vermelho”. Operasi ini menggunakan kekuatan besar, melibatkan 2.500 personel bersenjata lengkap, helikopter, kendaraan lapis baja, dan alat berat.
Jumlah korban tewas jauh melebihi perkiraan awal, menjadikan operasi ini salah satu yang paling brutal dalam sejarah Rio de Janeiro. Operasi ini mendapat kritik keras dari organisasi hak asasi manusia yang menyerukan penyelidikan, karena dianggap mengubah lingkungan favela menjadi zona perang serta menggunakan kekuatan berlebihan yang berdampak pada warga sipil.
Singkatnya, operasi brutal polisi di Rio de Janeiro ini menewaskan 132 orang, termasuk anggota geng dan petugas, dan menjadi salah satu operasi terbesar sekaligus paling kontroversial dalam sejarah kota.
Baku tembak terjadi antara polisi dan geng narkoba pada Selasa, 28 Oktober 2025. Menurut pernyataan lembaga bantuan hukum wilayah seperti dikutip Al Jazeera pada Kamis, 30 Oktober 2025, 132 orang tewas dalam operasi tersebut.
Gubernur Negara Bagian Rio de Janeiro, Claudio Castro, menyatakan korban tewas sekitar 60 orang, namun memperingatkan angka sebenarnya lebih tinggi karena banyak jenazah yang langsung dibawa ke kamar mayat tanpa melalui penghitungan resmi. Di antara korban tewas terdapat empat polisi.
Polisi mengerahkan 2.500 personel dalam penggerebekan markas geng kriminal paling ditakuti di Rio, Comando Vermelho atau Komando Merah. Penggerebekan terkonsentrasi di permukiman Penha, Complexo do Alemão, dan Penha di Rio de Janeiro.
Operasi ini juga merupakan reaksi terhadap meningkatnya brutalitas geng dan agresi yang mengancam keselamatan warga sipil, sehingga polisi mengambil tindakan tegas meskipun menimbulkan kontroversi terkait tingginya jumlah korban dan kekerasan selama operasi.
Operasi ini mencerminkan kegagalan pengelolaan keamanan jangka panjang di kawasan yang sangat rawan kejahatan tersebut, yang memicu penggunaan operasi militer berskala besar oleh kepolisian.
Latar belakang utama operasi adalah untuk menumpas geng narkoba yang sangat berpengaruh dan mengendalikan wilayah Complexo do Alemão dan Penha yang termasuk daerah rawan konflik dan kriminalitas di Rio de Janeiro. **











