Menu

Mode Gelap

Ekonomi

Skema Cicilan Tadpole Disorot YLKI

badge-check


					Ilustrasi Perbesar

Ilustrasi

Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya

JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM-Skema cicilan tadpole atau pola pembayaran yang membebankan porsi cicilan lebih besar di awal tenor pinjaman tengah menuai sorotan. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai skema ini berisiko tinggi memicu gagal bayar yang pada akhirnya juga berdampak pada keberlanjutan usaha penyedia pinjaman.

Sekretaris Eksekutif YLKI Rio Priambodo mengatakan, skema tadpole berpotensi menjerat konsumen karena porsi bunga yang lebih besar dibandingkan pokok utang dibebankan sejak awal masa pinjaman. Kondisi tersebut dinilai tidak sejalan dengan kemampuan bayar konsumen.

“Apalagi pembayaran di awal yang besar, di mana persentase komponen bunga lebih tinggi dibandingkan pokoknya. Ini tentu membuat konsumen terjebak pada bunga utang apabila di kemudian hari terjadi gagal bayar,” ujar Rio dalam keterangan tertulisnya, Senin (12/1/2026).

YLKI pun mengusulkan agar pelaku industri menggunakan skema cicilan flat yang dinilai lebih adil dan mencerminkan kemampuan bayar konsumen. Dengan demikian, potensi gagal bayar dapat ditekan.

Rio menambahkan, YLKI mendukung Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memperketat pengawasan serta melarang penerapan skema tadpole yang merugikan konsumen.

Isu skema tadpole mulai ramai diperbincangkan sejak Desember lalu. Segara Research Institute mencatat, banyak peminjam pinjaman daring tidak sepenuhnya memahami dampak skema ini, terutama karena mereka mengajukan pinjaman dalam kondisi darurat.

Dalam praktiknya, bunga efektif skema tadpole dapat melonjak hingga 4–5 kali lipat dibandingkan skema pembayaran normal, sehingga berpotensi melampaui batas maksimum suku bunga yang ditetapkan OJK.

Skema ini dinilai merugikan konsumen karena biaya pinjaman riil kerap jauh lebih tinggi dibandingkan bunga nominal atau flat yang ditampilkan. Minimnya transparansi serta rendahnya literasi keuangan membuat peminjam rentan terjebak dalam siklus utang.

Pandangan serupa disampaikan Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda. Ia menilai skema tadpole tidak mencerminkan prinsip keadilan bagi peminjam.

Borrower meminjam karena tidak memiliki uang di awal. Ketika justru dibebankan cicilan besar di awal, dana yang benar-benar bisa dimanfaatkan menjadi lebih sedikit.Sehingga menurut Huda, ini tentu sangat memberatkan konsumen.

Menurutnya, penyedia pinjaman daring seharusnya menawarkan skema pembayaran yang adil dan transparan. “Perhitungan bunga harus disampaikan secara terbuka kepada konsumen, termasuk seluruh biaya lainnya. Tidak boleh ada hidden cost yang ditutupi dengan skema apa pun,” pungkas Huda. ***

 

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

BP-AKR Tahan Harga Bensin, Solar Melonjak Rp10.940/Liter

1 Mei 2026 - 20:39 WIB

Ketua Kadin: Pelaku Usaha Seperti Ayam Petelur Stres

30 April 2026 - 19:43 WIB

Dugaan Korupsi Rp 268 Miliar, Kejati Menahan Arinal Djunaidi Mantan Gubernur Lampung

28 April 2026 - 23:32 WIB

163 Gerai KDMP Jombang Sudah Rampung 100 %, Hari Purnomo: Masalah Utama Ketersediaan Lahan

28 April 2026 - 16:11 WIB

Ujicoba B50 untuk Diesel Lokomotif KAI Lempuyangan – Yogyakarta, Bisa Hemat Devisa Rp157 Triliun/ Tahun

27 April 2026 - 18:40 WIB

Kementrian ESDM uji coba BBM B50, pafa mesin diesel KAI . Jika uji coba ini sukses maka RI bisa beremat devisa hingga Rp 157 triliun/ tahun. Foto: Liputan6

ESDM Dorong Energi Alternatif, CNG dan DME Jadi Opsi

27 April 2026 - 15:56 WIB

B50 Perkuat Ketahanan Energi, Indonesia Tak Lagi Impor Solar

27 April 2026 - 15:41 WIB

Dunia Terpukul Kenaikkan Harga Minyak Mentah $US107/Barel, Subsudi BBM RI Bisa Melonjak Hingga Rp500 Triliun

27 April 2026 - 10:56 WIB

Ilustrasi kenaikkan harga minyak dunia Senin, 27 April 2026, tembus $US107/ barel kondisi ekonomi dumia masih mencekam. Foto: liputa6

Pemerintah Tanggung PPN Tiket Pesawat Selama 60 Hari Agar Tekan Harga

26 April 2026 - 19:33 WIB

Trending di Ekonomi