Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya
JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM-Dalam dunia pewayangan kita mengenal nama Semar ponakawan yan lucu, bertubuh gemak namun sakti madraguna. Kali ini kita tak bercerita soal wayang tapi kudapa.
Semar mendem adalah makanan tradisional Indonesia, khususnya di Jawa. Semar mendem, dari tampilannya, tidak jauh berbeda dengan lemper.
Semer mendem adalah nama lain dari lemper yang dibungkus telur dadar pada penampakannya.
Sementara, lemper adalah penganan ketan lengket berisi daging yang berbalut daun pisang. Semar mendem memiliki tampilan beda warna dengan lemper.
Semar mendem tampil dengan warna kuning dari telur dadar dengan bentuk lebih gemuk daripada lemper.
Tampilan lebih gemuk dari semar mendem membawa kisah tersendiri dalam budaya wayang dengan tokoh semar.
Wayang makin populer di Jawa pada abad 16 sebagai salah satu bentuk sarana penyebaran agama Islam.
wayang memang berkultur Hindu dari India.
Semar mendem punya filosofi bahwa tokoh Semar yang menjadi panutan budaya Jawa memang doyan makan.
Mendem makan adalah perasaan ingin mengunyah terus gegara kelezatan makanan yang disantap.
Sosok Semar selalu membawa pesan dalam kondisi apa pun, manusia harus tetap bijaksana menata hidup, termasuk dalam hal makan.
Asal usul penamaan semar mendem:
Penamaan kata semar berasal dari pewayangan Semar, karna bentuknya yang gemuk seperti semar. Mendem diartikan sebagai memabukan, yang mana jika orang yang mengkonsumsi Semar Mendem akan ketagihan untuk mengkonsumsinya.
Tidak ada catatan pasti yang mengatakan kapan semar mendem mulai eksis di Yogyakarta, namun dalam beberapa sumber menyatakan semar mendem sudah ada sejak masa kesultanan Yogyakarta.
Pewayangan Semar memiliki makna sebagai simbol kekuasaan. Sehingga Semar Medem menjadi simbol pengingat bagi para raja-raja/pemimpin agar tidak mabuk kekuasaan dan menggunakan jabatannya sebagaimana mestinya.***











