Menu

Mode Gelap

Ekonomi

Purbaya: Untuk Serap Tenaga Kerja Ekonomi Harus Tumbuh 7 Persen

badge-check


					Menkeu Purbaya Perbesar

Menkeu Purbaya

Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya

JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM-Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui bahwa laju pertumbuhan ekonomi Indonesia yang selama ini tertahan di kisaran 5% belum cukup kuat untuk menyerap tambahan tenaga kerja baru yang terus memasuki pasar kerja setiap tahunnya.

Purbaya meyakini mesin perekonomian nasional setidaknya harus dipacu hingga level 6,7% sampai 7% hanya untuk menampung angkatan kerja baru tersebut.

“Indonesia sudah lama tumbuh di kisaran 5%. Itu kayaknya bagus, sebagian orang bilang itu sudah maksimal. Padahal menurut saya, kita paling tidak harus tumbuh 6,7% menuju 7% untuk menyerap tenaga kerja baru yang memasuki usia kerja,” ujar Purbaya dalam acara Wisuda Program Sarjana dan Vokasi Universitas Indonesia, dikutip Minggu (152).

Sejalan dengan itu, bendahara negara itu menggarisbawahi urgensi Indonesia untuk melepaskan diri dari jebakan pendapatan menengah. Dia memaparkan rekam jejak historis negara-negara maju seperti Korea Selatan, Taiwan, Jepang, Amerika Serikat, Jerman, hingga China yang harus mencetak pertumbuhan minimal 10% alias double digit selama lebih dari satu dekade untuk bisa naik kelas.

Oleh karena itu, Purbaya menilai target pertumbuhan ekonomi 8% yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto tidaklah muluk-muluk, melainkan sebuah prasyarat fundamental yang harus dicapai Indonesia.

“Sebenarnya 8% masih kurang, harus didorong ke arah 10%. Tapi untuk 5 tahun ke depan kalau dapat 8%, itu sudah cukup,” jelasnya.

Meski mematok target tinggi ke depan, Purbaya meminta masyarakat tidak pesimistis dengan fondasi ekonomi saat ini. Dia mengambil contoh realisasi pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 yang berhasil menyentuh 5,11%, ditopang oleh dorongan kuat pada kuartal terakhir sebesar 5,39%.

Capaian tersebut, sambung Purbaya, merupakan salah satu yang tertinggi di antara negara-negara G20, melampaui raksasa ekonomi seperti China, serta negara lain seperti Arab Saudi dan Spanyol.

Kendati demikian, mantan ketua dewan komisioner Lembaga Penjamin Simpanan itu memberikan peringatan. Pertumbuhan di level 5% dinilai masih sangat rentan terhadap gejolak.

“Jadi kita gak boleh tumbuh terlalu lambat,” katanya.

Lebih lanjut, menghadapi tantangan eksternal, Purbaya menepis narasi pesimistis yang kerap menyebutkan bahwa ketidakpastian global akan membuat masa depan ekonomi Indonesia menjadi gelap. Dia mengingatkan bahwa struktur perekonomian Indonesia ditopang kuat oleh permintaan dalam negeri.

Menurut catatannya, permintaan dalam negeri berkontribusi sekitar 90%, sisanya dari global. Oleh sebab itu, Purbaya meyakini meski global sedang tidak baik-baik saja, perekonomian Indonesia bisa tetap aman asalkan permintaan domestik tetap bisa dijaga.***

 

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Serapan Lulusan SMK Jatim Capai 91 Persen

12 Mei 2026 - 19:24 WIB

Peternakan Ayam Makin Banyak Karena MBG

12 Mei 2026 - 19:01 WIB

Ferry Warjiyo: Saya tak Mampu Menahan Sendiri, 1 Dolar Rp 17.520 Terburuk Dalam Sejarah RI

12 Mei 2026 - 13:26 WIB

ESDM: Mandatori B50 Tetap Juli 2026, Tapi Bisa Ditunda

11 Mei 2026 - 19:52 WIB

Seller Keluhkan Ongkir, Pemerintah Turun Tangan

10 Mei 2026 - 19:29 WIB

Demam AI Bikin Laptop Sepi Peminat

10 Mei 2026 - 19:18 WIB

Rumah Tipe Kecil Jadi Korban Terbesar Perlambatan Properti

8 Mei 2026 - 20:02 WIB

Pegadaian Meraih Top Multifinance Call Center di Ajang CCSEA 2026, Rahasia Melayani Sepenuh Hati

7 Mei 2026 - 16:29 WIB

CNG Pengganti LPG Hemat Devisa Rp 137 T

5 Mei 2026 - 20:32 WIB

Trending di Ekonomi