Penulis: Jacobus E Lato | Editor Yobie Hadiwijaya
JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM-Produksi sawit Indonesia lagi seret, tapi pengusaha sawit punya jurus baru: impor serangga penyerbuk dari Tanzania. Kedengarannya agak nyeleneh, ya—serangga jadi “tenaga kerja asing” di kebun sawit.
Media Relations GAPKI, Mochamad Husni, bilang kalau serangga penyerbuk lokal sudah mulai “malas kerja.” Produktivitasnya menurun, bikin panen sawit stagnan lima tahun terakhir. Jadi, GAPKI cari solusi dengan mendatangkan serangga dari Tanzania, yang katanya lebih rajin dan efektif.
“Mudah-mudahan ini lebih efektif, karena kalau kata teman-teman sawit, itu serangga penyerbuk (yang ada saat ini) sudah kurang produktif. Jadi didatangkan serangga yang dari luar negeri, yakni Tanzania,” ujar Husni dalam Workshop Jurnalis Program Biodiesel Sawit 2026 di Depok.
Rencananya, serangga-serangga ini akan mulai masuk Indonesia Maret 2026, secara bertahap selama dua tahun. Targetnya jelas: mendukung program biodiesel B40, bahkan B50. Jadi kalau nanti ada berita “serangga impor bantu isi tangki solar,” jangan kaget.
Selain serangga, GAPKI juga sekalian mendatangkan tanaman dari Tanzania. Lengkap sudah: serangga dan tanaman impor, demi produktivitas sawit yang lebih oke. Husni juga mengakui stagnasi produksi bukan cuma soal serangga, tapi juga karena banyak tanaman sawit sudah “tua renta”—25 tahun ke atas. Makanya, program replanting alias ganti tanaman tua dengan yang baru juga digenjot.
Intinya, GAPKI lagi sibuk cari cara biar sawit Indonesia nggak stuck. Dari serangga impor sampai replanting, semua diusahakan. Jadi, kalau nanti ada serangga Tanzania yang jadi “pahlawan produktivitas” di kebun sawit, jangan heran. ***











