Penulis: Ganjar | Editor: Aditya Prayoga
SURABAYA-SWARAJOMBANG.COM-Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menekankan pentingnya meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang donor kornea.
Hal ini dinilai sebagai cara penting untuk membantu orang-orang yang mengalami gangguan penglihatan. Ia mengakui baru benar-benar mengerti cara kerja donor kornea setelah ikut pertemuan yang membahas pengembangan bank mata.
Emil menjelaskan bahwa isu donor kornea berbeda dengan isu pengobatan katarak yang sudah sering diperbincangkan di masyarakat. Ia menyebutkan, “Saya saja ini baru tercerahkan mengenai donor kornea. Ini salah satu solusi yang harus semakin dipahami publik,” ujarnya, kepada RRI Surabaya, Senin (24/11/2025).
Menurutnya, Forum Bank Mata Surabaya 2025 menunjukkan bahwa pengembangan bank mata mencakup masalah teknis dan juga budaya. Emil berharap.
“Mudah-mudahan gaung dari acara ini membuat orang semakin sadar bahwa siapapun yang dipanggil Yang Maha Kuasa punya kesempatan menolong orang lain melalui donor kornea,” katanya.
Pemahaman dari masyarakat, kata Emil, adalah kunci agar keputusan seseorang untuk berdonor dapat dihargai oleh keluarganya. Ia menjelaskan bahwa pengambilan kornea bisa dilakukan tidak hanya di rumah sakit, tetapi juga di rumah duka.
“Ternyata bisa diekstraksi di kediaman dan prosesnya cepat. Tinggal keluarga yang ditinggalkan harus memahami keputusan almarhum,” tambahnya.
Wagub menilai bahwa perluasan informasi tentang proses donor harus terus dilakukan agar masyarakat tidak ragu untuk mempertimbangkan langkah tersebut.
Ia berharap lebih banyak pihak yang mau belajar dan terbuka terhadap kesempatan berbuat baik melalui donor kornea.
Ia juga menambahkan, pembahasan mengenai hal-hal sensitif seperti donor organ harus dilakukan perlahan dan melibatkan banyak pihak terkait.
“Pertanyaan-pertanyaan seperti ini perlu dijawab bersama. Semua stakeholder harus terus melanjutkan kegiatan edukasi ini,” tuturnya.
Emil memastikan pemerintah akan meningkatkan kerja sama antar sektor untuk menumbuhkan kesadaran dan kesiapan masyarakat. “Kami bersama Kementerian Kesehatan dan Menko PMK akan melakukan task force (satuan tugas) studi agar proses ini berjalan lebih baik,” katanya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menggarisbawahi pentingnya memperkuat bank mata nasional.
Ini adalah langkah penting untuk menurunkan jumlah kasus kebutaan yang disebabkan oleh kerusakan kornea.
Hal ini disampaikan Pratikno saat memberikan pidato utama di Forum Bank Mata Surabaya 2025, yang diadakan di Vasa Hotel Surabaya, Jawa Timur, pada Sabtu (22/11/2025).
Dalam forum yang dihadiri oleh jaringan bank mata, fasilitas kesehatan, akademisi, dan pembuat kebijakan terkait, Menko PMK mengungkapkan bahwa kebutuhan donor kornea di Indonesia masih sangat kurang.
“Kebutuhan nasional donor kornea mata yang tersedia kurang lebih 50 persen dari total kebutuhan. Jadi kekurangannya 50 persen, bahkan kita juga masih butuh dukungan donor kornea dari luar negeri. Oleh karena itu kita perlu untuk memperkuat ini,” jelasnya.
Pratikno menerangkan bahwa masalah kebutaan kornea tidak hanya memengaruhi penglihatan, tetapi juga memberi dampak pada kehidupan sosial dan ekonomi penderita serta keluarga mereka.
“Ini bukan hanya kebutaan secara visual, bukan hanya gelap secara cahaya, tetapi juga punya implikasi terhadap sosial dan ekonomi,” lanjutnya.
Ia menyampaikan bahwa penguatan bank mata sangat dibutuhkan segera, baik dari sisi kemampuan, jaringan, maupun kerja sama antar lembaga.
Menurutnya, perbaikan layanan bank mata tidak bisa hanya dilihat sebagai masalah medis, tetapi juga berkaitan dengan masalah sosial, budaya, dan pengetahuan publik.
“Kami pemerintah menyambut baik terhadap upaya sinergi lintas bank mata di Indonesia. Dan kami pemerintah siap untuk bersama-sama dengan senang hati membangun ekosistem, karena ini bukan hanya masalah teknis kesehatan, ini adalah masalah sosial, masalah keagamaan, masalah literasi publik juga,” tutupnya***











