Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
SWARAJOMBANG.COM– Klan kedua jauh lebih fanatik serta lebih sebagai gerakan kebangkitan kembali dibanding pertama. Kekaisaran pertama Yang Tidak Terlihat punya musuh yang dapat dilihat, yaitu kekuasaan para petualang politik.
Namun, Kekaisaran kedua punya musuh yang tidak terlihat yaitu perubahan kota. Klan baru karena itu meminta supaya kaum Protestan di pedesaan diberikan pilihan gagasan sederhana antara hitam dan putih.
Permintaan gagasan itu juga disebarluaskan pada masa ketika berbagai organisasi persaudaraan Amerika menggunakan teknik baru yang efisien untuk mengumpulkan dana lewat keanggotaan sebuah organisasi.
Berkat car aitu, Stephenson pun menjadi jutawan melalui Klan di Indiana, sementara puluhan jutaan dolar dituangkan melalui departemen keuangan di Atlanta.
Pesona Klan bagi penguasa kota kecil era 1920-an diperlihatkan lewat metode Klan baru yang sangat efektif, yang berkaitan dengan boikot ekonomi.
Dibanding puluhan ribu aksi kejahatan yang dilakukan oleh Klan pertama, yang kedua tampil cukup wajar. meski ratusan pembunuhan, hukuman mati tanpa proses hukum, pencambukan, pelumuran korban dengan aspal yang ditempeli bulu ayam yang memaksa mereka melarikan diri lari keluar dari kota termasuk di dalamnya.
Bagaimanapun metode baru boikot ekonomi terbukti sangat menarik. Kebajikan untuk bersikap eksklusif mengajarkan anggota Klan untuk hanya berurusan dengan sesama anggota.
Tanda-tanda yang bertuliskan Berdagang Dengan Klan (TWK- Trade With Klan), dipasang di jendela-jendela toko anggota hingga para pemilik toko yang tidak disukai disebutkan dalam pertemuan Klan kemudian diboikot sehingga berhenti berbisnis.
Belakangan, beberapa teknik Klan relatif lebih canggih. Seperti terlihat dalam cara mereka melakukan diskriminasi, pemberian sumbangan kepada klerus pro-Klan dan bantuan kepada para janda Klan.
Meski demikian, semua teknik canggih tidak mencegahnya untuk tidak melakukan banyak perbuatan mengerikan. Pengerahan massa dengan memberikan uang sepuluh dolar kepada para pejabat klan memberikan peluang kepada orang sadistis dan penjahat untuk mencambuk, menyiksa korban pilihan mereka.
Para penjahat berkerudung itu bisa menggunakan hukum sekehendak hati sembari menyerukan keadilan. Kebangkitan kembali Klan mendorong semakin banyak hukuman mati terhadap kaum kulit hitam di Selatan. Selama dua tahun, banyak kasus hukuman mati tanpa proses pengadilan yang memadai di pusat Klan di Georgia sendiri.
Gubernur setempat karena itu memaklumkan: ‘Di sejumlah daerah, kaum kulit hitam ditarik keluar rumah seolah-olah mereka itu binatang buas. Di satu tempat, dia dijual sebagai budak belian.Di tempat lainnya lagi, tidak ada orang kulit hitam tersisa. Hanya dalam dua dari 135 kasus yang dikutip merupakan ‘kejahatan biasa’ seperti pemerkosaan.’
Kenyataannya, serangan kepada kaum kulit hitam, seperti terhadap umat Katolik dan Yahudi kini dilakukan terutama demi keuntungan ekonomi untuk merebut bisnis atau tanah mereka secara murah yang dilakukan dengan cara mengusir mereka keluar dari sana.
Tindakan anarki sporadis Klan pada era 1920-an memang kurang serius dibandingkan dengan organisasi politiknya yang berpotensi menjadi kelompok Fascis Amerika.
Keberhasilannya dalam bidang politik di berbagai negara bagian mencapai puncaknya pada tahun 1924 dalam konvensi Parti Demokrat.
Gubernur New York terkenal yang anti-Prohibitionist Katolik, Alfred E. Smith ingin dinominasi sebagai calon partai untuk Gedung Putih; penentangnya adalah William Gibbs Mc Adoo yang didukung Klan, seorang Prohibitionis penganut Protestan yang baik keturunan Anglo-Saxon.
Sementara berbagai pihak bersorak-sorai mendukung Smith di konvensi, anggota Klan mengancam para delegasi dari wilayah Selatan dan Barat, konvensi mengalami jalan buntu dengan 102 suara, sehingga tidak mampu bersama-sama menyepakati calon partai dukungan mereka.
Meski demikian, Klan mengharapkan hal-hal mengagumkan terjadi bagi organisasi itu pada masa mendatang, sedikitnya sangat berkuasa seperti Kaum Fascis Mussolini sebelum mengambil alih Pemerintahan Italia. (Bersambung)











