Penulis: Ganjar | Editor: Aditya Prayoga
KEDIRI, SWARAJOMBANG.COM
Sebuah patung macan di pertigaan Desa Baling Jeruk tiba-tiba melambung menjadi fenomenon. Tidak hanya karena posisinya yang strategis, tetapi terutama berkat bentuknya yang tidak lazim, ekspresi wajahnya yang khas, dan kisah spiritual yang melingkupi proses penciptaannya. Kisah ini tidak hanya viral di dalam negeri, namun juga menarik perhatian dari mancanegara.
Dalang di balik karya yang tak terduga mendunia ini adalah Mbah Suwari, seorang seniman lokal berhati sederhana yang sama sekali tidak mengira karyanya akan tersebar luas.
“Awalnya saya ditugasi Bapak Kepala Desa Balong Jeruk untuk membuat patung macan itu. Saya pun menyanggupinya,” kenang Mbah Suwari. Sebelum memulai, ia diminta memilih hari yang dianggap baik menurut perhitungan tradisi.
Pengerjaan dimulai pada Senin Pahing. “Saya mulai hari Senin Pahing, dari pondasi sampai selesai memakan waktu 18 hari,” ujarnya. Selama itu, ia bekerja hingga patung itu tegak berdiri di perlintasan desa.
Di tengah proses, Mbah Suwari mengalami pengalaman mistis. Ia mimpi didatangi orang yang telah lama meninggal. “Saya mimpi didatangi Bapak Kasun Busan Ketandian, yang sudah almarhum,” tuturnya.
Dalam mimpi itu, ia diminta mementaskan ludruk dengan cerita siluman macan putih, sementara patung macannya disebut belum rampung.
Keesokan harinya, setelah Kepala Desa menanyakan kembali kesiapannya, Mbah Suwari memantapkan hari yang sama, Senin Pahing, sebagai awal pengerjaan. “Pasang pondasi dibarengi bancakan tumpeng dan ayam panggang, baru lalu dimulai,” katanya.
Setelah patung selesai, gelombang perhatian pun datang. Mbah Suwari mengaku bingung, karena sebelumnya banyak patung buatannya yang tidak mendapat sorotan. “Patung-patung saya yang lain baik-baik saja, tidak viral. Kenapa yang ini seperti badai, sampai ke seluruh Indonesia?” ujarnya heran.
Ia menduga ada unsur sejarah dan keyakinan spiritual yang melekat pada lokasi patung itu. “Ini bukan macan sembarangan, ada ‘penunggunya’,” katanya, yakin bahwa hal itu ikut mendorong viralnya cerita.
Mengenai bentuk patung yang banyak diperbincangkan, Mbah Suwari menjelaskan bahwa awalnya mulut macan dibuat menganga. Namun, atas permintaan pemerintah desa untuk menghindari kesan menakutkan di area rawan kecelakaan, desainnya diubah. “Tidak boleh menganga, harus ditutup (‘diingkep’),” jelasnya.
Perubahan itu justru membawa efek positif. “Anak-anak jadi tidak takut, malah senang,” katanya. Ia juga menegaskan bahwa tidak ada rencana untuk membongkar patung tersebut. “Tidak, sudah permanen. Kalau dibongkar sayang,” tegasnya.
Mbah Suwari telah lama menekuni dunia seni patung, membuat berbagai karya dari tokoh wayang hingga macan di banyak desa. Namun, ia tak bisa menjelaskan mengapa justru patung yang satu ini yang mendunia. “Berarti yang bagus belum tentu viral,” ujarnya dengan polos.
Baginya, viralnya patung macan ini bukan semata-mata soal bentuk fisik, tetapi gabungan antara tempat, waktu, dan narasi yang menyertai. Ia berharap karyanya tetap membawa manfaat bagi warga serta dapat menjaga makna budaya dan sejarah yang terkandung di dalamnya.***











