Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga
KREDONEWS.COM, SURABAYA– Hiu selama ini dikenal sebagai predator puncak lautan dengan citra menakutkan berkat rahang besar, gigi tajam, dan gerakan cepat.
Namun, hewan ini juga menghadapi ancaman serius karena diburu untuk dikonsumsi. Setiap tahun, lebih dari 1,4 juta ton hiu, termasuk 100–300 ton hiu tembaga (bronze whaler), ditangkap untuk kebutuhan pangan.
Perdagangan produk hiu melibatkan lebih dari 200 negara, baik legal maupun ilegal, mulai dari sup sirip hiu hingga bahan obat tradisional, pakan ternak, dan industri tekstil.
Kandungan vitamin A dan minyak hati hiu membuat permintaan semakin tinggi. Sayangnya, riset menunjukkan daging hiu menyimpan cemaran beracun dalam kadar besar, bahkan di wilayah laut yang relatif bersih. Pertanyaan pun muncul: seberapa aman konsumsi daging hiu bagi manusia?
Temuan Penelitian
Penelitian UCT tahun 2022 menganalisis 41 ekor hiu tembaga dari perairan Afrika Selatan. Dari jaringan ototnya, diteliti 10 unsur berbahaya, termasuk merkuri, arsen, timbal, dan kadmium.
Hasilnya, meski sebagian unsur masih dalam batas aman, paparan merkuri dan arsen justru sangat mengkhawatirkan. Satu porsi 227 gram daging hiu tembaga mengandung merkuri delapan kali lipat lebih tinggi dari batas aman USEPA, sementara arsen dua kali lipat lebih tinggi.
Studi serupa di Korea Selatan juga memperlihatkan bahaya serupa. Orang yang rutin mengonsumsi daging hiu terbukti memiliki kadar merkuri dalam darah jauh melebihi ambang WHO, meningkatkan risiko kerusakan saraf serta penyakit kronis.
Dampak Kesehatan
Merkuri dan arsen bisa merusak sistem saraf, menurunkan fungsi kognitif, mengganggu perkembangan anak, merusak ginjal, hingga memicu penyakit jantung. Arsen bahkan dikaitkan dengan kanker kulit, paru-paru, dan kandung kemih, juga diabetes tipe 2 dan gangguan reproduksi.
Saran bagi Konsumen
– Batasi konsumsi: Jika terpaksa, porsi harus kecil dan jarang.
+ Pilih alternatif lain: Salmon, tilapia, atau tuna lebih aman dikonsumsi.
– Waspada kelompok rentan: Ibu hamil, anak, dan lansia sebaiknya menghindari.
Implikasi Kebijakan
Diperlukan regulasi ketat untuk menguji kadar cemaran produk laut dan penarikan cepat jika terdeteksi tercemar. Sekitar 50% hiu tertangkap dari bycatch. Penggunaan alat tangkap selektif penting untuk mengurangi risiko masuknya daging hiu beracun ke pasaran.
Kesimpulan
Daging hiu memang kaya protein, namun berisiko tinggi karena kandungan merkuri dan arsen. Konsumsi berlebihan bisa memicu penyakit berat dan mempercepat kelangkaan hiu tembaga yang berstatus Rentan. Mengurangi konsumsi akan menjaga kesehatan manusia sekaligus membantu konservasi. Nutrisi yang sama bisa diperoleh dari ikan lain seperti tuna atau salmon yang lebih aman.
Sumber: Bioaccumulated trace element toxicity in commercially harvested bronzewhaler sharks (Carcharhinus brachyurus) of South Africa
https://doi.org/10.1016/j.foodchem.2024.140081. ****











