Penulis: Mayang Kresnaya Mahardhika | Editor: Priyo Suwarno
KARAWANG, SWARAJOMBANG.COM– Indonesia Investment Authority (INA) dan SK Plasma dari Korea Selatan terus mempercepat pembangunan pabrik fraksionasi plasma darah pertama di Indonesia, berlokasi di Karawang International Industrial City (KIIC), Karawang, Jawa Barat.
Proyek patungan PT SK Plasma Core Indonesia ini memiliki nilai investasi Rp64,5 triliun, dengan progres konstruksi mencapai lebih dari 98% per 18 Desember 2025. Fasilitas ini dirancang sebagai yang terbesar di Asia Tenggara, mampu mengolah 600.000 liter plasma per tahun.
Pembangunan dimulai dengan groundbreaking awal 2024 dan ditargetkan rampung akhir Desember 2025, dengan operasi komersial penuh pada akhir 2026. Saat ini, toll manufacturing sementara dilakukan di fasilitas SK Plasma di Korea, menghasilkan produk awal seperti albumin dan imunoglobulin yang tiba pada Desember 2025.
Proyek ini didukung pinjaman sindikasi Rp3,7 triliun dari Allo Bank dan Bank Mega, serta kesepakatan ditandatangani November 2024 yang disaksikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dengan kolaborasi PMI, BPOM, dan BKPM.
SK Plasma, anak perusahaan SK Group dengan pengalaman 50 tahun dan ekspor ke 20 negara, memodelkan pabrik ini berdasarkan fasilitas Andong mereka.
Inisiatif ini mengatasi ketergantungan impor 100% obat plasma, memanfaatkan hingga 200.000 liter plasma darah yang sebelumnya dibuang tiap tahun karena ketiadaan pengolahan domestik.
Manfaat Kesehatan
Pabrik ini memperkuat ketahanan kesehatan nasional dengan produksi lokal obat berbasis plasma, mengurangi risiko kelangkaan pasokan global seperti saat pandemi. Plasma darah berfungsi sebagai pembawa protein, hormon, nutrisi, antibodi, serta menjaga keseimbangan cairan, pembekuan darah, tekanan darah, suhu tubuh, dan pH. Manfaat medis utama meliputi:
-
Pengobatan gangguan pembekuan darah (hemofilia), syok, luka bakar, dan trauma.
-
Albumin untuk penyakit hati kronis serta imunoglobulin untuk defisiensi imun, autoimun, dan kondisi langka.
-
Terapi convalescent plasma untuk COVID-19 dan penyakit infeksius lainnya.
Dengan standar GMP BPOM, fasilitas ini akan menjamin pasokan obat esensial lebih murah dan cepat, menurunkan biaya pengobatan hingga 30-50% dibanding impor, serta mendukung penanganan darurat massal.
Manfaat Ekonomi
Proyek ini bukan hanya prioritas strategis INA (total investasi Rp65,4 triliun hingga Mei 2025), tapi juga katalisator pertumbuhan ekonomi. Fokus pada infrastruktur pengolahan, transfer teknologi, dan rantai pasok lokal akan:
-
Menciptakan ribuan lapangan kerja langsung (konstruksi dan operasional) dan tidak langsung (logistik, pengumpulan plasma via PMI), mendongkrak ekonomi Jawa Barat.
-
Menghemat devisa impor obat plasma senilai miliaran rupiah per tahun, dengan potensi ekspor ke ASEAN setelah 2027.
-
Berkontribusi terhadap PDB melalui industri farmasi domestik, sejalan dengan hilirisasi kesehatan dan target INA untuk nilai sosial-ekonomi jangka panjang.
Pabrik ini menandai langkah besar menuju kemandirian kesehatan, sekaligus peluang ekonomi berkelanjutan di tengah pemulihan pasca-pandemi. **











