Penulis: Yusran Hakim | Editor: Priyo Suwarno
JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM – Ditemukan ada 5.000 tempat dapur tidak nyata dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang pertama kali disampaikan dalam pertemuan kerja Komisi IX DPR RI bersama Badan Gizi Nasional (BGN) pada hari Senin, 15 September 2025.
Penemuan ini diketahui saat BGN melakukan pembenahan dan pengecekan sistem mereka. Dari pengecekan itu muncul fakta bahwa beberapa dapur MBG yang terdata di sistem ternyata belum ada wujudnya atau tidak beroperasi di lapangan.
Anggota Komisi IX DPR RI, Nurhadi, mengatakan bahwa dapur tidak nyata ini muncul karena beberapa pihak tahu cara mendaftar dan sistem BGN, sehingga mereka bisa mendaftarkan dapur yang sesungguhnya belum dibangun lalu menjual lokasi dapur tersebut kepada investor.
Rapat itu menjadi saat BGN menunjukkan hasil perbaikan sistem internal yang menyatakan ribuan dapur MBG tercatat, tetapi tidak ada wujud fisiknya atau tidak beroperasi di lapangan.
Pernyataan resmi dari anggota Komisi IX DPR RI, Nurhadi, baru disampaikan ke publik sekitar tanggal 16-17 September 2025.
Nurhadi juga menekankan agar penemuan ini tidak mempengaruhi penyediaan gizi anak-anak dan meminta agar BPK melakukan audit lengkap untuk memastikan penggunaan anggaran yang mencapai triliunan rupiah itu transparan dan akuntabel.
Program MBG adalah program nasional yang sangat penting yang harus dijaga keberhasilannya untuk masa depan bangsa, dengan memastikan dapur yang dibangun berfungsi dengan benar dan makanan bergizi sampai kepada anak-anak di sekolah.
Dia juga menyoroti bahwa terdapat dugaan dapur-dapur tercatat dalam catatan BGN tetapi tidak ada wujudnya atau tidak beroperasi.
Dia meminta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk melakukan audit penuh terkait temuan tersebut agar ada kejelasan dan akuntabilitas dalam menggunakan anggaran program MBG.
Respon BGN
Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan tanggapan atas penemuan 5.000 dapur tidak nyata dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menyangkalnya.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, mengungkapkan bahwa lokasi yang disebut sebagai dapur tidak nyata sebenarnya adalah tempat yang sudah dipesan oleh mitra BGN untuk membangun dapur tetapi belum selesai dibangun.
Dadan menegaskan bahwa konsep “tidak nyata” tidak sesuai, karena dapur-dapur tersebut masih dalam proses pembangunan atau persiapan.
Ia menambahkan bahwa BGN sudah mengirimkan 14 ribu Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) untuk memverifikasi lokasi dan memberikan laporan tentang perkembangan pembangunan dapur, di mana beberapa sudah selesai dibangun dan yang lainnya masih dalam pengerjaan.
BGN juga menegaskan bahwa program ini terus berjalan dan menyasar jutaan orang yang membutuhkan dengan dukungan berbagai mitra seperti TNI AD, polisi, dan organisasi masyarakat lainnya.**











