Menu

Mode Gelap

Ekonomi

Harga Ayam Hidup Jatim Tertekan Usai Lebaran, Ini Penyebabnya

badge-check


					Ilustrasi Perbesar

Ilustrasi

Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya

JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM-Tekanan harga ayam hidup (livebird) kembali terjadi pasca Lebaran di sejumlah sentra produksi. Kondisi ini terutama dirasakan peternak di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat akibat turunnya konsumsi setelah periode puncak permintaan.

Pemerintah menjelaskan, kondisi tersebut tidak lepas dari pola konsumsi dan produksi yang bersifat musiman. Permintaan ayam biasanya meningkat tajam sekitar satu minggu sebelum Lebaran hingga hari H, seiring meningkatnya aktivitas masyarakat dan arus mudik.

Menjelang momen tersebut, banyak peternak meningkatkan chick in untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Namun, setelah Lebaran, terjadi penurunan konsumsi dan serapan pasar bersamaan dengan arus balik. Di saat yang sama, stok ayam hidup masih tersedia di kandang. Kombinasi kondisi tersebut menyebabkan tekanan terhadap harga di tingkat peternak.

“Beberapa faktor yang menyebabkan menurunnya harga livebird, khususnya di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat, tidak terlepas dari dinamika pola konsumsi dan produksi yang bersifat musiman,” ujar Hary Suhada, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak kepada Kontan, Minggu (12/4/2026).

Fenomena ini, menurut pemerintah, merupakan pola berulang setiap tahun. Karena itu, pelaku usaha diharapkan dapat mengantisipasi dengan perencanaan produksi yang lebih terukur dan sejalan dengan dinamika permintaan.

Untuk menahan tekanan harga dalam jangka pendek, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan melakukan sejumlah langkah stabilisasi.

Upaya itu meliputi penguatan koordinasi dengan pelaku usaha pembibitan dan budidaya, penyesuaian produksi di hulu melalui pengendalian setting dan chick in, serta optimalisasi penyerapan pasar melalui pemanfaatan cold storage dan distribusi ke wilayah yang membutuhkan.

“Berdasarkan pemantauan di lapangan, harga livebird mulai menunjukkan perbaikan, dengan harapan dalam waktu dekat dapat bergerak menuju kisaran minimal Rp19.000/kg pada ukuran 2 kg up,” jelasnya.

Pemerintah juga mencatat stok di cold storage mulai berkurang dan serapan pasar kembali berjalan, yang diharapkan dapat membantu penyerapan livebird di tingkat peternak.

Ke depan, pemerintah mendorong perbaikan tata kelola produksi perunggasan, antara lain melalui pengaturan pola replacement bibit (GPS dan PS) oleh perusahaan pembibitan agar distribusi lebih merata sepanjang tahun.

Selain itu, perencanaan produksi akan lebih diarahkan berdasarkan pola konsumsi, khususnya pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

Pemerintah juga meminta pelaku usaha meningkatkan disiplin produksi agar tidak terjadi ekspansi berlebihan yang tidak mempertimbangkan kondisi pasar.

“Kami mengimbau seluruh pelaku usaha untuk menjalankan budidaya secara lebih terukur dan rasional, menyesuaikan dengan dinamika permintaan pasar, sehingga keseimbangan supply demand dapat terjaga dan harga tetap stabil,” tegasnya. ****

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Harga Tiga Jenis Emas Pegadaian pada Kamis

30 Juli 2026 - 19:18 WIB

Larangan Rekam SP2DK DJP Tuai Kritik, Bisa Gerus Kepercayaan Wajib Pajak

26 Juli 2026 - 19:17 WIB

Ini Catatan Harga Bahan Pangan Menurut PHPS

23 Juli 2026 - 21:26 WIB

Harga BBM Hampir Semua Harga Turun, Kecuali Pertamax

13 Juli 2026 - 20:19 WIB

2.100 Formasi CPNS-PPPK Tahun Ini Disusulkan Pemprov Jatim

6 Juli 2026 - 19:04 WIB

Harga Pertamax Turbo Turun Rp1450, Per 1 Juli 2026

1 Juli 2026 - 19:52 WIB

Juli-Agustus-September Tarif Listrik Tak Naik

30 Juni 2026 - 21:29 WIB

Pemangkasan Besar-besaran, BUMN akan Tinggal 250 dari 1000

28 Juni 2026 - 21:31 WIB

Pertumbuhannya Diprediksi Paling Tinggi di Dunia, Crazy Rich Indonesia Makin Banyak,

28 Juni 2026 - 21:20 WIB

Trending di Ekonomi