Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya
JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM-Kontroversi besar mengguncang Korea Selatan setelah Kim Hee-soo, Gubernur Kabupaten Jindo di Provinsi Jeolla Selatan, mengeluarkan pernyataan yang dianggap seksis dan rasis. Dalam sebuah pertemuan balai kota pada Februari 2026, ia mengusulkan ide untuk “mengimpor perawan dari Sri Lanka dan Vietnam” sebagai solusi atas menurunnya angka kelahiran di wilayahnya.
Pernyataan tersebut segera memicu gelombang kritik dari berbagai kalangan. Media lokal menyoroti ucapan Kim sebagai bentuk pelecehan terhadap perempuan dan diskriminasi terhadap warga negara asing.
Organisasi masyarakat sipil menuntut permintaan maaf resmi, sementara warganet melancarkan kecaman keras di media sosial. Banyak yang menilai usulan itu tidak hanya merendahkan martabat perempuan, tetapi juga memperburuk citra Korea Selatan di mata internasional.
Sejumlah politisi dan akademisi turut angkat bicara, menekankan bahwa solusi atas krisis demografi harus berfokus pada kebijakan keluarga, dukungan ekonomi, dan kesetaraan gender, bukan dengan ide yang dianggap tidak manusiawi.
Hingga kini, belum ada laporan resmi bahwa Kim Hee-soo diberhentikan dari jabatannya, tetapi tekanan politik dan sosial terhadapnya semakin meningkat. Kasus ini menjadi pengingat bahwa isu demografi tidak bisa dipisahkan dari nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.***











