Penulis: Ganjar | Editor: Aditya Prayoga
SURABAYA,SWARAJOMBANG- Fenomena maraknya pedagang kaki lima di lingkungan sekolah bukan hal baru. Hampir di setiap sekolah dasar hingga menengah, kita bisa menemukan deretan penjual cilok, gorengan, es lilin, sosis bakar, mie instan, minuman manis, hingga jajanan berwarna mencolok.
Jumlahnya bisa mencapai delapan hingga dua belas pedagang di satu sekolah, banyangkan bila ada 10 sekolah, maka mereka bisa mencapai ratusan pedagang.
Keberadaan mereka memberi warna tersendiri bagi ekosistem ekonomi di sekolah, namun kini posisinya mulai tergeser oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah.
Kantin sekolah pun ikut terdampak. Sebagian mengeluhkan omset yang menurun karena siswa lebih memilih makanan gratis yang dibagikan setiap hari.
Padahal, sebelum MBG berjalan, kantin menjadi tempat utama bagi siswa untuk membeli makanan dan minuman. Kondisi ini menimbulkan dilema: di satu sisi, MBG penting untuk meningkatkan gizi anak, namun di sisi lain, mengancam ekosistem ekonomi kecil di sekitar sekolah.
Ironisnya, justru program MBG yang diharapkan menghadirkan makanan bergizi dan layak konsumsi, malah sempat menimbulkan kasus makanan yang berujung keracunan.
Fakta ini menunjukkan bahwa kualitas dan pengawasan pangan di sekolah tidak bisa dianggap sepele. Jika tidak dikelola dengan baik, niat baik pemerintah bisa berubah menjadi masalah baru bagi kesehatan siswa.
Di sisi lain, bila pelaksanaan MBG sepenuhnya dikelola oleh kantin sekolah, muncul potensi bisnis baru. Seperti halnya pengadaan seragam dan buku, bukan tidak mungkin MBG berkembang menjadi ladang usaha internal.
Ada peluang munculnya “paket premium” dengan menu lebih menarik bagi siswa yang sanggup membayar, atau variasi makanan tambahan yang dijual di luar program resmi.
Namun, jika dilihat dari sisi positif, MBG juga bisa menjadi momentum kolaborasi antara sekolah, pemerintah daerah, dan pedagang kecil.
Pedagang kaki lima dapat dilibatkan sebagai mitra resmi penyedia makanan dengan pelatihan kebersihan dan standar gizi tertentu.
Dengan sistem yang transparan dan pengawasan yang ketat, program ini bisa sekaligus menyehatkan siswa dan memberdayakan ekonomi rakyat kecil.
Pertanyaannya kini, apakah MBG akan menjadi solusi gizi yang menyeluruh, atau justru menyingkirkan para pedagang kecil yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan sekolah atau hanya sekedar pergeseran pemain bisnis.***











