Penulis: Arief Hendro Soesatyo | Editor: Priyo Suwarno
JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM – Bank Dunia menyetujui proyek senilai US$350 juta (setara Rp5,82 triliun) pada 18 Desember 2025. Proyek Proyek Peningkatan Penyampaian Layanan Lokal (P3L2) ini bertujuan merombak sistem pengelolaan sampah di Indonesia, menyediakan lingkungan lebih bersih bagi 15 juta orang, serta perlindungan iklim lebih baik bagi 10 juta orang.
Inisiatif ini menjadi penerapan skala besar pertama hibah berbasis kinerja di sektor sampah padat Indonesia. Proyek menargetkan tantangan urbanisasi cepat dan lonjakan volume sampah di negara kepulauan ini. Banyak kota diproyeksikan mencapai 2–5 juta penduduk pada 2030, yang bakal meningkatkan produksi sampah secara signifikan.
Dana ini mendukung 30 pemerintah daerah melalui reformasi nasional, hibah berbasis kinerja, serta penguatan kapasitas lokal. Upaya ini menangani krisis sampah yang menghasilkan emisi metana hingga 48,58 juta ton CO2e pada 2022.
“Pemerintah pusat kini bekerja sama erat dengan daerah untuk atasi masalah sampah hingga 2029 lewat strategi beragam,” ujar Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian. “Dengan dukungan Bank Dunia dan solusi inovatif, kami targetkan visi nol sampah pada 2050–2060.”
Indonesia menghadapi tantangan pengelolaan sampah akut. Inspeksi terbaru ungkap hanya 9–10 persen sampah di 343 TPA nasional ditangani layak. Mayoritas fasilitas masih berupa TPA terbuka atau terkontrol, dengan hanya 5,3 persen memenuhi standar sanitasi.
Sektor sampah sumbang emisi metana terbesar, yakni 48,58 juta metrik ton CO2e pada 2022 atau 56 persen dari total nasional. Sebanyak 63 persen sampah kota bersifat organik yang mudah terurai, menjadikan TPA sumber utama gas rumah kaca ini.
Proyek awalnya fokus pada 30 daerah dengan reformasi nasional untuk tingkatkan pemilahan sampah di sumber dan minimisasi limbah. Hibah berbasis kinerja dorong layanan lebih baik, sementara pelatihan teknis dan penguatan institusi bangun kapasitas lokal.
“Melalui kemitraan kuat dengan Kemendagri dan Kementerian PUPR, proyek ini dorong ketahanan lingkungan serta kota berkelanjutan,” kata Carolyn Turk, Direktur Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste. “Ini juga ciptakan lapangan kerja hijau dan peluang ekonomi.”
Inisiatif ini lanjutkan program “Indonesia Bersih” yang telah majukan reformasi kebijakan dan infrastruktur. Namun, tantangan kapasitas, pendanaan, serta operasional lokal masih ada. Proyek ini targetkan lapangan kerja stabil sambil dukung transisi ke ekonomi sirkular. **











