Penulis: Mayang Kresnaya Mahardhika | Editor: Priyo Suwarno
ACEH TAMIYANG, SWARAJOMBANG- Di tengah lumpur dan puing-puing banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang akhir November 2025, kisah solidaritas manusiawi mulai terjalin. Artis penyanyi asal Jawa Barat, Andien Aisyah—anggota tim Kitabisa—mengunjungi berbagai lokasi pengungsian di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.
Kunjungannya bukan sekadar pembagian bantuan, melainkan jembatan empati yang menyatukan hati-hati yang terluka.
Salah satu momen paling menyentuh terjadi di Gereja Sukarame (Suka Ramai) di Aceh Tamiang, sebuah bangunan yang masih utuh di tengah kehancuran.
Dari 54 rumah yang hanyut, gereja ini menjadi tempat aman bagi 45 titik pengungsian, dipenuhi warga dari Desa Sekumur dan sekitarnya.
Di antara 1.500 jiwa desa itu, 800 orang terdampak parah—rumah lenyap, listrik padam belasan hari, dan puluhan nyawa raib.
Andien tiba bersama tim Kitabisa dan Fadil Jaidi via kapal kayu, karena jalan darat terputus total. Ia mendengarkan cerita pilu warga: ibu-ibu yang kehilangan seluruh harta, anak-anak trauma yang meratap kehilangan mainan dan rumah.
Dalam video yang diunggah akun Instagram @sukanrotinus, Andien bernarasi dengan suara penuh iba: “Gereja ini salah satu tempat aman untuk para pengungsi, buat adik-adik dan warga di sini.
Ini bangunan yang masih berdiri kokoh, sementara 54 rumah sudah hanyut!” Narasinya bukan hanya fakta, tapi panggilan hati untuk gotong royong lintas agama—gereja yang biasanya tempat ibadah kini jadi pelindung bagi semua, mencerminkan toleransi dan kebersamaan masyarakat Aceh yang tangguh.
Puncak kehangatan sosial itu terlihat saat Andien menghibur anak-anak pengungsi dengan menyanyikan “Tanah Airku” bersama mereka.
Meski baru saja kehilangan rumah, wajah-wajah kecil itu pun tersenyum, bernyanyi riang di tengah duka.
Momen ini diabadikan di Instagram Andien, menunjukkan kekuatan seni dan kebersamaan untuk menyembuhkan luka batin. Tak sendiri, artis seperti Zaskia Mecca juga turun tangan di wilayah serupa, memperkuat gelombang solidaritas nasional.
Bencana ini tak hanya merenggut nyawa dan harta, tapi juga menguji ikatan sosial. Namun, kehadiran Andien dan relawan seperti dia mengingatkan: di balik air bah, ada tangan-tangan yang saling menggenggam, membangun harapan baru bagi korban.**











