Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto.
SWARAJOMBANG.COM— Pada puncak kejayaannya, gerakan penduduk asli warga Amerika meredup pelahan. Tak terkecuali Klan. Keberhasilan puncaknya melahirkan para pemimpin sombong dan bodoh sehingga dikecam oleh organisasi kaum demokrat murni dan juga kalangan pers.
Politisi masa lampau tiba-tiba menyadari ada persaingan untuk meraih kekuasaan dan patronase lalu bangkit menuntut potongan kuenya. Mereka pun sadar diri bahwa mereka lebih baik mengurangi peran Klan daripada berbagi tugas dengannya.
Hasil perlawanan dari kalangan democrat dan pers terbukti ketika D.C. Stephenson memperkosa dan memutilasi seorang gadis di sebuah kereta ekspress.
Namanya disebutkan sebagai pelaku kejahatan oleh gadis itu menjelang kematiannya sebelum menenggak racun. Tidak seperti diharapkannya, Stephenson pun dituduh melakukan pembunuhan tingkat dua dan dihukum seumur hidup di penjara.
Bukti immoralitas binatang para pemimpin Klan kenamaan dari Midwest membuat jutaan Knight meninggalkan organisasi. Di Indiana sendiri, keanggotaan Klan pun merosot hingga tiga perempat selama dua tahun.
‘Kami mempunyai beberapa orang baik di Klan,’ seorang menteri dari Midwest menyampaikan hal itu kepada komisi penyelidik Senat pada tahun 1926. ‘Mereka tengah bertahan di sana kini.’
Nafsu berahi dan keinginan mendapatkan keuntungan di balik kerudung Klan kini mulai terkuak. Rahasia yang memungkinkan kurangnya tanggung jawab memungkinkan terjadinya korupsi. Grand Wizzard baru,
Dr Evans pun sangat memahami kualitas orang-orang yang direkrutnya masuk ke dalam organisasinya. Ketika ditanya seorang Exalted Cyclops di Indiana mengapa tidak mengizinkan anggota Klan berparade dengan kerudung kepala terangkat, dia menjawab sinis, ‘Moral Klan akan membunuh dirinya sendiri.’
Exalted Cyclps yang sama pun kepada komisi Senat mengaku anggota yang mudah percaya yang dieksploitasi Evans.
Dia karena itu mengumumkan bahwa Grand Wizzard ‘nyaris mampu meyakinkan sebagian besar anggota Klan bahwa di negara bagian Indiana kami percaya bahwa Jesus Kristus bukanlah orang Yahudi.’
Akhir periode kedua Klan sama-sama mengejutkan seperti masa kebangkitannya. Stephenson yang sedih memikirkan praktek tidak adil karena tidak mampu memastikan pembebasannya dari penjara, mengubah kesaksian tertulisnya.
Ia bahkan mengungkapkan berbagai bukti korupsi Klan dan penyogokan yang dilakukan di Indiana. Kesaksiannya berhasil memenjarakan seorang anggota Kongres, walikota Indianapolis, sheriff Mario County dan pejabat lainnya.
Gubernur negara bagian itu berhasil diselamatkannya hanya karena keterbatasan undang-undang. Setelah tahun 1927, ketika kesaksikan Stephenson keluar, Klan menciut hingga hanya 350 ribu anggota.
Histeria melawan pihak asing yang melahirkan dan menumbuhkembangkannya hanya dapat disamakan dengan perubahan mendadak melawan korupsi yang membuatnya meredup lenyap. (Bersambung).











