Penulis: Wibisono | Editor: Yobie Hadiwijaya
-SURABAYA, SWARAJOMBANG-Dampak musim kemarau di Provinsi Jawa Timur dilaporkan terus meluas hingga akhir Oktober 2026. Laporan hasil Rapat Koordinasi Bencana yang dihimpun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Pemprov Jatim mengungkapkan bahwa bencana kekeringan kini telah melanda 26 kabupaten/kota dan berdampak langsung pada sedikitnya 35.808 Kepala Keluarga (KK).
Meskipun sebagian wilayah mulai memasuki masa transisi atau pancaroba menuju musim penghujan, kondisi krisis air bersih justru masih menjadi persoalan serius di lapangan.
Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, menyusutnya cadangan air tanah membuat warga terpaksa mengandalkan pasokan tangki air bersih eksternal untuk memenuhi kebutuhan harian.
Kondisi Berbagai Daerah
Laporan dari berbagai daerah menunjukkan situasi yang kian memprihatinkan akibat menyusutnya debit air secara drastis:
– Kabupaten Malang: Tercatat sedikitnya 13 desa yang tersebar di enam kecamatan (termasuk Sumbermanjing Wetan, Donomulyo, dan Pagak) terdampak parah. Hingga bulan ini, BPBD setempat telah mendistribusikan hingga 3,8 juta liter air bersih guna menolong belasan ribu jiwa yang mengalami krisis air.
– Kabupaten Jember: Menurut laporan resmi PPID Kabupaten Jember, sekitar 90 persen sumur warga di beberapa desa (seperti Desa Jalian, Kecamatan Pakusari) sudah mengering hingga terlihat dasarnya. Warga terpaksa menempuh jarak ratusan meter demi mencari mata air alternatif.
– Kabupaten Madiun: Berdasarkan pantauan lapangan, kemarau panjang tahun ini dilaporkan sebagai salah satu yang terparah, di mana mesin pompa air (jet pump) milik warga sudah tidak mampu lagi mengangkat air dari dalam tanah.
– Wilayah Madura (Bangkalan, Sampang, Sumenep): Menjadi salah satu klaster terdampak paling konsisten dengan karakteristik tanah kapur yang sulit menyimpan air, membuat warga di beberapa wilayah pedalaman harus antre berhari-hari demi mendapatkan giliran bantuan air.
Langkah Darurat: Distribusi Air dan Modifikasi Cuaca
Menyikapi status kedaruratan yang terus meluas, berbagai pihak mulai dari jajaran TNI, BPBD, hingga lembaga sosial seperti BAZNAS secara masif mengerahkan armada truk tangki air ke titik-titik krisis.
Tak hanya penanganan di darat, pemerintah juga menempuh jalur udara. Kepala Pelaksana BPBD Jatim, Gatot Soebroto, mengonfirmasi bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan telah resmi digelar sejak Sabtu (24/10) dan Minggu (25/10).
Penyemaian awan difokuskan di wilayah Probolinggo, Pasuruan, dan sekitarnya guna memicu hujan buatan. Langkah ini mendesak dilakukan bukan hanya untuk mengatasi kekeringan, melainkan juga untuk memitigasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang ikut mengancam 22 wilayah di Jawa Timur.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa beberapa wilayah di Jawa Timur masih akan menghadapi sisa dampak kemarau ini hingga pertengahan November mendatang.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk terus menghemat penggunaan air bersih serta dilarang keras melakukan pembakaran sampah atau lahan secara sembarangan.****











