Menu ✖

Mode Gelap

Nasional

Polisi, Komdigi dan Praktisi Talkshow ‘Jangan Asal Viral’ Peluncuran Media APPI di Surabaya

badge-check


					Mahasiswa dari Universitas Merdeka Surabaya aktif mengikuti talkshow 'Jangan Asal Viral' pada saat peluncuran media APPI, di Surabaya, Sabtu 26 September 2026. Foto: ist Perbesar

Mahasiswa dari Universitas Merdeka Surabaya aktif mengikuti talkshow 'Jangan Asal Viral' pada saat peluncuran media APPI, di Surabaya, Sabtu 26 September 2026. Foto: ist

Penulis: Sri Muryanto  |  Editor: Priyo Suwarno

SURABAYA, SWARAJOMBANG.COM — Media APPI secara resmi meluncurkan situs resminya mediaappi.com, sekaligus menggelar acara talk show bertema “Jangan Asal Viral — Media Profesional Jembatan Aspirasi Rakyat”, Sabtu 26 September di Hotel Sahid, Surabaya.

Peluncuran ini menandai kehadiran sebuah wadah informasi baru yang lahir dari semangat membangun negeri, bukan sekadar tumbuh menjadi perusahaan besar, melainkan tumbuh menyala bersama masyarakat.

Direktur Media APPI, Muhammad Saiful Ramadan, menyampaikan bahwa kehadiran mediaappi.com bukan sekadar kehadiran alamat internet baru.

“Media APPI lahir dari sebuah keyakinan: tumbuh bersama itu tidak hanya baik, tetapi indah. Kami bukan perusahaan yang mengejar keuntungan semata, melainkan gerakan yang ingin menjaga kebenaran tetap menyala di tengah banjir informasi,” ujarnya.

Tema talk show yang diangkat menjadi sangat relevan mengingat data menunjukkan bahwa 64% masyarakat Indonesia kini mengandalkan media sosial sebagai sumber informasi utama, jauh melampaui media konvensional.

Namun di sisi lain, tingkat kepercayaan terhadap informasi dari media sosial hanya berkisar 37%–44%. Di sinilah peran Media APPI hadir: menjadi rujukan yang memverifikasi, menyeimbangkan, dan mempertanggungjawabkan setiap informasi yang disampaikan.

Pimpinan Redaksi, Adi ‘Ganjar’ Prayogo, menegaskan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan lagi penyebaran informasi, melainkan memastikan informasi itu benar.

“Viral bukan jaminan kebenaran. Satu berita yang menyebar cepat tanpa verifikasi bisa merusak kehidupan seseorang, memecah belah masyarakat, bahkan menyesatkan kebijakan publik. Karena itu, mediaappi.com hadir dengan prinsip: saring sebelum menyebar, verifikasi sebelum membagikan,” kata Adi.

Acara ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat — dari kalangan akademisi, pemerintah, penegak hukum, hingga rekan-rekan praktisi pers.

Narasumber yang hadir antara lain perwakilan Kominfo Jawa Timur, unsur pimpinan kepolisian, akademisi Universitas Merdeka Surabaya, serta tokoh pers dan aktivis media.

Diskusi berlangsung hangat, membahas pergeseran sumber informasi dari koran dan televisi ke media sosial, peran algoritma yang menyuguhkan apa yang disukai bukan apa yang dibutuhkan, hingga tantangan regulasi yang tertinggal dari laju teknologi.

Kedepan, Media APPI berencana menghadirkan program podcast, liputan langsung ke masyarakat, serta berbagai kegiatan yang melibatkan pelaku usaha kecil dan warga di daerah-daerah yang suaranya jarang terdengar.

Situs mediaappi.com akan menjadi rumah utama, sementara penyebaran informasinya akan hadir juga di berbagai platform media sosial — bukan sekadar mengejar tampilan, melainkan membawa kebenaran sampai ke tangan masyarakat.

“Kami tidak menjanjikan yang paling cepat. Kami menjanjikan yang dapat dipertanggungjawabkan,” tutupnya.

Kutipan Narasumber

AKBP Suprih Lestari, Polda Jatim: “Saring sebelum sharing. Jari kita adalah harimau kita.”

Di era digital ini, informasi bisa menyebar dalam hitungan detik — tapi cepatnya penyebaran tidak menjamin kebenarannya.

Kita harus ingat: viral belum tentu benar. Sebelum membagikan, berhenti sejenak, cek sumbernya, pastikan kebenarannya.

Saya mengajak kita semua menerapkan prinsip sederhana: saring sebelum sharing. Jangan sampai keinginan menjadi yang pertama justru membuat kita ikut menyebarkan yang keliru. Perlu dibedakan pula: pesan di percakapan pribadi belum tentu melanggar hukum, tapi jika disampaikan di grup terbuka, status, atau media sosial — bisa diketahui khalayak ramai dan berisiko masuk ranah pidana.

Kepada Media APPI, hadirilah sebagai penunjuk arah. Tegakkan kebenaran, lindungi masyarakat dari informasi yang memecah belah. Tumbuh bersama itu tidak hanya baik, tetapi indah — asalkan tumbuh di atas kebenaran.

Dr Eko Setiawan, S.Med.Kom, Kominfo / Komdigi Jawa Timur: “Sumber informasi sudah bergeser ke media sosial, tapi kepercayaan tetap pada media yang bertanggung jawab.”

Data menunjukkan: 64% masyarakat Indonesia kini mencari informasi utama dari media sosial, bukan lagi koran atau televisi. Generasi Z dan Alfa mencari berita di TikTok, bukan di Google.

Namun tingkat kepercayaan terhadap informasi dari media sosial hanya sekitar 37% — jauh di bawah media arus utama.

Di sinilah peluang sekaligus tanggung jawab Media APPI: orang memang mengakses media sosial untuk hiburan, tapi saat butuh kebenaran, mereka mencari yang dapat dipercaya.

Algoritma menyuguhkan apa yang kita sukai, bukan apa yang kita butuhkan. Tugas media profesional adalah menyajikan apa yang dibutuhkan — akurat, berimbang, terverifikasi.

Buzzer dan influencer menyebar cepat, tapi belum ada regulasi khusus yang mengawasi mereka. Konten bisa direkayasa, kepentingan bisa tersembunyi.

Masyarakat harus cerdas: cek sumber, bandingkan, verifikasi. Dan bagi rekan-rekan media di daerah, kami paham ekosistemnya belum mudah — kami terus mendorong agar regulasi tidak justru mematikan kehadiran suara-suara di daerah.

Ir Satwika Rumeksa, Praktisi Media: “Kebohongan boleh berlari secepat kilat, tetapi kebenaran akan selalu mampu menyusul dan mengalahkannya pada akhirnya.”

“Integritas itu tidak terukur, tapi itulah yang paling diuji setiap hari.”

Saya bicara sebagai yang pernah berada di tengah-tengahnya. Di lapangan, tekanannya nyata. Ada tawaran, ada tekanan, ada yang bilang “yang penting berjalan”. Tapi integritas justru diuji di saat-saat seperti itu.

Kami di daerah merasakan sendiri: lembaga pengawasan seringkali terasa jauh. Proses verifikasi berpusat di kota besar, biayanya tinggi, belum menyentuh kami yang bekerja sehari-hari di sini.

Padahal pengawasan seharusnya tumbuh dari bawah, dari kami yang tahu kondisi lapangan.

Kepada Media APPI: jangan mengejar angka viral semata. Pahami dulu apa itu viral — ukurannya, batasannya. Jangan sampai menulis “viral” padahal hanya dibagikan puluhan orang.

Lebih baik menyebar pelan tapi benar, daripada cepat tapi keliru. Tegakkan standar, jaga integritas, dan jangan takut berbeda arus demi kebenaran.**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Lima Kebohongan Kalapas Cibinong Saat Disidak Ombudsman dan Inspektur Jenderal Imipas

26 September 2026 - 22:12 WIB

Inspektur Imipas Nonaktifkan Lima Pejabat LP Cibinong, Pasca Sidak Ombudsman

26 September 2026 - 18:40 WIB

Yusril Dorong Ombudsman Buka seluruh Temuan dan Izinkan Jurnalis Masuk LP CIbinong

26 September 2026 - 17:56 WIB

Komdigi Bantah Surat Pemadaman Internet Nasional 3 Hari

25 September 2026 - 21:23 WIB

451.000 Nyawa di Dunia Terancam Melayang Akibat Gelombang Panas Super El Niño

25 September 2026 - 21:06 WIB

O Smach RS Misterius untuk Ambil Organ Migran secara Paksa, Ada Ruang Mirip Markas Polri

25 September 2026 - 19:40 WIB

Komisi C DPRD Jombang Soroti Proyek Revitalisasi 120 PAUD- SMP Anggaran Rp77,5 Miliar

25 September 2026 - 12:32 WIB

Menelisik Akar Terorisme (61): Nechayev Sang Teroris Muda Kharismatik

25 September 2026 - 11:58 WIB

KPK Geledah Tiga Lokasi Sekalihus, Terkait Kasus OTT Lampri di ATR/BTN Bogor

25 September 2026 - 11:35 WIB

Trending di Nasional