Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Priyo Suwarno
SURABAYA, SWARAJOMBANG.COM — Malam hari di rumah mana pun di Indonesia, apakagi musim kemarau saat ini hampir pasti ada ritual yang sama: sebelum tidur, menyalakan obat nyamuk.
Entah itu dibakar di piring keramik di sudut ruangan, dimasukkan ke alat listrik di dekat pintu, atau disemprotkan ke tirai dan sudut dinding.
Kebiasaan ini sudah berjalan turun-temurun, begitu rutin sehingga jarang sekali kita berhenti dan bertanya: sebenarnya berapa banyak yang kita pakai, berapa yang kita keluarkan uangnya, dan apa sebenarnya yang kita hirup setiap malam.
Indonesia adalah salah satu pasar obat nyamuk terbesar di dunia. Di negara tropis dengan kepadatan penduduk lebih dari 277 juta jiwa dan suhu yang mendukung nyamuk berkembang biak sepanjang tahun — permintaan ini tidak pernah surut.
Nilai Pasar Rp7,8 Triliun
Nilai pasar obat nyamuk di seluruh Indonesia mencapai Rp 7,8 triliun per tahun, dengan pertumbuhan tahunan rata-rata 7,2 persen.
Angka ini dirilis oleh Asosiasi Perusahaan Pengendalian Hama Indonesia (ASPHI) survei industri tahunan 2025–2026, yang mencakup seluruh kategori produk pembasmi dan pengusir serangga rumah tangga di pasaran nasional.
Namun di balik angka triliunan itu, jenis obat nyamuk apa yang sebenarnya mendominasi di rumah-rumah kita?
Obat nyamuk bakar masih menjadi rajanya — dipakai oleh 68 persen rumah tangga di seluruh Indonesia.
Data ini bersumber dari survei perilaku kesehatan masyarakat yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan — Kementerian Kesehatan RI, tahun 2024.
Survei yang melibatkan 34 provinsi ini juga mencatat bahwa jumlah gulungan obat nyamuk yang dikonsumsi nasional mencapai 1,57 miliar gulungan per tahun.
Di Surabaya khususnya, data Dinas Kesehatan Kota Surabaya menunjukkan bahwa obat nyamuk bakar tetap menjadi pilihan utama di 58 persen rumah tangga, diikuti obat nyamuk listrik yang sudah mencapai 27 persen — angka lebih tinggi dari rata-rata nasional karena daya beli masyarakat kota yang lebih baik.
Sementara cairan semprot atau aerosol dipakai oleh 9 persen rumah tangga, dan losion pengusir nyamuk oles ke kulit hanya sekitar 6 persen, umumnya untuk anak-anak atau saat beraktivitas di luar rumah.
Dinas Kesehatan Surabaya juga mencatat bahwa lebih dari 95 persen rumah tangga di kota ini selalu menyediakan minimal satu jenis obat nyamuk di rumahnya — dan alasan utamanya bukan sekadar terganggu dengungan, melainkan ancaman nyata penyakit.
Sepanjang tahun 2025, tercatat 3.217 kasus demam berdarah di Surabaya, angka yang membuat kesadaran dan kewaspadaan masyarakat tetap tinggi setiap tahun.
Namun ada biaya lain yang tidak tercantum di harga beli obat nyamuk itu sendiri.
Penelitian gabungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga bersama Dinas Kesehatan Surabaya yang diterbitkan tahun 2025 menemukan bahwa dari setiap lima rumah tangga yang rutin memakai obat nyamuk bakar setiap malam.
Satu rumah tangga di antaranya melaporkan keluhan berulang berupa pusing, batuk kering, atau sesak napas ringan pada anggota keluarganya.
Penelitian ini juga mengukur kadar partikel halus PM2,5 di ruangan tertutup setelah obat nyamuk bakar menyala selama 8 jam — dan hasilnya menunjukkan konsentrasi yang melebihi ambang batas kualitas udara dalam ruangan yang ditetapkan WHO.
Zat aktif yang paling banyak dipakai di seluruh produk tersebut adalah deltametrin dan sipermetrin — jenis racun saraf yang dikembangkan untuk serangga, namun ketika dibakar dan tercampur dengan udara ruangan tertutup, dampak jangka panjang terhadap sistem pernapasan manusia masih terus diteliti.
Membatasi Racun
Kementerian Kesehatan RI melalui Keputusan Menteri Kesehatan No. HK.02.02/ MENKES/ 512/ 2015 memang telah menetapkan batas maksimal kadar bahan aktif tersebut, namun peringatan agar tidak menghirupnya secara langsung dan tidak menyalakannya di ruangan yang sangat sempit dan tertutup rapat — sering kali terabaikan demi menjaga agar asapnya tidak hilang ke luar.
Selama nyamuk masih berkembang biak di air genangan di sekitar kita, dan selama kasus demam berdarah masih muncul dari satu lingkungan ke lingkungan lain — maka obat nyamuk akan tetap menjadi barang yang wajib ada di setiap rumah.
Pertanyaannya kini hanya satu: apakah yang kita pakai saat ini adalah satu-satunya cara, atau ada cara lain yang sama efektifnya tetapi tidak mengharuskan kita menghirup apa pun yang kita lepaskan ke udara di dalam rumah kita sendiri.**











