Menu

Mode Gelap

Nasional

Menelisik Akar Terorisme (28): Machiavelli Kagumi Casare Borgia

badge-check


					Ilustrasi. Foto: ist Perbesar

Ilustrasi. Foto: ist

Penulis: Jacobus E. Lato  |  Editor: Hadi S. Purwanto

SWARAJOMBANG.COM— Hingga Revolusi Perancis meledak, teror tidak memiliki banyak defenisi. Merupakan metode penggunaan kekerasan untuk menakuti-nakuti para penguasa dan bawahan mereka supaya bisa menjarah, meraup dan mempertahankan kekuasaan.

Satu-satunya filsuf tentang teror adalah Machiavelli, yang mengagumi teknik-teknik Cesare Borgia. Ia bahkan melukiskan kekejaman tokoh pujaannya itu demi keuntungan para pangeran masa datang.

Namun, seiring adanya “Teror” yang dijalankan kaum Jacobin di Prancis setelah tahun 1792, politik kekerasan revolusioner terungkap. Ia menginformasikan konspirasi dua tirani utama Rusia dan Cina serta lusinan pemerintahan lainnya.

Sejarah “Teror” dapat dilacak, terkait dengan cara sejarah Eropa, sebelum dan sesudah Robespiere, bukan sebelum dan sesudah Kristus.

Bagi Academie Francaise, teror pertama-tama merupakan emosi yang disebabkan oleh pendekatan jahat atau berbahaya. Suatu shock, suatu ketakutan yang luar biasa. Tetapi yang kedua, teror merupakan kekerasan dan kejahatan sistematis yang dilakukan dengan tujuan menakut-nakuti kelompok perorangan.

Istilah ini membedakan pihak yang diteror dan para teroris yang mengatur jumlah kekerasan mereka, yang kadangkala — diakui sebagai sekedar propaganda kejahatan atau pembunuhan sasaran-sasaran yang dipilih; namun dapat mengakibatkan sikap buas massal, seperti pada Pembantaian Hari Raya St. Bartolomeus.

Tujuannya adalah memprovokasi tingkat ketakutan antarmanusia yang diperlukan para pelaku konspirasi untuk meraih tujuan politis mereka.

Meski kacau, dilihat dari pertimbangan dan perencanaannya, “teror“ Revolusi Perancis sangat luar biasa dibandingkan dengan semua penyebaran teror sebelumnya.

Tidak ada pelopor ideologi baru yang demikian. Teror ala Perancis melontarkan adanya supremasi akal budi, kekuataan kehendak yang tanpa batas dan perubahan masyarakat tanpa batas melalui aksi-aksi yang tanpa henti.

Meski demikian, pada tahun 1789, ketika revolusi dimulai, tujuan para pemimpin Masonik Third Estate lebih kecil dibanding tujuan akhir para pemimpin revolusioner Amerika, yang berniat meraih kebebasan, tanpa terlampau memperhitungkan kesamaan derajat, dan akhirnya rasa aman untuk memiliki kekayaan.

Seiring munculnya Rasa Takut Luar Biasa dari para perompak dan konspirator aristokat, yang mengarah kepada upaya mempersenjatai milisi perkotaan dan pedesaan, maka sejak tahun 1789, pengawasan dari Third Estate mulai menghilang. Meskipun demikian, sejumlah markas militer dijaga dengan baik oleh berbagai kesatuan bersenjata, sebelum pasukan revolusi hasil improvisasi para penguasa monarki Austria dan Prusia serta Spanyol mengalami serangkaian kekalahan yang menimbulkan rasa takut yang sangat luas terhadap adanya kudeta yang dilancarkan kelompok-kelompok bangsawan yang setia, khususnya di Perancis selatan,

Seperti ditulis oleh sejarahwan Inggeris, Frode, “Ketakutan merupakan induk kekejaman.” Masyarakat aman dengan pemimpin yang sah sedikit sekali membutuhkan patokan-patokan kaku.

Tetapi terlepas dari logis atau tidak, “teror” memang menjadi respons terencana ketika pemerintah radikal Perancis yang baru berdiri takut terhadap ancaman musuh, baik dari dalam maupun dari luar pintu gerbang istananya. Seperti diamati Salust dari Roma dalam bukunya Catalina, “Ketakutan menutup telinga pikiran manusia.”

Selama revolusi dan dua ratus tahun berikutnya, debat penuh kemarahan yang meledak-ledak seputar pentingnya taktik keji Robespiere dan kaum Jacobin pun muncul. Semua orang yang menulis tentang aksi-aksi ini mengatakan taktik-taktik itu tidak perlu dan tidak dapat dipertahankan.

“Setiap panen membutuhkan sabitnya,” tegas Alphonse Esquiros. “Revolusi Prancis membutuhkan teror.” Pendapatnya ini ditentang oleh para Encyclopediste dan filsuf Benyamin Constant, yang bertujuan “menunjukkan bahwa republik itu aman meski ada terror.”

Bagi Yoseph de Maistre, para aristocrat yang diangkut dengan pedati menuju tempat pembantaian dan penggunaan keadilan sumir lewat pengaduan yang tidak adili, memang diperlukan.

Pemandangan mengerikan baik bagi moral. Orang miskin pun kini dipersiapkan untuk bersedia bertempur di medan perang dan menghancurkan gerakan kontrarevolusi yang muncul. Ketakutan menjadi respon improvisasi terhadap serangan dan konspirasi asing dalam negeri; menjadi sarana kemenangan terorganisasi.

Albert Sorel mencatat adanya kontradiksi yang berhasil: “Tiang gantungan serta tentara dan pemerintahan yang membasmi, demikian juga para pahlawan yang mengorbankan nyawa mereka.” (Bersambung)

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Buka Permata CAI 2026 di Wonosalam, Gibran: Pemuda Harus Punya Jiwa Mandiri

29 Juni 2026 - 15:34 WIB

WHO: 1.300 Kematian Sejak 21 Juni 2026, Suhu di Prancis Dekati 44°C

29 Juni 2026 - 11:55 WIB

Korban Unggah Foto dan Video di Medsos, Pengacara: Saya Dapat Info Polisi Sudah Tangkap Pria di CCTV Juanda

29 Juni 2026 - 11:02 WIB

Budi Wijaya Mainkan Lakon: Lahirnya Soekarno Putra Sang Fajar, Pengobat Kangen Ludruk Tampil di Pulolor Jombang

29 Juni 2026 - 10:32 WIB

Bertemu Eri Cahyadi, Binhad dan Kuswartono Serahkan Dua Buku Bukti Bung Karno Lahir di Ploso Jombang 1 Juni 1902

28 Juni 2026 - 17:27 WIB

Kerjasama Swiss-UEA Hasilkan Mesin Jet AI Kecepatan 28.000 Km/ Jam

28 Juni 2026 - 13:41 WIB

Dua Pakar Ortopedi Malaysia Nyatakan Robot Hanya Membantu, Peran Dokter Ahli Tetap Penentu

28 Juni 2026 - 13:01 WIB

Menelisik Akar Terorisme (27): Kaum Illuminati dan Revolusi Prancis

27 Juni 2026 - 16:49 WIB

Pemilik Percetakan Merantai 3 Karyawan, Dituduh Mencuri dan Dimintai Tebusan Rp50 Juta/Orang

27 Juni 2026 - 16:30 WIB

Trending di Nasional