Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
SWARAJOMBANG.COM— Ketika masih hidup buas dalam gua dan hutan, kita takut kepada binatang buas dan penyakit sampar.
Beruang dan harimau serta serigala menjadi teror bagi masyarakat primitif. Tidak ada yang kebal terhadap epidemi yang menghancurkan atau menghilangkan banyak sekali peradaban awal itu.
Tikus dari kawasan Asia membawa kutu-kutu penyakit sampar yang membinasakan sebagian besar penduduk Eropa dari masa ke masa.
Virus itu selalu lebih mematikan dibanding pedang atau tombak.
Sampar membunuh lebih banyak orang dibanding tentara.
Kapal dan pasukan perompak yang berkeliaran membawa serta penyakit mematikan itu.
Serangga tifus menjadi senjata mematikan bagi para awak perompak dan skuadron tentara.
Cacar air membantu Cortez dan Pizarro ketika menaklukkan kekaisaran Aztek dan Inca. Kontaminasi penyakit jauh lebih kejam menyerang pasukan yang unggul dibanding sarana-sarana lainnya di lapangan.
Seperti dkumandangkan dalam Kitab Imamat dalam sebuah pesan dari Allah: ‘Saya bahkan akan mencurahkan atas kalian rasa takut, kekuatan pemusnah diiukuti rasa panas menyengat yang memusnakan mata, dan membangkit rasa sedih. Dan kalian pun akan sia-sia menaburkan benih-benih kalian, karena musuh-musuhmu yang akan menikmatinya.’
Sampar yang melanda Mesir kuno dan memungkinkan keberangkatanya suku-suku Israel yang dikisahkan dalam Kitab Keluaran, memperlihatkan adanya teror biologis.
Allah memerintahkan Imam Agung Harun memukulkan tongkatnya guna menjernihkan air.
Air itu kemudian berubah menjadi darah, ikan-ikan mati, dan sungai pun penuh dengan polusi. Bencana kodok dan lintah muncul, menimbulkan lebih banyak penyakit lagi setelah Haruan memukulkan tongkat besinya ke atas debu.
Bencana itu masih diikuti munculnya kawanan lalat yang menghancurkan tanah. Penyakit ternak membunuh kawanan bangsa Mesir, sementara binatang liar bangsa Yahudi justru kebal terhadap penyakit itu.
Kemudian, bencana panas terik melanda, diikuti api turun dari langit, kemudian hama belalang dan gerhana panjang serta matinya anak-anak pertama di Mesin.
Bersamaan dengan rangkaian bencana ini, Firaun membiarkan Musa memimpin bangsanya melewati Laut Merah menuju Tanah Terjanji.
Penguasa Mesir kemudian mengejar mereka sehingga menghancurkan dirinya sendiri, menyaksikan dalam ketakutan-ketakutan ini pekerjaan manusia dan tangan Allah.
Walaupun senjata-senjata biologis benar-benar terjadi dilukiskan dalam Kitab Keluaran (Kitab pertama dalam Alkitab Kristen), namun tentu saja penyebaran penyakit yang dikumpulkan Xerxes memungkinkan kebudayaan Yunani berkembang terus lewat perang dan disentri.
Pada 428 sebelum masehi, pada masa pengepungan Plataea, bangsa Sparta menciptakan gas beracun dengan cara membakar hutan-hutan yang ditembakkan dengan bola-bola api dan sulfur di bawah tembok-tembok kota.
Perkembangan kemudian adalah munculnya bom napalm—-selanjutnya oleh pasukan Helenis dengan nama ‘Api Yunani.’ Juga untuk pertama kalinya projektil nyala api digunakan dalam peperangan laut.
Sampar menghancurkan pasukan Kartago sebelum Syracusa dan akhirnya membawa kemenangan bagi Romawi melawan kota Punika, ketika setiap bangunan dihancurkan kemudian di atas reruntuhannya disirami garam.
Belakangan, bangsa Roma sendiri yang justru diserang habis-habisan oleh bakteri ketimbang diserang oleh para penyerang yang jahat.
Sebagaimana dituliskan oleh Gibbon tentang kejatuhan kekaisaran itu, ‘Wabah penyakit sampar disertai bencana kelaparan berperan memenuhi takaran bencana Romawi.’ (Bersambung)











