Menu ✖

Mode Gelap

Ekonomi

Ketua Kadin: Pelaku Usaha Seperti Ayam Petelur Stres

badge-check


					Pengurus Kadin usai bertemu Luhut Perbesar

Pengurus Kadin usai bertemu Luhut

Penulis: Mulawarman  | Editor: Yobie Hadiwijaya

JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM-Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie mengaku telah bertemu Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan, untuk mengusulkan sejumlah relaksasi kebijakan agar pelaku usaha mendapat ruang bernapas.

Anin menganalogikan, kondisi pelaku usaha saat ini seperti ayam petelur yang sedang stres. Hanya saja, pengusaha mengalami kondisi itu karena tekanan global, termasuk dampak perang dan lonjakan harga energi.

“Dan tadi juga pagi kami bertemu dengan Ketua DEN Pak Luhut. Kami mengatakan analoginya Pak ini kalau pengusaha itu ayam, ayam petelor. Ini lagi stres sejak perang, lagi takut,” kata Anin di Rakornas Kadin Bidang Dagang, Kamis (30/4/2026).

Ia menjelaskan, yang dimaksud “napas” adalah kelonggaran kebijakan di berbagai sektor. Misalnya relaksasi kredit dengan skema pembayaran bunga lebih dulu, penangguhan pajak bahan bakar minyak (BBM), hingga pajak ekspor. Menurutnya, langkah-langkah itu bisa menjadi bantalan sementara agar pelaku usaha tetap bertahan.

“Napasnya ya berikanlah kelonggaran-kelonggaran disana sini. Misalnya relaksasi kredit, bayar bunga dulu. Tapi pokoknya bertahap. Lalu penangguhan pajak BBM. Lalu juga penangguhan pajak ekspor,” ujarnya.

Tak hanya itu, Kadin juga menyoroti perlunya membuka sumbatan di sektor perdagangan dan industri. Beberapa di antaranya menyangkut kemudahan ekspor, kepastian perizinan seperti Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), hingga penyesuaian aturan larangan dan pembatasan (lartas).

“Lalu juga kita ingin buka sumbatan. Supaya kita bisa istilahnya mulai sedikit ofensif,” kata Anindya.

“Dan tadi juga pagi kami bertemu dengan Ketua DEN Pak Luhut. Kami mengatakan analoginya Pak ini kalau pengusaha itu ayam, ayam petelor. Ini lagi stres sejak perang, lagi takut,” kata Anin di Rakornas Kadin Bidang Dagang, Kamis (30/4/2026).

Ia menjelaskan, yang dimaksud “napas” adalah kelonggaran kebijakan di berbagai sektor. Misalnya relaksasi kredit dengan skema pembayaran bunga lebih dulu, penangguhan pajak bahan bakar minyak (BBM), hingga pajak ekspor. Menurutnya, langkah-langkah itu bisa menjadi bantalan sementara agar pelaku usaha tetap bertahan.

“Napasnya ya berikanlah kelonggaran-kelonggaran disana sini. Misalnya relaksasi kredit, bayar bunga dulu. Tapi pokoknya bertahap. Lalu penangguhan pajak BBM. Lalu juga penangguhan pajak ekspor,” ujarnya.

Tak hanya itu, Kadin juga menyoroti perlunya membuka sumbatan di sektor perdagangan dan industri. Beberapa di antaranya menyangkut kemudahan ekspor, kepastian perizinan seperti Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), hingga penyesuaian aturan larangan dan pembatasan (lartas).

“Lalu juga kita ingin buka sumbatan. Supaya kita bisa istilahnya mulai sedikit ofensif,” kata Anindya.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

ESDM Tegaskan Harga Tetap, Isu Pertalite Naik Hoaks

25 September 2026 - 21:41 WIB

Aquarium Underwater Rp120 M, akan Dibangun Jatim Park Group-Investor Malaysia

24 September 2026 - 20:18 WIB

PHPS: Telur Ayam Ras Rp30.100, Cabai Rawit Tembus Rp100 Ribu Per Kilogran

24 September 2026 - 20:05 WIB

Pemerintah Siapkan Rp3,8 T, untuk Warga Usia 17 Tahun Berupa Rekening Rp50 Ribu

23 September 2026 - 20:11 WIB

Pasokan Gas Terbatas PHK Massal Bayangi Industri Keramik Jatim

22 September 2026 - 20:40 WIB

Beras Fortifikasi Menyumbang Kenaikan Harga

21 September 2026 - 19:06 WIB

Kuwalahan Permintaan, FIlipina Stop Ekspor Ubi Ungu, Peluang Emas Indonesia

20 September 2026 - 18:32 WIB

Harga Emas Jadi Rp2,623 Juta Per Gram, Naik Rp25.000

18 September 2026 - 20:31 WIB

PPn Dipastikan 11 Persen, Tidak Naik

18 September 2026 - 20:11 WIB

Trending di Ekonomi