Menu ✖

Mode Gelap

Nasional

BRIN akan Riset Kekuatan Tak Terlihat di Perlintasan KA

badge-check


					Kekuatan tak terlihat bikin mobil mogok Perbesar

Kekuatan tak terlihat bikin mobil mogok

Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya

JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM-Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia mempercepat studi tentang bantalan rel komposit karet dan interferensi magnetik untuk meningkatkan keselamatan kereta api, menyusul tabrakan kereta api dahsyat di Bekasi yang menewaskan sedikitnya 14 orang.

Inisiatif penelitian ini merupakan respons teknis langsung terhadap kecelakaan tragis pada Senin di Stasiun Bekasi Timur, di mana kereta ekspres Argo Bromo Anggrek bertabrakan dengan kereta komuter (KRL), kata Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian di sini pada Selasa.

Di luar korban jiwa langsung—yang mencakup 84 luka-luka—bencana tersebut telah menyoroti kerentanan infrastruktur yang mendesak.

Octavian menegaskan bahwa BRIN memprioritaskan “bantalan rel komposit berbahan dasar karet untuk meningkatkan keselamatan dan umur layanan infrastruktur kereta api” sambil mengembangkan sistem perlindungan otomatis yang terintegrasi langsung dengan operasi kereta api.

Sebagian besar investigasi berfokus pada kekuatan tak terlihat yang berperan selama perlintasan.

Octavian mencatat bahwa sistem kelistrikan besar di dalam lokomotif menghasilkan medan magnet yang kuat yang dapat mengganggu lalu lintas di sekitarnya, khususnya kendaraan listrik modern.

“Medan magnet merambat di sepanjang kereta; kita perlu meneliti bagaimana menetralkan medan ini di sekitar rel agar tidak mengganggu kereta yang lewat,” jelasnya.

Tabrakan pada Senin malam telah menyebabkan gangguan signifikan pada jaringan transit metropolitan Jakarta.

Operator kereta api negara PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengkonfirmasi bahwa meskipun beberapa jalur telah dibuka kembali, layanan di Bekasi Timur tetap terbatas.

Layanan kereta komuter saat ini berakhir di Stasiun Bekasi dan melewati lokasi kecelakaan, sementara pos komando darurat dan informasi juga telah didirikan untuk membantu keluarga dalam mengidentifikasi korban.

KAI berjanji untuk menanggung semua biaya medis dan pemakaman bagi mereka yang terkena dampak karena Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mulai mengevaluasi apakah insiden tersebut disebabkan oleh kesalahan manusia, kegagalan teknis, atau masalah persinyalan.

Kementerian Perhubungan Indonesia sebelumnya melaporkan bahwa bencana dimulai ketika sebuah mobil mogok di perlintasan sebidang, memaksa kereta komuter (KRL) berhenti untuk evakuasi. Hal ini menciptakan penumpukan, menyebabkan kereta komuter kedua berhenti di Stasiun Bekasi Timur, di mana kemudian ditabrak dari belakang oleh kereta ekspres Jakarta-Surabaya Argo Bromo Anggrek.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

SPPG di Bawang Batang Langgar SOP: 589 Anak dan Ibu Keracunan, 127 Korban Masih Dirawat

27 September 2026 - 20:22 WIB

Polisi, Komdigi dan Praktisi Talkshow ‘Jangan Asal Viral’ Peluncuran Media APPI di Surabaya

26 September 2026 - 23:07 WIB

Lima Kebohongan Kalapas Cibinong Saat Disidak Ombudsman dan Inspektur Jenderal Imipas

26 September 2026 - 22:12 WIB

Inspektur Imipas Nonaktifkan Lima Pejabat LP Cibinong, Pasca Sidak Ombudsman

26 September 2026 - 18:40 WIB

Yusril Dorong Ombudsman Buka seluruh Temuan dan Izinkan Jurnalis Masuk LP CIbinong

26 September 2026 - 17:56 WIB

Komdigi Bantah Surat Pemadaman Internet Nasional 3 Hari

25 September 2026 - 21:23 WIB

451.000 Nyawa di Dunia Terancam Melayang Akibat Gelombang Panas Super El Niño

25 September 2026 - 21:06 WIB

O Smach RS Misterius untuk Ambil Organ Migran secara Paksa, Ada Ruang Mirip Markas Polri

25 September 2026 - 19:40 WIB

Komisi C DPRD Jombang Soroti Proyek Revitalisasi 120 PAUD- SMP Anggaran Rp77,5 Miliar

25 September 2026 - 12:32 WIB

Trending di Nasional