Menu

Mode Gelap

Nasional

Bisnis Online hingga Trainer Paruh Waktu Masuk Radar DJP

badge-check


					Bisnis Online hingga Trainer Paruh Waktu Masuk Radar DJP Perbesar

Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya

JAKARTA, SWARAJOMBANG.COM-Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memperluas strategi penggalian potensi penerimaan melalui ekstensifikasi wajib pajak, termasuk menyasar aktivitas ekonomi tambahan seperti bisnis online hingga penghasilan sampingan yang belum dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan (SPT).

Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto mengatakan otoritas pajak menemukan cukup banyak wajib pajak yang sebenarnya memiliki aktivitas ekonomi, tetapi belum melaporkannya secara lengkap.

“Wajib pajak yang sudah ada itu juga kita lihat banyak yang tidak melaporkan data-data yang kami miliki. Itu bagian dari ekstensifikasi kami,” ujar Bimo dalam Media Briefing, Jumat (6/3/2026).

Menurutnya, DJP akan mengonfirmasi aktivitas ekonomi tersebut melalui mekanisme Surat Permintaan Penjelasan atas Data dan/atau Keterangan (SP2DK).

Melalui langkah ini, wajib pajak yang diketahui memiliki kegiatan ekonomi tetapi belum menyetor pajak akan diminta memberikan klarifikasi.

“Wajib pajak yang sebelumnya belum setor pajak tetapi kami ketahui ada aktivitas ekonominya, kami konfirmasi dengan SP2DK. Kemudian mereka menyetorkan perpajakan atas aktivitas ekonomi yang mereka lakukan,” katanya.

Selain itu, DJP juga menemukan potensi pajak dari sekitar 6 juta wajib pajak berstatus non-efektif yang masih memiliki indikasi aktivitas ekonomi. Data tersebut saat ini sedang melalui proses pembersihan (cleansing) untuk memastikan validitasnya.

Bimo menjelaskan, sebagian dari kasus tersebut berkaitan dengan skema family tax, seperti suami istri yang sebelumnya memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) terpisah namun kemudian digabung.

Namun di luar itu, DJP juga menemukan adanya penghasilan tambahan yang sering kali tidak dilaporkan oleh wajib pajak. Misalnya pegawai yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai trainer, pengajar paruh waktu, atau menjalankan usaha online.

“Kadang-kadang kita lupa, misalnya saya pegawai negeri bekerja di kementerian, tetapi juga menjadi trainer paruh waktu ketika weekend di universitas tertentu. Itu kan dapat penghasilan, ada bukti potongnya. Nah itu masuk datanya ke kami,” imbuh Bimo.

Selain penghasilan tambahan dari profesi sampingan, DJP juga memperoleh data dari aktivitas perdagangan melalui sistem perdagangan melalui elektronik (PMSE).

Bukti potong dari transaksi digital tersebut menjadi salah satu sumber data yang digunakan untuk mengidentifikasi potensi pajak.

“Jadi ada juga yang mungkin melakukan kegiatan sampingan bisnis online dan segala macam, kita dapat bukti potongnya dari PMSE misalnya,” pungkasnya. ***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Menelisik Akar Terorisme (59): Masyarakat Rahasia Tiongkok

21 September 2026 - 22:45 WIB

Pendukung Mengamuk di PN Tipikor Semarang saat Jaksa Ajukan Tuntutan 8 Tahun dan 6 Bulan terhadap Sudewo

21 September 2026 - 22:25 WIB

Jejak Gatot Heroe Pejabat BC Garong Negara: Simpan Valuta Rp2,8 M di Plafon Rumah Madyopuro Malang

21 September 2026 - 21:03 WIB

Bahlil Siapkan Strategi Olah Batu Bara Jadi BBM

21 September 2026 - 19:21 WIB

Walikota Tebingtinggi Copot 5 Kepsep SDN, karena Tolak Serahkan Proyek Revitalisasi Senilai Rp2,44 M

21 September 2026 - 18:16 WIB

Diduga Gunakan Sistem Ponzi Rekrut 4.000 Jamaah Umrah, PT Annisa Ahmada Wajib Kembalikan Dana Rp120 M

21 September 2026 - 10:36 WIB

100 Tahun Pondok Gontor, KH Abdullah Sahal: Bapak Presiden, Kami Tetap Memilih Pendidikan!

20 September 2026 - 23:48 WIB

AI Menghabiskan Miliaran Air dan Listrisk Setara Jepang

20 September 2026 - 17:56 WIB

Rudal Houthi Serang Riyadh, Rudal Sasar Bandara King Khaled dan Meledak di Fasilitas Aramco

20 September 2026 - 09:09 WIB

Trending di Nasional